Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Showing posts with label LAPAN. Show all posts
Showing posts with label LAPAN. Show all posts

Saturday, September 24, 2011

Pengembangan INDOMI dengan Radar Terbesar


SHUTTERSTOCK
-Ilustrasi.

KOMPAS.com - LAPAN saat ini tengah menggiatkan pengembangan INDOMI (Indonesia Monsoon Index). Pengembangan dilakukan dengan Radar Atmosfer Khatulistiwa (RAK), radar terbesar dan terlengkap di khatulistiwa setelah MST (Mesosphere Stratosphere Thermospeher) Radar yang ada di India dan Peru.

Dr Eddy Hermawan, peneliti radar dari LAPAN mengatakan, bahwa INDOMI sudah dikembangkan sejak 2 tahun lalu dan masih berlangsung sampai sekarang. Tujuan pengembangan ini adalah melengkapi pemahaman tentang Monsoon yang berdampak pada iklim Indonesia dan global.

"Selama ini orang memahami Monsoon itu curah hujan, padahal sebenarnya berkaitan dengan angin. Lalu juga selama Monsoon itu dipahami di lapisan bawah atmosfer, padahal di lapisan atas," kata Eddy saat ditemui di gedung BPPT Jakarta, kemarin (22/9/20111).

Menurut Eddy, pemahaman mendasar tentang Monsoon tersebut harus diketahui masyarakat. Dengan demikian, RAK tidak hanya menghasilkan penemuan yang langsung bisa diaplikasikan tetapi lebih pada penguatan kapasitas.

Meski demikian, dengan pengembangan INDOMI, beberapa aplikasi praktis sudah terbayangkan. Misalnya memahami fenomena musim basah panjang dan kemarau panjang yang dalam konteks Indonesia berkaitan erat dengan angin barat dan angin timur.

"RAK bisa melihat pola angin secara 3D. Jadi, pergerakan angin bisa diketahui, lokasinya dimana dan waktunya kapan. Dengan adanya indeks Monsoon ini nanti kita bisa mengetahui kapan terjadinya musim basah panjang dan kemarau panjang," jelas Eddy.

10 Tahun Beroperasi RAK adalah radar terbesar di Indonesia yang ditempatkan di Kotatabang. Radar ini punya kelebihan sebab memiliki antena putar, didesain untuk mencitrakan secara 3D dan bisa memetakan fenomena elektromagnetik pada jarak hingga 100 km.

Radar ini adalah hasil kerjasma LAPAN dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) di Universitas Kyoto, Jepang. Hingga saat ini, RAK telah beroperasi selama 10 tahun.

Peringatan 10 tahun beroperasinya radar ini digelar kemarin di gedung BPPT Jakarta. Setelah 10 tahun beroperasi, beberapa hasil telah didapatkan.

"Dinamika atmosfer di ekuator dan prosesnya semakin banyak yang terkuak. Misalnya tentang plasma bubble, bagaimana naik ke atas," kata Mamoru Yamamoto, professor dari RISH.

Yamamoto menambahkan bahwa beberapa fenomena berhasil ditangkap RAK. "Contohnya, sebelum tsunami Aceh pada 26 Desember 2006, RAK menangkap dinamika atmosfer yang berbeda, meski masih perlu diteliti apakah hal tersebut betul-betul berkaitan dengan tsunami," tambah Yamamoto.

Saat ini, tengah ada proposal kerjasama RISH dan LAPAN lagi untuk menambah radar guna memahami lebih lanjut dinamika atmosfer. Radar tambahan itu 10x lebih sensitif dari RAK. Perwujudan proposal ini akan membantu memperluas pemahaman tentang dinamika atmosfer khatulistiwa.


• KOMPAS
READ MORE - Pengembangan INDOMI dengan Radar Terbesar

LAPAN: Indonesia Aman dari Satelit Jatuh

Berdasarkan laporan, UARS jatuh saat mengorbit di atas Samudera Pasifik.

Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) (space.com)

VIVAnews
-
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan Indonesia aman dari jatuhya puing-puing satelit Amerika Serikat, Upper Atmosphere Research Satellite (UARS). Lokasi jatuhnya satelit disinyalir terletak di Kanada.

"Indonesia aman dari puing-puing UARS. Karena berdasarkan laporan terakhir sudah jatuh di atas Samudera Pasifik," kata peneliti LAPAN, Thomas Djamaluddin kepada VIVAnews.com, Sabtu 24 September 2011.

Menurut Thomas, UARS terjatuh saat mengorbit pada 120 km di atas Pasifik. Satelit itu sebagian telah terbakar karena gesekan dengan atmosfer.

"Analisis orbit tengah hari tadi menyatakan satelit jatuh dan terbakar pada saat melewati wilayah Pasifik dan Kanada," kata dia.

"Jadi, laporan terakhir menyatakan satelit itu jatuh di sekitar Kanada. Hanya sekarang masih dicari bukti puing-puing itu apakah benar dari UARS," lanjut Thomas.

Satelit pemantau atmosfer ini diluncurkan pada 1991. Satelit seberat 6,5 ton ini dinyatakan tidak beroperasi lagi pada 2005. (ren)



• VIVAnews
READ MORE - LAPAN: Indonesia Aman dari Satelit Jatuh

Thursday, September 22, 2011

Lapan: Rongsokan Satelit Diperkirakan Jatuh Tengah Malam Ini

Upper Atmosphere Research Satellite (UARS). Foto diambil oleh NASA September 1991

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Rongsokan Upper Atmosphere Research Satelite (UARS) diperkirakan akan jatuh Jumat (23/9/2011) malam ini. Namun masih terdapat ketidakpastian tentang rentang waktu jatuhnya satelit berbobot 5,9 ton itu.

Professor astronomi dan astrofisika LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), Thomas Djamaluddin mengatakan menurut perkiraan LAPAN, satelit akan menghantam bumi Jumat tengah malam ini.

Namun terdapat rentang ketidakpastian waktu jatuhnya satelit mencapai 24 jam. Perkiraan yang sama juga pada lokasi jatuhnya satelit tersebut.

Sebelumnya NASA (Lembaga Antariksa AS) mengungkapkan bahwa perkiraan lokasi jatuhnya rongsokan satelit ini ialah antara 57 derajat lintang utara hingga 57 derajat lintang selatan.

"Lokasi jatuhnya bisa di manapun dalam wilayah 57 derajat lintang utara dan 57 derajat lintang selatan," ujar Thomas kepada Tribunnews.com, Jumat (23/9/2011) pagi.

Thomas mengatakan LAPAN tetap waspada meski tidak ada kecemasan yang berlebihan akan kemungkinan satelit seukuran bus kota itu jatuh di Indonesia. "Kami terus memantau perkembangannya," kata Thomas.


• Tribunnews
READ MORE - Lapan: Rongsokan Satelit Diperkirakan Jatuh Tengah Malam Ini

LAPAN Pasang Radar Deteksi Gempa dan Tsunami

Radar merupakan radar terbesar dan terlengkap ketiga setelah yang ada di Peru dan India.

Radar yang dipasang di Kotatabang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia juga merupakan radar terbesar dan terlengkap ketiga setelah radar MST (Mesosphere Stratosphere Troposhphere) di Peru dan India. (earthquake.it)

VIVAnews - Atmosfer di wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah lain karena berada dalam garis khatulistiwa dan terletak di antara dua benua dan dua samudera.

Posisi khusus ini menjadikan Indonesia dianggap sebagai salah satu mesin pembangkit utama terjadinya perubahan iklim global, seperti peristiwa La Nina dan El Nino, yang berkaitan dengan musim basah dan musim kering yang melebihi batas normal.

Untuk itu, Lembaga Penerbangan Antariksa nasional (LAPAN) bekerjasama dengan Research Institute for Sustainable Humonsphere (RISh) Universitas Kyoto Jepang mengembangkan Equatorial Atmosphere Radar (EAR).

Radar ini digunakan untuk mempelajari dinamika atmosfer yang merupakan lapisan pelindung bumi. Dengan mempelajari semua fenomena yang terjadi dalam lapisan atmosfer, hasilnya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk mengantisipasi cuaca ekstrim ataupun hal lainnya.

“Radar ini mampu mendeteksi sesuatu di atmosfer yang paling rendah, mulai dari 2 kilometer sampai ratusan kilometer,” kata Thomas Djamaluddin, Deputi LAPAN, di sela Simposium Internasional EAR, di Jakarta, 22 September 2011.

Thomas menyebutkan, kemampuan deteksi radar ini mencakup segala fenomena yang terjadi dalam lapisan atmosfer. “Radar ini merupakan salah satu pemantau iklim global, khsususnya di kawasan khatulistiwa,” ucapnya.

Secara teknis, spesifikasi radar ini terdiri dari 560 buah alat dalam satu rangkaian yang diletakkan pada ketinggian 865 meter di atas permukaan laut. Ia menggunakan frekuensi 47.0 MHz dengan power 100 Kwh. Terdiri dari dua bagian, antena tegak serta modul transmisi.

EAR juga merupakan pengembangan dari Boundary Layer Radar (BLR). Kelebihan radar ini dibanding dengan radar lain adalah menggunakan antena putar yang mampu menembak ke segala arah, asalkan dalam radius 30 derajat dari sumbu vertikal.

“Radar ini mampu menembak ke objek di segala arah dalam cakupan sudut 30 derajat, dengan radius sampai 120 kilometer,” kata Eddy Hermawan, peneliti Radar LAPAN. “Selain itu, radar ini bekerja dalam cakupan menit, jadi menganalisa setiap fenomena dalam atmosfer tiap menit,” ucapnya.

Dengan kemampuan tersebut, radar bermanfaat untuk menganalisa terjadinya fenomena ekstrem seperti gempa dan tsunami. “Bisa untuk peringatan dini gempa dan tsunami secara real, resolusinya per 2-3 menit, tidak per jam,” tambah Eddy.

Menurut Eddy, radar ini bahkan mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi. Namun demikian, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membandingkan dan melakukan analisa kasus per kasus. Selain itu, alat ini juga dirancang untuk mendeteksi perilaku arah dan kecepatan angin dalam tiga dimensi dari lapisan 1,5Km sampai 20Km.

“Alat ini mampu membaca pergerakan angin timur barat, khsusunya sirkulasi Walker yang merupakan salah satu parameter penting dalam dugaan datangnya ENSO (El Nino and Southern Oscillation),” kata Eddy. “Sehingga, alat canggih ini juga mampu menganalisa kapan akan terjadi musim basah kepanjangan maupun musim kering panjang,” ucapnya.

Selain itu, alat ini juga bermanfaat untuk mengantisipasi arah dan kecepatan angin baik sebelum maupun sesudah peristiwa kabut asap tebal terjadi, hal serupa juga bisa diterapkan saat kebakaran hutan. Lebih lengkap lagi, alat ini mampu menjadi solusi masalah penyebaran pestisida yang memerlukan arah dan kecepatan angin.

Radar yang dipasang di Kotatabang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia juga merupakan radar terbesar dan terlengkap ketiga setelah radar MST (Mesosphere Stratosphere Troposhphere) di Peru dan India. (eh)



• VIVAnews
READ MORE - LAPAN Pasang Radar Deteksi Gempa dan Tsunami

Radar EAR deteksi tsunami Aceh

Equatorial Atmosphere Radar (rish.kyoto-u.ac.jp)

Jakarta (ANTARA News) - Bencana alam gempa bumi dan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 diyakini terdeteksi oleh radar atmosfer khatulistiwa (Equatorial Atmosphere Radar/EAR).

"Ada anomali perubahan angin pada ionosfer beberapa menit sebelum tsunami. Tapi apakah ini kebetulan atau tidak itu yang harus diteliti lagi," kata peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Eddy Hermawan di Jakarta, Kamis.

EAR merupakan radar terbesar dan terlengkap di ekuator yang ditempatkan tepat di garis khatulistiwa, yaitu di Kototabang, Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat yang beroperasi sejak 26 Juni 2001.

Lapan memperingati 10 tahun beroperasinya radar EAR dalam rangkaian kegiatan simposium internasional yang dihadiri Menteri Riset dan Teknologi Suharna Suryapranata dan perwakilan dari Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia.

EAR merupakan hasil kerja sama antara Lapan dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) Universitas Kyoto, Jepang.

Radar EAR berfungsi sebagai pengamat atmosfer yang berpengaruh pada iklim global. Alat tersebut juga dirancang untuk mendeteksi perilaku arah dan kecepatan angin, salah satu yang diamati adalah pengamatan musim hujan di Indonesia.

Radar tersebut secara umum mempelajari dinamika atmosfer dan mampu mendeteksi perilaku angin dalam bentuk tiga dimensi yaitu vertikal, meridional dan zonal dalam selang waktu beberapa menit untuk setiap ketinggian 150-300 meter serta mampu menyimpan 1.440 profil dinamika atmosfer dalam satu hari.

Alat tersebut juga mampu mendeteksi fenomena elektromagnetik yang terjadi pada lapisan sekitar 100 km. radar EAR dibuat hampir menyerupai MU (Middle and Upper atmosphere) radar yang da di shiragaki, Jepang baik dari sistem antena yang dipakai maupun frekuensi yang digunakan yakni 46,5 MHz.

Radar EAR merupakan radar terbesar ketiga didunia setelah radar Mesosphere Stratosphere Trophosphere (MST) di Peru dan India. Radar tersebut unik sebab memiliki resolusi tinggi dan teknologinya sama seperti Jepang.

Menurut Prof Mamoru Yamamoto dari RISH Universitas Kyoto, meskipun alat tersebut tidak memiliki pengaruh langsung karena merupakan satu kesatuan dengan radar lainnya , bisa menjadi semacam alat deteksi dini (early warning sistem) terutama terhadap fenomena yang terkait dengan arah dan pergerakan angin.

"Manfaat terbesar dari radar ini adalah untuk pengembangan kapasitas sebab sebagai lembaga riset bukan memberikan informasi langsung seperti lembaga pengambil kebijakan misalnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika," katanya.(D016/A011)



• ANTARAnews
READ MORE - Radar EAR deteksi tsunami Aceh

Monday, September 19, 2011

Masyarakat Diminta Lapor Jika Temukan Satelit Jatuh

detail berita
Satelit UARS (sumber : Google)

JAKARTA - Terkait laporan NASA akan jatuhnya bangkai satelit UARS ke Bumi. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) meminta agar masyarakat melapor ke aparat terkait jika melihat benda jatuh dari langit.

Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) adalah satelit yang sudah tidak lagi berfungsi sejak 14 Desember 2005. Awalnya satelit ini diluncurkan pada 15 September 1991 oleh pesawat ruang angkasa milik NASA yaitu Discovery.

NASA baru saja melaporkan jika kemungkinan paling dekat bangkai satelit UARS akan tiba di Bumi pada Jumat 23 September mendatang. Namun Thomas Jamaluddin, Ketua LAPAN mengatakan jika hal tersebut tidak dapat dipastikan dan bergantung pada aktivitas matahari.

"Jika matahari sedang melakukan aktivitas yang aktif maka maka lapisan atmosfer akan lebih tebal dan akan menimbulkan gesekan yang lebih besar sehingga bangkai atmosfer bisa lebih cepat tiba di Bumi. Sementara jika aktivitas matahari tenang, maka lapisan lebih tipis dan gesekan semakin kecil, sehingga akan lebih lama sampai ke Bumi," jelas Thomas kepada okezone, Senin (19/9/2011).

Thomas meminta kepada masyarakat Indonesia agar tetap waspada, namun tidak perlu terlalu khawatir karena benda tersebut tidak berbahaya dan kemungkinan untuk jatuh dipemukiman warga sangat kecil sekali. Laut dan hutan dikatakan menjadi tempat yang paling mungkin dari jatuhnya bangkai satelit UARS.

"Masyarakat diminta langsung melaporkan aparat terkait atau LAPAN jika melihat atau menemukan benda yang jatuh dari langit. Sebab perlu dilakukan pengamanan umum guna memastikan apakah benar benda tersebut adalah serpihan UARS atau bukan,"tutupnya. (tyo)


• Okezone
READ MORE - Masyarakat Diminta Lapor Jika Temukan Satelit Jatuh

Sunday, August 28, 2011

Lapan: Teleskop Tak Mampu Lihat Hilal Rendah

SYAHRUL HIDAYAT/KOMPAS IMAGES Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Dr Thomas Djamaluddin mengatakan, sampai saat ini di dunia tidak ada teleskop yang mampu melihat hilal dengan ketinggian di bawah 4 derajat.



"Problemnya dengan teleskop secanggih apa pun, baik cahaya hilal dan cahaya senja di ufuk sama-sama diperkuat, sehingga hilal di ketinggian rendah tetap sulit terlihat," kata Thomas Djamaluddin di Jakarta, Minggu (28/8/2011).



Ia menanggapi tentang adanya perbedaan pendapat dalam menentukan penanggalan Hijriah seperti penentuan 1 Syawal, 1 Ramadhan, dan lainnya, yakni kriteria wujudul hilal yang menekankan hanya pada hisab dan kriteria Imkan Rukyat yang mengharuskan visibilitas hilal di samping hisab.



"Ketinggian hilal sangat rendah pada 29 Ramadhan (29 Agustus), yakni di bawah dua derajat, maka kemungkinan besar rukyat itu akan gagal melihat hilal, sehingga Ramadhan digenapkan 30 hari dan Idul Fitri seharusnya jatuh pada 31 Agustus," kata Djamal.



Pakar antariksa yang juga anggota Badan Hisab dan Rukyat (BHR) itu menegaskan, cahaya hilal dan cahaya senja berasal dari matahari, jadi panjang gelombangnya sama dan tidak bisa difilter.



Tidak ada teknologi yang mampu melihat hilal (bulan sabit) di bawah 4 derajat, dan secara teori pun tidak ada teknologi yang bisa mengatur tingkat kekontrasan agar hilal bisa lebih tampak dibanding cahaya senja, kecuali ada teknologi yang bisa mematahkan teori tersebut.



"Kriteria hisab yang saat ini digunakan oleh Muhammadiyah seharusnya diperbaiki, kriteria tersebut terlalu sederhana," katanya, sambil menekankan pentingnya penyatuan kriteria penentuan tanggal Hijriah.



Agar bisa merukyat bulan, ujarnya, jarak bulan dan matahari minimal 6,4 derajat dan beda antara tinggi bulan dan matahari dari ufuk minimal 4 derajat. Jadi, hilal baru bisa teramati jika melebihi kriteria itu.



• KOMPAS
READ MORE - Lapan: Teleskop Tak Mampu Lihat Hilal Rendah

Tuesday, July 5, 2011

2015, Bandara Antariksa Indonesia dari LAPAN Diprediksi Terlaksana

Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU - Pembangunan Bandara antariksa milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) diperkirakan akan terlaksana pada tahun 2015. Prediksi itu disampaikan Kepala Pusat Pemanfaatan Teknologi dan Dirgantara LAPAN Arisdiyo, Senin (4/7).

"Saat ini masih tahap riset lokasi yang sudah ditentukan sebelumnya, sedangkan pembangunannya dimulai pada 2015," katanya di Bengkulu. Saat ini LAPAN sedang melakukan penelitian terhadap 6 desa di Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara sebagai lokasi peluncuran satelit dan roket.

Enam desa tersebut yakni Banjar Sari, Meok, Ka'ana, Apoho, Malakoni, dan Kahyapuh. Jika nantinya sudah ditetapkan lokasi peluncuran satelit itu maka LAPAN akan membuat lokasi zona aman radius 5 kilo meter.

Dampak negatif dari progam ini terhadap masyarakat hanyalah pada saat peluncuran roket dimana dalam radius 5 kilometer harus bersih dari kegiatan apapun.

Sementara itu, Bupati Bengkulu Utara Imron Rosyadi mengatakan adanya bandar antariksa tersebut dapat menguntungkan masyarakat setempat baik secara ekonomi dan pendidikan.

Bupati berharap, masyarakat dapat menerima dengan baik rencana LAPAN, mengingat banyak sisi positif yang akan didapatkan warga Pulau Enggano dan Bengkulu pada umumnya.

Pembangunan bandar antariksa milik LAPAN di Pulau Enggano ini merupakan tindaklanjut dari penandatanganan perjanjian antara Pemerintah Provinsi Bengkulu pada 2010.

Pulau Enggano dinilai sebagai tempat yang sesuai untuk pembangunan bandar antariksa. Enggano memiliki populasi penduduk yang tidak terlalu banyak dan tidak berhubungan langsung dengan wilayah negara lain.

Tak hanya itu, Enggano juga memiliki luas wilayah yang luas dan lingkungan aman. Selain letaknya strategis, pulau itu juga berhadapan langsung dengan laut bebas, yaitu Samudera Hindia.


• Republika
READ MORE - 2015, Bandara Antariksa Indonesia dari LAPAN Diprediksi Terlaksana

Thursday, June 30, 2011

Indonesia Bakal Miliki Bandar Antariksa di Enggano, LAPAN Mulai Lakukan Survei

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mulai melakukan beberapa survei terkait rencana pembangunan bandar antariksa di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. "Dalam waktu dekat tim akan survei di Pulau Enggano,ini merupakan tindaklanjut dari penandatanganan MoU yang dilakukan Pmprov Bengkulu dengan LAPAN 2010," terang Kepala Bapeda, Provinsi Bengkulu, Edi Waluyo, Kamis.

Survei tersebut meliputi kawasan konservasi, status hutan, kondisi geografis, dan sekaligus komunikasi awal antara LAPAN dan masyarakat Pulau Enggano.

Hasil survei itu merupakan kebutuhan untuk melengkapai pembuatan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Rencana Kelola Lingkungan (RKL), dan Upaya Kelola Lingkungan (UPL)
Survey penting dilakukan karena LAPAN akan mencari penyesuaian tata ruang, dan seminimal mungkin tidak mengganggu ekosistem Enggano yang diketahui rapuh.

Selanjutnya, Edi Waluyo menambahkan dalam MoU belum dikatakan sharing apa yang akan dilakukan antara LAPAN dan Pemerintah Provinsi Bengkulu, namun Bengkulu telah mengalokasikan beberapa hektar lahan untuk keperluan pembangunan bandar antariksa itu.

Edi menekankan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini akan diutamakan, sosialisasi akan terus dilakukan semuanya kembali kepada masyarakat Enggano, jika mereka sepakat daerahnya akan dibangun bandar antariksa maka program akan berlanjut begitu pula sebaliknya.

Diharapkan dengan adanya Bandar antariksa di Enggano masyarakat Bengkulu akan dapat mengakses beberapa ilmu pengetahuan yang penting dalam dunia antariksa, dan juga dapat berimbas pada perbaikan ekonomi rakyat.


• Republika
READ MORE - Indonesia Bakal Miliki Bandar Antariksa di Enggano, LAPAN Mulai Lakukan Survei

Monday, June 27, 2011

LAPAN: Asteroid 2011 MD Tidak Bahayakan Satelit

Asteroid 2011 MD

JAKARTA
- Pihak Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) mengatakan bahwa asteroid 2011 MD yang akan melintasi Bumi malam ini tidak akan membahayakan satelit-satelit komunikasi.

Asteroid 2011 MD akan melintasi Bumi tengah malam ini, dengan jarak sekira 12 ribu kilometer. Seperti yang kita ketahui ketinggian tersebut adalah jarak yang biasa digunakan oleh satelit-satelit komunikasi, namun LAPAN mengatakan bahwa kecil kemungkinan asteroid tersebut akan menabrak satelit komunikasi.

"Asteroid 2011 MD tidak akan berdampak pada satelit-satelit komunikasi di ketinggian tersebut," ujar Profesor Dr Thomas Djamaluddin, pakar Astronomi dan Astrofisika dari LAPAN, di Jakarta, Senin (27/6/2011).

Thomas menjelaskan bahwa tiap jenis satelit memiliki ketinggian tertentu, berdasarkan kemampuannya masing-masing. "Seperti contoh, satelit Geo-Stationary Earth Orbit (GSO) berada di ketinggian 36 ribu km, satelit Global Positioning System (GPS) di ketinggian 18 ribu km, dan satelit penginderaan jarak jauh serta eksperimen berada di ketinggian 1000 meter," jelasnya.

"Sementara untuk ketinggian 12 ribu km, sangat jarang ada satelit di sana," tambah Thomas.

Thomas memaparkan bahwa semua satelit komunikasi dari seluruh dunia ditempatkan di sepanjang wilayah ekuator dengan tingkat ketinggian yang bervariasi. "Hal ini dilakukan agar orbit tiap-tiap satelit tetatp posisinya," jelasnya.

"Asteroid 2011 MD memang akan melewati wilayah ekuator, namun dengan ketinggian tersebut tidak akan membahayakan bagi satelit-satelit komunikasi. "Sangat kecil kemungkinannya," imbuhnya.

Thomas menyimpulkan bahwa kasus seperti ini harusnya juga menjadi perhatian dari para pihak yang berhubungan dengan dunia satelit komunikasi.(ATA)


• Okezone
READ MORE - LAPAN: Asteroid 2011 MD Tidak Bahayakan Satelit

Wednesday, June 15, 2011

Lapan Bantah Matahari Ada Dua pada 21 Juni

JAKARTA--MICOM: Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menegaskan bahwa berita tentang akan munculnya matahari kedua yang bernama Aderoid pada 21 Juni adalah berita bohong.

"Itu hoax. Tidak ada bintang atau matahari bernama Aderoid," kata Deputi bidang Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lapan Prof Dr Thomas Djamaluddin yang dihubungi dari Jakarta, Rabu (15/6).

Dikatakan Djamal, jutaan bintang telah masuk dalam kode katalog astronomi. Yang paling terang cahayanya dari Bumi dan telah diketahui sifat-sifatnya bahkan sudah diberi nama, namun tidak ada yang bernama Aderoid.

Selain itu, sebuah bintang tidak mungkin tiba-tiba muncul dan datang mendekat ke tata surya dan kemudian bersinar bersama-sama matahari menerangi bumi. "Proxima Centauri bintang terdekat dari bumi dengan jarak 4,3 tahun cahaya jika bergerak ke arah Bumi dengan kecepatan cahaya (300 ribu km per detik) saja membutuhkan waktu hingga ratusan tahun," katanya.

Penyebutan bahwa pada 21 Juni Bintang Aderoid jaraknya sangat dekat dengan Bumi yakni sekitar 3.465 mil atau bahkan 34,65 juta mil disebutkan sungguh aneh karena jarak antara matahari dengan bumi mencapai 93 juta mil. Berita tentang akan munculnya matahari kedua yang bernama Aderoid pada 21 Juni sudah tersebar luas melalui pesan singkat maupun messenger. (Ant/OL-5)


• MediaIndonesia
READ MORE - Lapan Bantah Matahari Ada Dua pada 21 Juni

Blog Archive