Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Showing posts with label Indonesia Teknologi. Show all posts
Showing posts with label Indonesia Teknologi. Show all posts

Saturday, September 24, 2011

Pengembangan INDOMI dengan Radar Terbesar


SHUTTERSTOCK
-Ilustrasi.

KOMPAS.com - LAPAN saat ini tengah menggiatkan pengembangan INDOMI (Indonesia Monsoon Index). Pengembangan dilakukan dengan Radar Atmosfer Khatulistiwa (RAK), radar terbesar dan terlengkap di khatulistiwa setelah MST (Mesosphere Stratosphere Thermospeher) Radar yang ada di India dan Peru.

Dr Eddy Hermawan, peneliti radar dari LAPAN mengatakan, bahwa INDOMI sudah dikembangkan sejak 2 tahun lalu dan masih berlangsung sampai sekarang. Tujuan pengembangan ini adalah melengkapi pemahaman tentang Monsoon yang berdampak pada iklim Indonesia dan global.

"Selama ini orang memahami Monsoon itu curah hujan, padahal sebenarnya berkaitan dengan angin. Lalu juga selama Monsoon itu dipahami di lapisan bawah atmosfer, padahal di lapisan atas," kata Eddy saat ditemui di gedung BPPT Jakarta, kemarin (22/9/20111).

Menurut Eddy, pemahaman mendasar tentang Monsoon tersebut harus diketahui masyarakat. Dengan demikian, RAK tidak hanya menghasilkan penemuan yang langsung bisa diaplikasikan tetapi lebih pada penguatan kapasitas.

Meski demikian, dengan pengembangan INDOMI, beberapa aplikasi praktis sudah terbayangkan. Misalnya memahami fenomena musim basah panjang dan kemarau panjang yang dalam konteks Indonesia berkaitan erat dengan angin barat dan angin timur.

"RAK bisa melihat pola angin secara 3D. Jadi, pergerakan angin bisa diketahui, lokasinya dimana dan waktunya kapan. Dengan adanya indeks Monsoon ini nanti kita bisa mengetahui kapan terjadinya musim basah panjang dan kemarau panjang," jelas Eddy.

10 Tahun Beroperasi RAK adalah radar terbesar di Indonesia yang ditempatkan di Kotatabang. Radar ini punya kelebihan sebab memiliki antena putar, didesain untuk mencitrakan secara 3D dan bisa memetakan fenomena elektromagnetik pada jarak hingga 100 km.

Radar ini adalah hasil kerjasma LAPAN dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) di Universitas Kyoto, Jepang. Hingga saat ini, RAK telah beroperasi selama 10 tahun.

Peringatan 10 tahun beroperasinya radar ini digelar kemarin di gedung BPPT Jakarta. Setelah 10 tahun beroperasi, beberapa hasil telah didapatkan.

"Dinamika atmosfer di ekuator dan prosesnya semakin banyak yang terkuak. Misalnya tentang plasma bubble, bagaimana naik ke atas," kata Mamoru Yamamoto, professor dari RISH.

Yamamoto menambahkan bahwa beberapa fenomena berhasil ditangkap RAK. "Contohnya, sebelum tsunami Aceh pada 26 Desember 2006, RAK menangkap dinamika atmosfer yang berbeda, meski masih perlu diteliti apakah hal tersebut betul-betul berkaitan dengan tsunami," tambah Yamamoto.

Saat ini, tengah ada proposal kerjasama RISH dan LAPAN lagi untuk menambah radar guna memahami lebih lanjut dinamika atmosfer. Radar tambahan itu 10x lebih sensitif dari RAK. Perwujudan proposal ini akan membantu memperluas pemahaman tentang dinamika atmosfer khatulistiwa.


• KOMPAS
READ MORE - Pengembangan INDOMI dengan Radar Terbesar

Sunday, September 18, 2011

Airbus Military : PTDI Kompeten, Kerjasama Bersifat Jangka Panjang

Madrid - Kolaborasi Airbus Military (AM), sebelumnya CASA, dengan PTDI telah melahirkan produk NC- 295, sebuah pesawat angkut militer taktis bermesin turboprop ganda.

Hal itu disampaikan Wamenhan RI Sjafrie Sjamsoeddin kepada detikcom melalui kontak Atase Pertahanan RI di Madrid, Kol. Caj. Erry Herman, Jumat (16/9/2011).

Dalam peninjauan ke Airbus Military yang terletak di Sevilla, Wamenhan didampingi oleh Wakasad Letjen TNI Budiman, Dirjen Strahan Mayjen TNI Puguh Santoso, Kabaranahan Mayjen TNI Ediwan P, Asrena Kasau Marsda TNI Rodi Suprasodjo, Athan Kol. Caj. Erry Herman, Dirut PTDI Budi Santoso, Direktur Restrukturisasi PT PPA Saiful Haq, Kol. Tek Sujatmiko dan May. Laut (KH) Isam Adi.

Seusai pertemuan dengan manajemen AM, Wamenhan menjelaskan bahwa kerjasama AM dengan PTDI sekurangnya memberi empat manfaat bagi kepentingan nasional.

"Pertama, tambahan penyerapan tenaga kerja 2000 orang. Kedua, prosentase kandungan lokal PTDI mencapai 40%-60%. Ketiga, peningkatan kemampuan produksi. Keempat, PTDI menjadi capture market di Asia Tenggara," papar Wamenhan.

Menurut Wamenhan, contoh produk AM yang dipasarkan ke Amerika dan Nigeria sudah menggunakan komponen PTDI, rinciannya CN-212 100%, CN-235 40-60% dan NC-295 40%- 60%.

"Perlu saya tegaskan di sini sesuai pembicaraan saya dengan AM bahwa PTDI bukan sebagai subkontraktor tetapi menjadi mitra sejajar. AM menganggap kerjasama dengan PTDI sebagai win- win solution," tandas Wamenhan.

Lanjut Wamenhan, pihak AM dalam hal ini Senior Vice President Asia Pasific Ignacio Alonso juga telah meyakinkan ke pemerintah RI bahwa PTDI mempunyai kemampuan untuk berkolaborasi dengan AM.

Versi militer 295 adalah pengembangan lebih lanjut dari pesawat angkut sipil Spanyol-Indonesia, yang dinilai sukses secara komersial di pasar internasional dari seri CN-235.

Patut dicatat, bahwa pesanan pertama seri 295 versi militer ini datang dari Angkatan Bersenjata Spanyol, yang menunjukkan keberpihakan mereka pada teknologi nasional.

C-295 dikembangkan dalam versi pengangkut militer dengan kapasitas 73 pasukan, 48 pasukan para, 27 brankar, 5 palet ukuran 2,24 x 2,74 meter atau 3 truk militer. Kemudian versi patroli kelautan/anti kapal selam serta versi peringatan dini udara dan pengendalian dengan kubah radar 360 derajat.

Saat ini C-295 dipakai oleh Angkatan Udara di 13 negara, yakni Finlandia, Ceko, Portugal, Spanyol, Polandia, Brazil, Aljazair, Chili, Kolombia, Mesir, Ghana, Yordania, dan Meksiko, dengan total jumlah ada 75 pesawat dan kontrak produksi per 4/8/2011 sebanyak 85 pesawat.
(es/es)


• detiknews
READ MORE - Airbus Military : PTDI Kompeten, Kerjasama Bersifat Jangka Panjang

Wednesday, September 14, 2011

Printer Indonesia Terbesar di Asia Tenggara

Printer berukuran 3,5 sampai 5,5 meter ini mampu mencetak 60 meter persegi per jam.

Printer berukuran 3,5 sampai 5,5 meter ini mampu mencetak 60 meter persegi per jam. Harga satuannya mulai dari Rp100 juta. (VIVAnews/Amal Nur Ngazis)

VIVAnews - Pengusaha percetakan atau digital printing di Indonesia tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri untuk mendapatkan large format printer yang simpel dan mudah. Di pasaran Indonesia telah hadir large format printer terbesar di Asia Tenggara, dengan ukuran 5,5 Meter.

Large printer tersebut, yakni Binterjet, merupakan produk buatan CV. Bintang Terang, perusahaan lokal Indonesia.

Untuk printhead, printer large format ini menggunakan komponen milik perusahaan Jepang, Konica Minolta, yang mampu menghasilkan resolusi antara 180-720 dpi. Adapun kecepatan cetak printer ini mencapai 60 meter persegi per jam.

Printer ini tersedia dalam varian lebar 3,5 meter, 4,5 meter, dan 5,5 meter. Harganya sendiri dibandrol mulai dari Rp100 juta per unit, dengan garansi 1 tahun.

“Meski merupakan rakitan dalam negeri, Binterjet berani bersaing secara kualitas dengan produk impor sejenis,” klaim Ben Wirawan, Sales Area Manager Bintang Terang, di sela Eksibisi Recharge Expo, 14 September 2011. “Secara kualitas, kami berani beradu dengan China,” ucapnya.

Printer Binterjet sendiri terdiri dari dua bagian, yakni printhead yang terletak di sebelah kiri, dan multi roll memanjang sampai ukuran beberapa meter. Ia didesain sesuai dengan kebutuhan bisnis percetakan di Indonesia yang menawarkan perawatan yang mudah dan gampang serta murah.

“Binterjet sangat efisien, konsumsi dayanya hanya 700 watt, sementara produk lain mencapai 2000 watt,” ucap Ben. Menurutnya, printer ini mengambil segmen pengguna yang efisien dan tepat guna.

Adapun untuk tintanya, Binterjet menggunakan tinta buatan lokal, yakni tinta E1, yang kualitasnya disebut terjamin. “Tintanya berkualitas dan hemat, hanya 15 mm per meter persegi,” klaim Ben.

Produk ini sendiri ternyata diminati oleh pengusaha percetakan lokal. Terbukti selama tahun 2010, Bintang Terang telah melayani order sebanyak 30 unit. “Pengusaha banyak yang puas, bahkan ada yang memodifikasi produk impor dengan mesin dari Binterjet,” ucapnya.

Ke depannya, Ben menyebutkan, Bintang Terang akan mengembangkan inovasi lain seperti menciptakan printer bertenaga ultraviolet, dan mencetak ukuran lebar di atas bahan kain. (eh)



• VIVAnews
READ MORE - Printer Indonesia Terbesar di Asia Tenggara

Wednesday, July 20, 2011

PT DI Garap Helikopter Pesanan Korsel

PT DI juga tengah mengerjakan pesanan komponen Airbus 320 setiap bulannya.


Teknisi PT Dirgantara Indonesia rakit Helikopter Super Puma NAS 332 (Antara/ Rezza Estily)

VIVAnews
- PT Dirgantara Indonesia (PT DI) tengah mengerjakan pesanan helikopter Super Puma pesanan pasukan penjaga pantai Korea Selatan senilai US$90 juta (Rp767,52 miliar). Perusahaan plat merah itu juga mengerjakan helikopter untuk Angkatan Laut senilai US$70 juta (Rp596,96 miliar).

"Kami juga tengah mengerjakan helikopter untuk Angkatan Udara," ujar Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso kepada VIVAnews.com

Selain pesanan itu, PT DI juga tengah mengerjakan pesanan komponen Airbus 320 setiap bulannya. Perseroan optimis pesanan komponen itu akan naik 50 persen pada 2015. "Tahun depan diminta naik 20 persen dan mungkin 2015 naik 50 persen dari kapasitas yang sekarang", ujar Budi

Pendapatan PT DI sendiri tahun ini diperkirakan Rp1,6 triliun yang berasal dari penjualan komponen dan pesanan helikopter. Ia menargetkan pendapatan tahun depan dapat mencapai Rp2 triliun. "Sesudah Rp2 triliun baru kami bisa bernafas," tambah Budi.

PT DI sendiri dilingkupi permasalahan modal yang kurang, sehingga tak berani mencari order pesanan. Untuk itu perseroan sangat mengharapkan adanya penyertaan modal negara (PMN). Pemerintah dan Komisi VI telah membahas pemberian PMN sebesar Rp3,9 triliun namun persetujuan belum diketuk palu. (adi)



• VIVAnews
READ MORE - PT DI Garap Helikopter Pesanan Korsel

Thursday, June 16, 2011

UI Juara Kontes Robot Seni Indonesia

DEPOK--MICOM: Mahasiswa UI berhasil meraih Juara 1 kategori Robot Seni Indonesia dengan desain bertema "Robot Penari Klono Topeng" dalam Kompetisi Robot Tingkat Nasional.

"UI berhasil menyisihkan 101 tim dari 51 perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) yang mengikuti kontes tersebut," kata Kepala Kantor Komunikasi UI, Vishnu Juwono, di Depok, Kamis (16/6).

Kontes robot yang diadakan 11-12 Juni 2011 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta tersebut kata Vishnu juga memperebutkan untuk kategori Kontes Robot Indonesia (KRI), dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) yang terbagi atas Robot KRCI Beroda, Robot Berkaki, dan Robot Battle.

Sementara itu, untuk kendaraan hemat energi mahasiswa UI juga akan mengikuti kompetisi internasional Shell Eco-marathon Asia (SEM Asia) 2011, dengan mengirimkan tim Nakoela dan Sadewa yang terdiri dari para mahasiswa Fakultas Teknik UI untuk mewakili Indonesia dalam kompetisi prestisius yang akan berlangsung pada 6-9 Juli 2011 di Sepang International Circuit Malaysia.

Dalam kompetisi SEM Asia 2011 tersebut, Tim Nakoela merancang sebuah mobil bernama Garuda Keshava. Garuda Keshava merupakan mobil hemat energi jenis prototype. Dengan bodi yang ramping dan lekukan yang unik, mobil ini diprediksikan mampu menggondol best design SEM Asia 2011 serta ditargetkan 1000 km dalam 1 liter bensin.

Sedangkan Tim Sadewa merancang urban vehicle yang diberi nama Kalabia. Kalibia merupakan mobil urban yang dapat mencapai target 500 km dalam satu liter bensin. Kalabia adalah mobil ramah lingkungan yang berbentuk menyerupai ikan hiu dengan desain yang aerodinamis dan stabil. (Ant/OL-9)


• MediaIndonesia
READ MORE - UI Juara Kontes Robot Seni Indonesia

Wednesday, June 8, 2011

Pesawat N 219 Kebanjiran Peminat

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pesawat terbang komuter N-219 banyak diminati sejumlah pemerintah daerah. Padahal pesawat jenis ini baru memasuki tahap pembuatan prototipe. "Mereka tertarik membeli untuk transportasi penghubung antarkabupaten kota," kata Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian Budi Darmadi di Jakarta, Rabu, 8 Juni 2011.


Sedikitnya ada 40 pemerintah daerah tingkat kabupaten dan kota yang berminat membeli N-219. Minat para calon pembeli terungkap dari hasil muhibah bisnis Kementerian Perindustrian di sejumlah daerah. "Mereka bisa membeli pesawat itu sendiri atau dengan menggandeng maskapai lokal untuk penerbangan terjadwal ataupun carter," kata Budi.

Sekitar 300 insinyur diterjunkan untuk mengembangkan N-219. Pesawat ini memakai dua mesin, yang masing-masing berkekuatan 8.50 HP. Komponen lokal mencapai 70 persen. Sisanya berupa mesin dan sistem avionik dipasok dari impor. Saat ini PT Dirgantara Indonesia berhasil membuat 3 jenis pesawat: NC-212, CN-235, dan N-250.

Pesawat yang dirancang PT Dirgantara Indonesia itu memiliki kapasitas 19 kursi. Pengadaan N-219 sudah mendesak karena pesawat di kelas itu banyak yang berusia 20 tahun sehingga perlu segera diganti. Nantinya pesawat perintis berusia uzur dapat diganti dengan N-219. Pengembangan N-219 menjadi bagian dari program restrukturisasi PT Dirgantara.

Menurut Budi, Kementerian Perindustrian masih mempersiapkan detail teknis dan desain prototipenya. Pembuatan prototipe pesawat membutuhkan dana sekitar Rp 300 miliar. Tahun ini Kementerian Perindustrian sudah mengajukan anggaran untuk 2012 bagi pengembangan N-219 sebesar Rp 59 miliar. Ditargetkan prototipe pesawat N-219 mampu terbang pada 2014.

Pengamat penerbangan Ruth Hana Simatupang mengatakan tipe N-219 sangat cocok untuk daerah dengan lapangan udara terbatas. Daerah semacam ini membutuhkan transportasi udara sebagai penghubung wilayah, terutama di Indonesia bagian timur. Menurut Hanna, Indonesia mampu memproduksi pesawat sendiri. "Tapi hasilnya tetap perlu dikaji kelayakannya," katanya.

Dengan memproduksi sendiri, kata Hanna, biaya pengadaan pesawat tersebut bakal jauh lebih murah ketimbang membelinya dari negara lain. "Jelas lebih murah membikin sendiri daripada membeli. Apalagi kita memang sudah mampu memproduksinya," katanya.[AGUNG SEDAYU]


• TEMPOInteraktif
READ MORE - Pesawat N 219 Kebanjiran Peminat

Blog Archive