Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Showing posts with label Energi. Show all posts
Showing posts with label Energi. Show all posts

Saturday, September 24, 2011

Energi Listrik Hibrid dari Pantai Pandansimo

Teknologi ini memanfaatkan potensi sumber daya angin laut dan angin darat.

petani garam manfaatkan kincir angin (Antara/ Saiful Bahri)

VIVAnews
- Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (RISTEK) tengah mengembangkan pemanfaatan energi listrik hibrid dari hasil potensi energi angin dan energi panas matahari di pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta.

Terdapat 35 unit turbin angin yang sudah dipasang dengan tinggi rata-rata 18 meter . Terdiri 26 turbin angin dengan kapasitas 1 kW, 6 turbin angin 2,5 kW, 2 turbin angin 10 kW, dan satu turbin angin 50 kW. Ditambah 175 unit sel surya dengan kapasitas 17,5 kWp.

Rahmawan Budiarto, anggota tim peneliti, mengatakan teknologi tersebut memanfaatkan potensi sumber daya angin laut dan angin darat di pantai Pandasimo Bantul yang memiliki kecepatan rata-rata 3-4 meter/detik dan intensitas sinar matahari yang besar dan tetap.

“Kekuatan kecepatan angin di Pandansimo termasuk rendah, sehingga dikombinasikan dengan energi sel surya. Dari keduanya, setiap hari hasilkan 130 kW,” kata Rahmawan, Yogyakarta, Jum'at 23 September 2011.

Instalasi turbin dan sel surya yang sudah terpasang akhir tahun lalu tersebut, kata Rahmawan, telah dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pantai guna produksi listrik untuk menghidupkan mesin es untuk produksi es balok yang sering dimanfaatkan para nelayan.

“Untuk sementara ini, pemanfaatan energi listrik hibrid ini sepenuhnya untuk membantu pengembangan ekonomi masyarakat nelayan dan petani sekitar,” ujarnya.

Bambang Susilo, salah satu anggota tim pengembangan ekonomi berbasis energi mandiri, menuturkan timnya tengah memanfaatkan energi listrik hibrid untuk mengangkat air dari sumur renteng melalui mesin pompa air. Air tersebut selain mengairi 40 kolam yang masing-masing berukuran 8x4 meter juga dimanfaatkan untuk menyiram tanaman untuk kegiatan pertanian di lahan marjinal.

“Air dari kolam, tiap pagi dinaikin lewat pompa air. Limpahan kotoran air dari kolam ini digunkan untuk menyiram tanaman cabe dan terong, dan bayam” ungkapnya.

Sementara untuk produksi es balok, kata Bambang, saat ini sepenuhnya dikelola oleh kelompok masyarakat sekitar. Tiap hari sekitar 70-100 es balok yang dijual ke nelayan dengan harga Rp 1000 per satu es balok.

Laporan : Erick Tanjung l Yogyakarta, umi



• VIVAnews
READ MORE - Energi Listrik Hibrid dari Pantai Pandansimo

Thursday, August 25, 2011

Biofuel Generasi Kedua, Dari Rumput dan Limbah

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pipa dan tangki stainless steel tersusun rapat dalam kolom setinggi 4lantai di sebuah pilot plant Pusat Penelitian Kimia, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Banten. Dalam struktur rumit itu, para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengubah kayu, jerami, dan rumput menjadi bahan bakar.

"Pilot plant ini bagian dari tren baru dunia dalam menciptakan bioenergi dari bahan nonpangan, menghasilkan pengganti bensin generasi kedua," ujar peneliti bioetanol dari Pusat Penelitian Kimia, LIPI, Yanni Sudiyani, kepada Tempo pekan lalu.



Berbeda dengan bioetanol generasi pertama yang dihasilkan dari pati, misalnya dari tanaman singkong, tebu, atau jagung, yang teknologi prosesnya mudah. Bioetanol generasi kedua berasal dari biomassa limbah pertanian atau kehutanan.



Biomassa bahan selulosa atau lignoselulosa memerlukan teknologi yang prosesnya sangat sulit karena perlu perlakuan awal atau pretreatment. Teknologi pengembangan bioetanol yang menjadi campuran bahan bakar premium generasi kedua untuk saat ini masih banyak kendala dan masih terbilang mahal.



Pengembangan bioetanol dari tumbuhan ini dipicu oleh krisis energi dunia. Menipisnya cadangan minyak dunia menimbulkan kekhawatiran akan ketersediaan energi.



Data Dewan Energi Nasional (DEN) memperlihatkan selang waktu 2006 hingga 2030, permintaan energi dunia meningkat hingga 45 persen sehingga dibutuhkan sumber energi alternatif selain bahan bakar fosil.



Peneliti kemudian melirik etanol sebagai bahan bakar alternatif. Etil alkohol bersifat tak berwarna, sedikit berbau, dan mudah terbakar.



Pembakaran etanol menghasilkan uap air dan karbon dioksida dalam jumlah relatif lebih rendah dibanding bahan bakar fosil. Rendahnya emisi karbon etanol membuat bahan bakar ini sebagai alternatif tepat pengganti bahan bakar fosil yang dituding sebagai sumber terbesar gas rumah kaca.



Dalam satu dekade terakhir, Brasil menjadi negara paling gencar menggenjot penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif. Negara yang memproduksi seperempat suplai gula global ini menjadi contoh bagaimana bioetanol dari tebu bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi manusia.



Sayangnya, energi alternatif ini terhambat masalah harga. Bahan baku pembuatan bioetanol umumnya berasal dari gandum, jagung, tebu, dan kentang yang menjadi sumber utama pangan dunia. Lonjakan harga komoditas ini membuat bioetanol tak ekonomis lagi.



Lignoselulosa yang berasal dari limbah berbagai tanaman pangan, berupa kayu, jerami, dan rumput, dianggap sebagai alternatif bahan baku bioenergi yang paling potensial. Dalam beberapa tahun terakhir, LIPI meneliti pemanfaatan lignoselulosa sebagai bahan baku pembuatan etanol.



Limbah rumput dan jerami kering serta kayu umumnya mengandung biomassa lignoselulosa, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Pada tumbuhan, kandungan lignoselulosa mencapai 90 persen total biomassa.



Untuk memanfaatkan biomassa ini, para peneliti LIPI harus memisahkan lignin atau zat kayu yang merupakan zat pengikat senyawa lain pada tanaman. Kandungan lignin bisa mencapai 15-30 persen. Proses delignifikasi inilah yang membuat pengolahan lignoselulosa berbeda dengan bioenergi yang bersumber dari pangan.



Setelah lignin dipisahkan, selulosa dan hemiselulosa bisa difermentasi menjadi zat gula yang kemudian diubah menjadi etanol. "Ada perlakuan awal khusus untuk memisahkan lignin dari selulosa dan hemiselulosa agar menghasilkan glukosa," kata Yanni.



Perlakuan awal dimulai dengan proses pencacahan bahan baku rumput, pelepah daun, dan jerami. Proses fisik ini dilakukan berulang-ulang sehingga bahan baku berubah menjadi bagian-bagian kecil.



Material yang telah halus tersebut diberi perlakuan kimia dengan asam atau basa. Bubur material dimasukkan ke dalam mesin hidrolisis agar lignin terpisah dari selulosa dan hemiselulosa. Pemisahan ini merupakan proses yang sulit mengingat struktur selulosa dan hemiselulosa terikat kuat dengan lignin.



Tahap berikutnya adalah hidrolisis enzimatis. Selulosa dan hemiselulosa dimasukkan ke dalam reaktor untuk mengambil sari patinya, gula-selulosa yang mengandung gula karbon 6 (C6) atau gula karbon 5 (C5), seperti xylose. Untuk memecah gula tersebut, diperlukan dua spesies bakteri berbeda, yaitu bakteri ragi (Sacharomyces cerevisae) untuk C5 dan bakteri coli, Pichia sp, untuk C6.



Glukosa hasil fermentasi ini selanjutnya diubah menjadi etanol menggunakan proses yang sama dengan pengolahan bahan bakar nabati dari zat pati yang berasal dari bahan pangan.



Menurut Yanni, LIPI pernah menguji bahan baku tandan kosong kelapa sawit untuk menghasilkan etanol. Proses dalam skala laboratorium menunjukkan 1 ton limbah padat ini bisa menghasilkan 151 liter etanol.



Bahan bakar dalam jumlah besar ini, kata dia, sangat potensial dikembangkan di Indonesia, mengingat negara ini menjadi salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Tak hanya kelapa sawit, biomassa lignoselulosa lainnya juga bisa diperoleh dari tanaman-tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia.



Jerami sebagai limbah tanaman padi juga bisa diolah menjadi etanol. Demikian pula limbah kayu hutan, yang bisa diolah menjadi energi hijau.



"Perlakuan awal khusus ini membuat harga bioetanol generasi kedua relatif lebih mahal," kata Yanni. "Namun, ongkos ini bisa ditebus ketika bahan bakar fosil semakin langka."



Haznan Abimayu, peneliti Puslit Kimia LIPI, mengatakan aneka pilihan sumber bahan baku energi terbarukan belum termanfaatkan di Indonesia. Sebut saja sisa merang atau batang padi dan ampas tebu. Dua limbah industri pertanian ini mencapai 230 juta ton setiap tahunnya. Jumlah ini bisa dikonversikan menjadi 17,618 miliar liter bioetanol.



Potensi lain berasal dari tanaman aren. Haznan memperkirakan produksi aren di Indonesia bisa dikonversi menjadi 11,7 miliar liter bioetanol setiap tahun. Begitu pula tanaman singkong, yang bisa menghasilkan 180 liter bioetanol untuk setiap hektare lahan per tahun.



"Selain berpotensi besar, tanaman-tanaman tersebut tidak dikonsumsi manusia sehingga pengolahannya tak akan mengganggu stok dan harga pangan nasional," ujar Haznan.



[ANTON WILLIAM]



• TEMPOInteraktif
READ MORE - Biofuel Generasi Kedua, Dari Rumput dan Limbah

Thursday, August 18, 2011

Korea Selatan Incar Biofuel Indonesia

TEMPO Interaktif, Jakarta - Korea Selatan sangat membutuhkan bahan bakar minyak nabati guna memenuhi target peningkatan porsi energi bersih hingga lima kali lipat konsumsi saat ini pada 2030. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Negeri Ginseng tersebut membidik Indonesia yang kaya akan sumber daya nabati sebagai salah satu pusat pengembangan dan produksi biofuel.



Kepala Bioenergy Research Center, Korean Institute of Energy Research, Jin-Suk Lee, mengatakan pemerintah Korea memahami permasalahan pemanasan global yang dihadapi masyarakat dunia. Pengurangan jejak karbon menjadi perhatian besar pemerintah. Salah satunya terletak pada sektor transportasi yang berkontribusi signifikan dalam pelepasan gas rumah kaca.

Alat transportasi yang ada di dunia selalu mementingkan mobilitas dalam setiap perancangannya. Batasan ini membuat pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi tak memiliki banyak pilihan energi alternatif.



“Bahan bakar nabati adalah satu-satunya pilihan energi bersih bagi kendaraan,” ujar Lee saat berceramah di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Kamis, 18 Agustus 2011.



Hingga 2030, Negeri Ginseng berharap bisa menggenjot penggunaan bahan bakar nabati yang saat ini mencapai 20 persen konsumsi energi nasional mereka. Sayangnya, negara itu miskin akan bahan baku energi, termasuk bahan baku nabati. Sekitar 90 persen bahan bakar berasal dari impor sehingga pencarian dan penelitian bahan bakar nabati harus dilakukan di luar negeri.



Indonesia menjadi negara bidikan Korea Selatan sebagai sumber bahan baku nabati dan lokasi penelitian. Sejak 2010, pemerintah Korea Selatan mengucurkan hibah penelitian sebesar US$ 2,2 juta untuk dana penelitian dan US$ 500 ribu untuk pembangunan laboratorium penelitian di Serpong. Hibah ini dikucurkan untuk kurun waktu tiga tahun berikutnya.



Penelitian di Indonesia berfokus pada pencarian bahan bakar nabati dari bahan selain pangan. Bahan bakar nabati seperti ini sedang menjadi perbincangan peneliti energi dunia setelah bahan bakar nabati dari bahan pangan menjadi mahal akibat tertekan lonjakan harga bahan makanan.



Proyek penelitian yang sudah setengah jalan ini berjalan dengan baik. Pabrik pengolahan dan produksi bahan bakar nabati nonpangan sudah hampir rampung. Demikian pula dengan peneliti dan operator yang sebagian besar ditarik dari tenaga Indonesia sudah matang untuk menjalankan pabrik. Pada tahun 2012, pabrik perintis bahan bakar nabati nonpangan ini akan beroperasi penuh.



“Pada tahun 2030, konsumsi bahan bakar nabati kami melebihi 1 juta kilo liter per tahun. Sumber ini harus kami kami penuhi, termasuk dengan menyokong pengembangan energi alternatif ini,” kata dia.



Korea Selatan sendiri mendukung penggunaan bahan bakar nabati habis-habisan, di antarannya dengan membuat pembebasan pajak bagi masyarakat yang menggunakan bahan bakar ini. Selain itu, paket subsidi juga sedang digodok agar semakin banyak masyarakat mengkonsumsi bahan bakar ramah lingkungan.



Di Indonesia, pemerintah masih kurang serius menggarap bahan bakar nabati. Kebijakan energi nasional yang diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2005 menargetkan 17 persen energi baru terbarukan menyumbang keseluruhan konsumsi energi nasional pada tahun 2025. Dari porsi tersebut, hanya 5 persen yang ditargetkan dari bahan bakar nabati.



Menurut anggota Dewan Energi Nasional Mukhtasor, kebijakan energi alternatif di Indonesia masih terkendala permasalahan harga dan birokrasi. Tingginya subsidi yang diberikan kepada bahan bakar minyak membuat harga bahan bahar nabati sulit bersaing. Sementara peta bauran energi nasional masih tersangkut pada polemik bahan bakar nuklir.



“Energi nuklir masih jadi perdebatan sehingga menghambat perjalanan energi alternatif lainnya,” kata Mukhtasor pada kesempatan terpisah.



Di Indonesia, tambah Mukhtasor, kesadaran bahan bakar nabati pernah meningkat pesat dalam kurun waktu 2006-2007. Namun, setelah masa keemasan tersebut, pemakaian bahan bakar ramah lingkungan ini menurun drastis.[ANTON WILLIAM]



• TEMPOInteraktif

READ MORE - Korea Selatan Incar Biofuel Indonesia

Friday, August 5, 2011

5 Mahasiswa UMY Kembangkan Listrik Surya


solarcell home system kreasi mahasiswa UMY

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Prihatin dengan kerapnya pemadaman listrik dari PLN yang berdampak buruk terhadap produktivitas pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), 5 mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan Solarcell Home System (SHS) sebagai sumber energi sekunder.

Kelima mahasiswa tersebut adalah Ilham Lutfil Anam, Adi wahyudianto, Afief Amrullah, M. Sholeh Masnawan, dan Fikri Ali. Nawawi. Menurut, Ilham Lutfil Anam, pelaku UMKM kerap mengeluhkan penurunan produktivitas akibat pemadaman bergilir. Selain itu, beban puncak di malam hari membuat para pelaku UMKM tidak dapat bekerja saat malam hari.

"Oleh karena itu diperlukan energi alternatif bagi para UMKM. Sehingga mereka dapat tetap bekerja ketika listrik sedang mengalami gangguan atau dalam proses perbaikan." kata Ilham, Jumat (5/8/2011).

"Kami membuat Solarcell Home System atau Sistem Listrik Surya Skala Kecil. Alat ini kami kolaborasikan dengan kinerja listrik dari PLN. Dengan kolaborasi ini, jika terjadi pemadaman listrik, pelaku UMKM tetap dapat bekerja," paparnya.

Cara kerja alat itu, dimulai dengan pemasangan panel surya. Sinar matahari akan ditangkap oleh panel surya. Kemudian energi sinar tersebut melalui Solar Charge regulator (SCR) tersimpan di batere. Saat listrik PLN mati, secara otomatis Automatic Transfer Switch (ATS) akan menyala.

"Sehingga listrik yang berasal dari batere kemudian melalui SCR akan mengalir ke inverter yang berfungsi mengubah tegangan DC menjadi AC, kemudian dialirkan untuk menggantikan energi listrik PLN," katanya.

"Perpindahan tersebut tidak membutuhkan waktu lama. Seperti halnya ketika menggunakan generator set (genset) yang masih memerlukan waktu untuk menyalakan listrik," kata Ilham lagi.

Berbagai keuntungan diperoleh dengan penggunaan sistem ini. Antara lain, potensi radiasi matahari di Indonesia yang tinggi dan merata memudahkan pemanfaatan metode ini. Selain itu, SHS juga tidak membutuhkan bahan bakar, serta ramah lingkungan karena bebas polusi udara dan suara.

Perawatan alat ini pun tergolong mudah dan sederhana. Sebab, dalam proses kerjanya tidak ada komponen yang bergerak. Karya ini telah diujicobakan di salah satu UMKM konveksi di Jawa Tengah.


• KOMPAS
READ MORE - 5 Mahasiswa UMY Kembangkan Listrik Surya

Saturday, July 23, 2011

AS Bersiap Bantu Proyek Geothermal di Indonesia

DENPASAR--MICOM: Pemerintah Amerika Serikat (AS) siap membantu negara Indonesia dalam menggarap energi panas bumi (geothermal) dengan mengembangkan infrastrukturnya seperti di negara-negara lain.

Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk bidang ekonomi, energi dan pertanian Robert D Hormats seusai kegiatan diskusi "Peranan Indonesia dalam Perekonomian Global" dengan mahasiswa di Gedung GDLN, Kampus Universitas Udayana, Jalan PB Sudirman Denpasar, Bali, Jumat (22/7).

"Kenapa tidak memanfaatkan sumber daya energi yang bersih dan terdapat di dalam wilayah negeri anda sendiri dan perusahaan- perusahaan kami dengan senang hati akan membantu Indonesia melakukan hal ini," katanya.

Lanjut Robert, "Perusahaan-perusahaan kami juga akan dengan senang hati membantu Indonesia untuk mengembangkan infrastrukturnya sehingga tetap dapat menyamai infrastruktur di Negara-negara lainnya, misalnya Cina."

Menurut Robert, di sejumlah daerah di Indonesia saat ini perlu memperbaiki infrastruktur yang ada seperti salah satunya teknologi broadband.

"Sejumlah daerah di Indonesia harus memperbaiki infrastruktur agar tidak ketinggalan, baik infrastruktur fisik maupun teknologi, seperti broadband," papar mantan Asisten Deputi Senior untuk Bidang Ekonomi dan Bisnis di Departemen Luar Negeri AS pada tahun 1977 hingga 1979 ini.

Robert menyebutkan, Indonesia memiliki potensi geothermal yang besar yakni 27.000 MW, hal itu memungkinkan perusahaan-perusahaan di negara Amerika untuk ikut mengembangkan potensi tersebut.

"Kami percaya ada sejumlah hal yang bisa dilakukan Indonesia terutama dalam hal perundang-undangan untuk lebih meningkatkan iklim investasi yang berkaitan dengan investasi di bidang geothermal. Ada sejumlah perusahaan Amerika yang bisa bekerjasama dengan Indonesia untuk melakukan hal ini. Dan ini merupakan hal yang ingin kami lakukan," katanya. (Ant/OL-2)


• MediaIndonesia
READ MORE - AS Bersiap Bantu Proyek Geothermal di Indonesia

Thursday, July 21, 2011

Peralatan Tenaga Surya Cocok untuk Pulau Kecil

SOLO--MICOM: Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun mengatakan peralatan dengan tenaga surya cocok diterapkan di pulau-pulau kecil di Tanah Air. Selain hemat, sinar matahari juga melimpah di wilayah itu.

"Saya tertarik dengan yang dipamerkan di Solo Technopark, berupa peralatan energi surya. Teknologi ini sangat cocok untuk warga kita yang tinggal di pulau-pulau kecil itu," katanya ketika meninjau Solo Technopark di Solo, Jawa Tengah, Rabu (20/7).

Ia mengatakan, puluhan juta penduduk Indonesia tinggal di pulau-pulau kecil. Oleh karena itu, ia akan minta para bupati di daerah kepulauan untuk studi banding ke Solo Technopark, agar mengetahui manfaat teknologi tenaga surya.

Alex yang didampingi Wali Kota Solo Joko Widodo beserta rombongan saat itu juga menyaksikan pengoperasian alat pengolah rumput laut, sejak proses pengeringan sampai menjadi tepung yang siap untuk dibuat berbagai macam makanan. Selain itu, juga menyaksikan proses pengelasan di dalam air.

Teknologi tenaga surya yang dipamerkan, antara lain pompa air tenaga surya yang mampu menyedot sampai kedalaman 50 meter, pengering rumput laut tenaga surya, sun rays yang menfaatkan tenaga surya untuk memanaskan air, serta beberapa mesin diesel yang menggunakan aneka ragam bahan bakar (solar, minyak jarak, minyak kelapa). (Ant/OL-01)



• MediaIndonesia
READ MORE - Peralatan Tenaga Surya Cocok untuk Pulau Kecil

Friday, June 24, 2011

Undip Ujicoba Energi Gelombang Laut

REPUBLIKA.CO.ID,SEMARANG--Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengujicobakan pemanfaatan energi gelombang laut untuk mendukung program pengembangan energi baru dan terbarukan.

"Pemanfaatan energi gelombang laut ini masih dalam uji laboratorium di pesisir selatan Pacitan," kata Rektor Undip Semarang, Sudharto P Hadi kepada wartawan, usai Rapat Kerja

Badan Kerja Sama (BKS) Perguruan Tinggi Negeri-Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jumat petang.

Menurut dia, pemanfaatan energi gelombang laut ini merupakan salah satu upaya Undip dalam mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia serta dalam rangka pelestarian lingkungan.

Ia mengatakan, selama ini pemanfaatan energi gelombang laut yang paling bagus adalah di Jepang. "Di Jepang sudah terbukti. Kita masih dalam tahap uji laboratorium," kata dia menegaskan.

Dalam hal ini, kata dia, uji coba pemanfaatan energi laut tersebut dilakukan Undip bersama Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.

Menurut dia, saat ini 95 persen energi yang digunakan di Indonesia masih berupa fosil, antara lain gas alam dan minyak.

"Sementara lima persen lainnya berupa air, angin, surya, biogas, dan biomassa. Nah, pemerintah menargetkan tahun 2025 itu, lima persen meningkat menjadi 17 persen. Itu bukan pekerjaan yang mudah," katanya.

Ia mengatakan, pemanfaatan energi baru dan terbarukan yang telah dikembangkan Undip berupa mikrohidro, biogas, dan biomas, antara lain di wilayah Pekalongan.


• Republika
READ MORE - Undip Ujicoba Energi Gelombang Laut

Monday, June 20, 2011

Habis Limbah Tahu Terbitlah Biogas

Pekerja memproduksi tahu di Desa Kalisari, Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (5/2). Saat ini puluhan pengusaha tahu di desa tersebut berusaha bertahan di tengah naiknya harga bahan baku kedelai dan minyak goreng. Tempo/Budi Purwanto

TEMPO Interaktif, Jakarta - Tumpukan tahu goreng khas Kalisari disuguhkan kepada rombongan Kementerian Riset dan Teknologi serta Bupati Banyumas, yang mengunjungi Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Mei tahun lalu.

Pada hari itu pemerintah daerah meresmikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) industri tahu yang telah diusahakan secara swadaya sejak 8 bulan sebelumnya.

Dua unit IPAL telah berdiri di perkampungan yang terkenal sebagai sentra penghasil tahu tersebut. "Proyek IPAL industri tahu di Banyumas adalah proyek percontohan untuk Indonesia," kata Arif Rahman, Kepala Bidang Penguasaan dan Pengembangan, Deputi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kementerian Riset dan Teknologi, kepada Tempo, dua pekan lalu.

Proyek yang masing-masing menelan biaya Rp 100 juta tersebut membawa misi penting: mengolah limbah air tahu menjadi ramah lingkungan sambil menangguk keuntungan ekonomi.

Selama ini warga Kalisari cemas akan limbah air tahu yang digunakan dalam proses pembuatan tahu. Hasil akhir proses pencucian sampai penumbukan kedelai tersebut mengandung gas berbahaya bagi lingkungan, seperti karbon dioksida, metana, sulfur, dan amoniak.

Air yang terkontaminasi gas beracun ini biasanya dialirkan begitu saja ke Sungai Kalisari, menyebar ke lahan pertanian dan peternakan ikan. Gas beracun tersebut menurunkan produktivitas pertanian dan perikanan warga desa lain.

Gas juga naik ke udara, menambah kandungan gas rumah kaca yang selama ini dikenal menjadi penyebab pemanasan global.

Pencemaran lingkungan oleh limbah air tahu ini terendus Kementerian. Di Indonesia, terdapat 84 ribu industri tahu dengan kapasitas produksi 2,56 juta ton per tahun.

Limbah yang dihasilkan produksi sebesar ini cukup signifikan mengganggu sektor usaha lain dan menyumbang pada pemanasan global. Delapan puluh persen industri tahu yang berada di Pulau Jawa menyumbangkan 0,8 juta ton CO2 ekuivalen setiap tahun.

Bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kementerian mengembangkan IPAL industri tahu yang bisa menetralkan limbah dan menjadi sumber energi. Kabupaten Banyumas dibidik sebagai proyek percontohan.


Cara Kerja IPAL
Prinsip kerja IPAL industri tahu cukup sederhana. Air limbah dari unit industri tahu dialirkan ke kolam penampungan melalui jaringan paralon. Tempat penampungan diletakkan pada sepetak tanah yang dihibahkan pemerintah daerah. Kolam itu mampu menampung 1,2 ton air limbah setiap hari. Dari kolam, air limbah dipompakan ke bioreaktor.

Bioreaktor pada IPAL industri tahu menerapkan mekanisme "fixed bed reactor". Bioreaktor dibuat dari sebuah tabung penampungan yang sebagiannya ditanam di dalam tanah.

Tabung-tabung bambu kecil sepanjang 10 sentimeter dengan diameter 5-10 sentimeter dijejalkan secara teratur di dalam tabung reaktor. Tabung-tabung ini berfungsi sebagai tempat menempelnya mikroba pengurai gas beracun. Semakin banyak bambu, semakin besar luas permukaan tempat menempelnya mikroba.

Mikroba pengurai yang digunakan berasal dari mikroba pengurai pada kotoran kerbau. Bakteri itu sanggup melakukan proses degradasi anaerobik senyawa organik.

Proses degradasi inilah yang menguraikan gas metana dan karbon dioksida dari air limbah. Air limbah kini bersih dari gas beracun dan aman untuk dialirkan ke sungai.

Perjalanan gas metana belum berakhir. Gas itu dialirkan ke ruang penampungan gas berupa tabung serat karbon yang ringan tapi kuat. Tabung ini bersifat fleksibel sehingga bisa mengembang hingga dua kali lipat jika gas yang dihasilkan lebih besar dari daya tampung awal. Daya tampung tabung penampungan gas mencapai 20 meter kubik.

Dari tabung penampungan, gas metana dialirkan ke rumah warga sehingga bisa dimanfaatkan sebagai biogas untuk keperluan memasak. Setiap hari IPAL Desa Kalisari menampung 625 kilogram air limbah dari 15 unit usaha tahu dan mampu mengalirkan biogas ke 25 rumah di desa tersebut.

Uniknya, pengaliran air limbah dan gas pada keseluruhan proses dilakukan dengan cara alami. "Memanfaatkan prinsip gravitasi dan tekanan," ujar Arif. "Jadi tidak perlu energi listrik."

Minimnya konsumsi energi untuk menghasilkan biogas dari limbah air tahu membuat masyarakat tak lagi mengeluarkan ongkos untuk membeli gas yang setiap bulan bisa mencapai Rp 50 ribu per rumah.

Meski demikian, masyarakat masih memiliki kewajiban menyumbang uang sebesar Rp 10 ribu per bulan guna perawatan IPAL. Uang itu digunakan untuk membayar seorang tenaga pengawas yang menjaga jaringan IPAL bebas dari kerusakan.

Kementerian Riset dan Teknologi juga memberikan pelatihan dan buku panduan kepada warga untuk merawat IPAL. Warga juga diminta membentuk Paguyuban Biolita (Biogas Limbah Tahu) yang bertugas melakukan perbaikan swadaya jika terjadi kerusakan IPAL.

Menurut Arif, IPAL industri tahu juga memiliki keuntungan daripada tabung gas. Gas yang dialirkan ke rumah melalui IPAL industri tahu memiliki tekanan kecil sehingga lebih aman dari potensi ledakan. Kemungkinan terburuk, seperti kebocoran pipa, bisa diatasi dengan menyertakan katup yang bisa mengisolasi kebocoran gas.

Dalam dua tahun terakhir, Kabupaten Banyumas telah memiliki tiga unit IPAL industri tahu yang dibangun di Desa Kalisari dan Ciroyom hasil binaan Kementerian dan BPPT. Kesuksesan pembangunan IPAL menarik minat pemerintah kabupaten. Rencananya, pemerintah daerah juga membangun unit pengolahan limbah ini di sentra industri tahu lain di Kabupaten Banyumas.

Arif mengatakan semangat pembangunan IPAL limbah tahu ini akan terus disebarkan ke sentra tahu di daerah lain, mengingat masih banyak industri tahu yang belum mengolah limbahnya, seperti di Tegal, Pekalongan, Semarang, Cilacap, Sumedang, dan Bandung.

"Membangun IPAL akan mengurangi racun yang beredar di air dan udara sambil menikmati energi murah meriah yang aman," ujar Arif.[ANTON WILLIAM]


• TEMPOInteraktif
READ MORE - Habis Limbah Tahu Terbitlah Biogas

Blog Archive