Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Showing posts with label Ristek. Show all posts
Showing posts with label Ristek. Show all posts

Saturday, September 24, 2011

ITS-DSME Korea lakukan riset "floating-LNG"

Surabaya (ANTARA News) - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan "Daewoo Shipyard and Marine Engineering" (DSME) Korea melakukan riset bersama tentang "Floating-LNG" (FLNG).

Hasil riset bersama itu dikaji dalam workshop ke-5 di kampus setempat, Kamis (22/9). Workshop itu menyampaikan kajian-kajian terkini dalam pengembangan teknologi FLNG.

"Workshop kali ini merupakan waktu yang tepat untuk menyampaikan hasil yang telah dicapai pada join riset tahap pertama pada tahun lalu," kata Rektor ITS Prof Dr Ir Trioyogi Yuwono DEA.

Oleh karena itu, workshop F-LNG itu menjadi sangat penting, karena kelangkaan energi sudah menjadi isu internasional yang dibarengi dengan adanya isu penggunaan energi bersih untuk kemaslahatan manusia.

"ITS sebagai salah satu universitas teknik terbesar di Indonesia mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk menjawab masalah kelangkaan energi yang dihadapi masyarakat," katanya.

Senada dengan itu, "Vice President of DSME" Dr Jung Han Lee mengatakan, kerja sama riset ini menjadi sangat strategis, mengingat banyaknya cadangan gas alam Indonesia.

Hal itu melihat kondisi beberapa daerah di Indonesia yang tidak memungkinkan untuk menggunakan "fixed structure", karena itu pemanfaatan teknologi FLNG akan menjadi sangat penting untuk mengeksploitasi gas, memproduksi LNG dan mentransfer LNG.

"ITS menjadi bagian dalam pengembangan teknologi tersebut dankerja sama riset itu akan menjadi masukan yang sangat bermanfaat bagi pemerintah Indonesia dalam menentukan kebijakan pengelolaan gas alam di masa yang akan datang," katanya.

Dalam kesempatan itu, juga dilangsungkan penandatanganan perjanjian "join riset" tahap II antara ITS dan DSME.

"Join riset" tahap I berakhir pada akhir 2010. Pada Tahap I, "conceptual design" dari FLNG berdasarkan komposisi gas beberapa ladang gas alam di Indonesia.

Sementara tahap II akan diarahkan untuk melanjutkan desain konseptual yang diperoleh di tahap I menjadi desain yang lebih detail, termasuk memasukkan beberapa aspek lingkungan dan keselamatan secara lebih mendalam.

Sebelumnya (21/9), sebanyak 150 peneliti MIPA dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya-Indonesia dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) bertemu dalam "International Conference and Workshop on Basic Sains" (ICoWoBaS) di Surabaya pada 21-23 September.

"Itu pertemuan peneliti MIPA Unair dan UTM yang ketiga kalinya, karena kami sudah pernah mengadakan pertemuan pertama di Surabaya pada tahun 2007 dan pertemuan kedua di Johor pada tahun 2009," kata Wakil Ketua ICoWoBaS III, Dr Nanik Siti Aminah.

Ketika ditemui ANTARA di sela-sela konferensi internasional Unair-UTM itu, ia menjelaskan ICoWoBaS merupakan pertemuan yang membahas hasil riset bersama yang dilakukan peneliti Unair-UTM di bidang ilmu dasar yakni Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika. (E011/M026)



• ANTARAnews
READ MORE - ITS-DSME Korea lakukan riset "floating-LNG"

Tuesday, September 20, 2011

IPB kenalkan biopelet sebagai alternatif pemanfaatan biomassa

Bogor (ANTARA news) - Peneliti Surfactant & Bioenergy Research Center Institut Pertanian Bogor (SBRC-IPB) Sri Windarwati memperkenalkan biopelet, yakni jenis bahan bakar padat berbasis limbah sebagai alternatif energi pemanfaatan biomassa.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Humas IPB di Bogor, Jawa Barat, Selasa, disebutkan bahwa Sri Windarwati mengangkat tema itu pada seminar nasional teknologi kimia aplikatif.

Pada seminar bertema "Bahan Bakar Nabati Atasi Kelangkaan Minyak Bumi" yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Kimia (IMAKAHI) IPB pada Minggu (18/9), yang dihadiri lebih dari 400 peserta, ia mengemukakan bahwa biopelet adalah jenis bahan bakar padat berbasis limbah biomassa yang memiliki ukuran lebih kecil dari briket.

"Proses yang digunakan adalah pengempaan (pressing) dengan suhu dan tekanan tinggi, sehingga membentuk produk yang seragam dengan kapasitas produksi tinggi," katanya menambahkan.

Ia menjelaskan bahwa potensi biomassa atau limbah pertanian Indonesia sangat besar yakni 49,8 ribu Mwe, sedangkan yang dimanfaatkan baru 445 Mwe.

Dikemukakannya bahwa biomassa yang dapat digunakan sebagai bahan baku biopelet, di antaranya adalah bungkil sawit, sekam padi, batang ubi kayu, tongkol jagung, tempurung kelapa, kulit kacang, kulit kopi dan sebagainya.

"Teknologi biopelet sudah diperkenalkan sejak lama di luar negeri. Pembuatan biopelet diproduksi pertama kali di Swedia pada tahun 80-an. Seiring waktu, dikembangkan perusahaan biopelet di sana. Sedangkan teknologi ini baru dikembangkan di Indonesia," katanya menambahkan.

Sementara itu, staf ahli Kementerian Negara Riset dan Teknologi Dr Agus Rusiana Hotman mengatakan bahwa jumlah produksi minyak bumi terbatas, sementara tiap tahun konsumsinya meningkat tujuh persen, sehingga dibutuhkan berbagai alternatif energi untuk masa depan.

"Strategi pengembangan energi nasional ke depan dengan meningkatkan kegiatan diversifikasi energi, di antaranya memanfaatkan potensi sumber biomassa," katanya.

Menurut dia, tantangan pengembangan bahan bakar nabati masih belum kompetitif dibanding dengan bahan bakar minyak (BBM), dikarenakan masih adanya subsidi BBM.

"Kemungkinan solusinya adalah meningkatkan efisiensi dalam proses pembuatan BBN sambil menata kebijakan `pricing` dan subsidi yang lebih tepat sasaran," demikian Agus Rusiana Hotman. (ANT-053/A035)



• ANTARAnews
READ MORE - IPB kenalkan biopelet sebagai alternatif pemanfaatan biomassa

Thursday, September 15, 2011

RI-Mozambik Kerja Sama Iptek

JAKARTA--MICOM: Indonesia dan Mozambik memulai kerja sama di sejumlah bidang sains dan teknologi. Di antaranya, bidang teknologi dirgantara, bioteknologi, energi, mitigasi bencana, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi serta teknologi material maju.

"Mozambik sangat tertarik akan kemampuan kita. Mereka ingin belajar ke Indonesia. Kita harus gembira karena dipercaya," kata Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata dalam sambutannya pada penandatanganan nota kesepahaman dengan Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Mozambik Prof Dr Eng Venancio Simao Masingue di Jakarta, Rabu (14/9).

Ia meminta kerja sama ini segera ditindaklanjuti dengan pembentukan steering committee yang terdiri dari para pengambil kebijakan dari kedua negara yang akan bertemu secara rutin membahas perencanaan, monitoring, dan evaluasi kerja sama iptek kedua negara.

Dalam nota kesepahaman tersebut kedua negara sepakat menjajaki peluang kerja sama di bidang teknologi dirgantara dan ruang angkasa, bioteknologi seperti di bidang pertanian, pangan, kesehatan dan obat-obatan, juga energi, transportasi, mitigasi bencana, teknologi informasi dan komunikasi serta teknologi material maju (nano teknologi). "Kerja sama kedua negara lebih ditekankan untuk mengantisipasi isu-isu global," katanya.

Kerja sama tersebut akan dilakukan dalam bentuk kegiatan penelitian bersama, pertukaran informasi iptek, pertukaran ilmuwan dan peneliti, pelatihan, seminar, dan kegiatan pengembangan kapasitas SDM. (Ant/OL-9)


• MediaIndonesia
READ MORE - RI-Mozambik Kerja Sama Iptek

Monday, September 12, 2011

Siswa SD Ini Temukan Alarm Ompol untuk Bayi

Temuan ini berhasil diuji coba secara massal di rumah sakit.

Bayi Pakai Popok (inmagine.com)

VIVAnews -- Dua murid SD Pertiwi Medan, Sumatera Utara, Fira Fatmasiefa dan Bramastro Rahman Prasodjo menemukan alat unik untuk bayi. Alat itu adalah alarm ompol.

Ide pembuatan alarm ompol ini bermula dari cerita sang guru yang bermasalah dengan popok bayi. Sang guru gusar karena kulit bayinya mengalami iritasi karena ompol.

Fira yang merupakan murid kelas VI dan Bramastro yang duduk di bangku kelas IV memutar otak. Mereka berpikir bagaimana agar bayi tidak terlalu lama kena ompol yang menyebabkan iritasi.

Keduanya kemudian berkonsultasi dengan guru pembimbing mereka, Sunario Hasibuan. Arahan dari sang guru, keduanya diminta untuk berdiskusi dengan orang tuanya yang kebetulan seorang dokter. Namun, orang tua keduanya malah bingung dengan ide mereka. Akhirnya sang guru dan orangtua keduanya bertemu untuk membahas apa yang diinginkan Fira dan Bram.

Singkat cerita, dengan pendampingan orangtua dan gurunya, Fira dan Bram berhasil membuat “Wet Alarm for Baby”, alarm untuk bayi yang mengompol. “Kami ingin membuat alat yang bisa memberikan tanda bayi mengompol dengan sensor yang berasal dari air seni bayi,” kata Fira ditemani Bramastro di Jakarta.

Pada awalnya, alarm menggunakan lampu yang memberikan tanda saat bayi mengompol, namun kemudian dinilai tidak efektif. Misalnya, saat pembantu atau ibu sedang tidak didekat bayi, maka bayi yang mengompol tidak segera diketahui.

Akhirnya, tanda lampu itu diganti dengan alarm suara. Nah, bunyi suara awalnya seperti bunyi bel. Namun, karena dikira suara bel kemudian alarm diganti dengan suara khusus.

Alat ini terdiri dari dua bagian, yakni alarm unit dan sensor unit. Sensor unit diletakan di bawah pantat bayi. Sistem sensornya terbuat dari kancing tembaga yang dikaitkan dengan kabel. Ujung kabel ada alarm unit dengan model stop kontak.

Jadi, saat bayi mengompol, sistem sensor yang terkena air seni kemudian secara otomatis bekerja dan alarm menimbulkan bunyi. Setelah mengatahui bayi mengompol, alarm bunyi tinggal di off kan, seperti stop kontak pada umumnya.

Bagaimana efektivitas alat ini?
Alat ini sudah diuji coba di rumah sakit, tempat orang tua keduanya bekerja. Kebetulan kedua orang tuanya dokter spesialis. “Sudah diuji coba di rumah sakit secara massal,” jelas guru mereka, Sunario Hasibuan.

Hasil uji coba itu terbukti efektif dan tidak repot. Alat ini, menurutnya, sangat bermanfaat. Terlebih saat ini bayi yang memakai pampers, bisa terkena iritasi karena endapan ompol tidak segera diganti. “Bayi sekarang kalau mengompol, kadang tidak menangis, karena pakai pampers,” ujar Sunario.

Sunario tidak kaget dengan apa yang ditemukan oleh Fira dan Bramastro, karena memang keduanya berbakat dan aktif dalam belajar. “Tidak pernah berhenti bertanya, selalu tanya, sampai kadang saya ini bosan menjawabnya,” kata dia.

Rasa keingintahuan keduanya tampaknya sudah terjawab dengan penemuan alarm bayi ini. Keduanya memang berbakat dengan pernah menjurai kompetisi menari, sampai menulis cerpen. Karya Fira dan Bram ini menyabet penghargaan dalam kontes Junior Science Award 2011. (eh)


• VIVAnews
READ MORE - Siswa SD Ini Temukan Alarm Ompol untuk Bayi

Siswa SD:Kulit Telur Percepat Pembekuan Darah

Luka akan terasa perih sekali, namun darah akan beku lebih cepat.

Cangkang telur ditumbuk sampai lembut dan setelah itu bubuk cangkang telur ditaburkan ke bagian tubuh yang luka. Luka akan terasa perih sekali, namun darah akan beku lebih cepat. (www.vcdave.com)

VIVAnews - Berawal dari belajar proses pembekuan darah di mikroskop, naluri keingintahuan L. Krisna Wardhana, siswa SD Cahaya Nur, Kudus tentang pembekuan darah berkembang. Apalagi ia melihat banyaknya kulit telur yang terbuang, mubazir di rumahnya.

Saat tengah menikmati telur, makanan kegemarannya, ia terpikir apakah telur bisa bermanfaat untuk pembekuan darah.

Dibantu gurunya, Krisna melakukan penelitian dan pendalaman tentang teori pembekuan darah selama dua bulan. Percobaan dilakukan di rumah dan di sekolah.

Secara rinci, Krisna menjelaskan, cangkang yang diambil dari kulit telur, merupakan cangkang terluar. Cangkang kemudian ditumbuk sampai lembut. Dan setelah lembut, cangkang ditaburkan ke bagian tubuh yang luka. “Cara ini akan terasa perih sekali,” ujar Krisna, saat VIVAnews temui di Junior Science Fair, 10 September 2011.

Secara teoritis, Krisna menjelaskan bahwa dalam cangkang telur mengandung kalsium. “Kalsium inilah yang membantu mempercepat darah membeku,” ucapnya. “Kalsium membantu Protombin membentuk benang-benang Fibrin,” ucap Krisna.

Sebagai informasi, ketika luka mulai mengeluarkan darah pada tubuh kita, maka, Trombosit pecah dan mengeluarkan enzim Trombokinase atau Tromboplastin. Enzim segera bergabung dengan kalsium untuk membekukan darah dengan membentuk benang-benang Fibrin.

“Dengan tambahan kalsium dari cangkang telur, pembekuan semakin cepat karena sebelumnya dalam tubuh manusia terdapat kalsium juga,” kata Wahyu Intan, guru pendamping Krisna. “Kalsium tubuh kita dengan kalsium dari cangkang telur, mempercepat pembekuan darah,” jelasnya.

Menurut Krisna, hasil dari penerapan penemuan tersebut, jika luka diberi cangkang telur, pembekuan mencapai kurang dari 1 menit. Bandingkan dengan luka yang tanpa diberi cangkang telur, yang baru membeku dalam 2 menit.

“Ternyata gampang dicoba dan darah mudah membeku, ” kata Krisna.

Bakat Krisna ini didukung oleh orang tuanya yang seorang dokter. Seluruh kebutuhan untuk melakukan pengamatan selalu diperhatikan oleh orang tuanya. “Dia termasuk anak yang aktif, orang tuanya sangat mendukung,” ujar Wahyu. (eh)


• VIVAnews

READ MORE - Siswa SD:Kulit Telur Percepat Pembekuan Darah

Siswa SD Ciptakan Magic Water Filter

Menggunakan bahan sederhana, alat buatannya membuat air menjadi jernih secara signifikan.

Dengan menggunakan bahan-bahan yang sederhana, Patricia mulai merancang alat yang disebut Magic Water Filter yang terdiri dari 6 wadah yang disusun secara hirarkis, dari atas ke bawah. (Wikimediacommons)
 
VIVAnews - Pengamatan terhadap lingkungan kembali melahirkan sebuah penemuan. Kali ini, temuan dilakukan oleh Janice Patricia, siswi SD Kristen 6 Penabur, Jakarta.

Di lingkungannya, di daerah Kelapa Gading, warga selalu kekurangan air bersih. Air untuk minum dan mencuci di sumur milik warga umumnya kotor. Melihat kondisi tersebut, Patrice, berusaha menemukan sebuah alat agar air menjadi bersih.

“Di daerah tempat tinggal saya, air harus disaring dulu agar bersih,” kata Patricia saat dijumpai VIVAnews di Junior Science Fair, 10 September 2011.

Kebetulan, saat itu ia sedang mendalami sirkulasi air. Patricia kemudian mengkonsultasikan hal tersebut kepada gurunya. Akhirnya sang guru pun mengarahkan Patricia untuk membuat penyaring air kotor.

Dengan menggunakan bahan-bahan yang sederhana, Patricia mulai merancang alat yang disebut Magic Water Filter. Alat ini terdiri dari 6 wadah yang disusun secara hirarkis, dari atas ke bawah.

Masing-masing wadah dihubungkan dengan selang bening untuk mengalirkan air dari atas. Alat ini tingginya se perut orang dewasa.

Sebelum dituangkan dalam alat tersebut, air yang keruh dimasukkan dalam wadah dengan diberi biji Kelor. Seperti diketahui, biji kelor (Moringa Olipiera) bisa berfungsi untuk menjernihkan dan mengendapkan air keruh dan telah dipakai sebagai bahan kosmetik dan disinfektan. Setelah didiamkan, kotoran mengendap.

Air yang masih keruh tersebut kemudian dituangkan dalam Magic Water Filter. Wadah yang paling atas diisi dengan kerikil yang berfungsi untuk menyaring padatan kasar seperti daun dan sampah. Wadah kedua berisi pasir, berfungsi untuk menyaring padatan halus. Wadah ketiga yang berisi arang karbon aktif, ini berfungsi untuk menyerap rasa, dan menghilangkan bau serta bakteri.

Kemudian wadah yang dibawahnya berisi Batu Zeolit, yang berfungsi mengikat zat besi, alumunium dan magnesium dalam air. Wadah di bawahnya berisi ijuk kelapa, berfungsi untuk menyaring kembali. Dan terakahir wadah yang berisi spon, berfungsi untuk menyaring kotoran secara eksterm.

Setelah sampai di wadah terakhir dapat dilihat bahwa air telah menjadi jernih secara signifikan, sejernih air mineral. (umi)


• VIVAnews
READ MORE - Siswa SD Ciptakan Magic Water Filter

Saturday, September 10, 2011

Dana Minim Hambat Riset Sains di Indonesia

 "Tanpa inovasi tidak ada kemajuan."

Peneliti melakukan riset dengan mikroskop (sefora.org)

VIVAnews – Pendiri Kalbe Farma, Boenyamin Setiawan, menyatakan bahwa riset dan inovasi sains amat menentukan kemajuan suatu bangsa maupun perusahaan. Sayangnya, kata dia, dana penelitian di Indonesia masih sangat minim.

Boenyamin mengatakan, berdasarkan data Kementerian Riset dan Teknologi, dana penelitian di Indonesia hanya Rp10 triliun dari total gross national product (GNP) Rp7 ribu triliun. Padahal, lanjutnya, dana penelitian di negara-negara maju sangat besar. Amerika Serikat misalnya, mengalokasikan dana US$400 miliar, China US$190 miliar, Jerman US$80 miliar, Prancis US$80 miliar, dan India US$60 miliar. “Tanpa inovasi tidak akan ada kemajuan,” tegas Boenyamin.

Prinsip itulah yang membuat PT. Kalbe Farma menggelar kompetisi sains untuk anak usia dini yang bertajuk ‘Junior Science Fair 2011,’ bertepatan dengan ulang tahun Kalbe Farma yang ke-45.

“Kompetisi ini diikuti oleh 199 karya tulis dari 63 sekolah di 22 kota 10 provinsi di Indonesia. Dari 199 karya, disaring mejadi 19 karya,” ujar Ketua Panitia Perayaan HUT ke-45 Kalbe Farma, Luhur Budijarso, di sela-sela pameran JSF 2011 di Jakarta Convention Centre, Sabtu 10 September 2011. Dari 19 karya yang tersaring itu, lanjutnya, terpilihlah 9 pemenang.

Karya yang memenangi JSF 2011 itu di antaranya berjudul ‘Pendeteksi Kadar Air Biji Sederhana,’ ‘Perkecambahan Benih dengan Metode Kupas kacang Biji,’ ‘Alarm untuk Bayi Mengompol,’ ‘Magic Water Filter,’ ‘Pemanfaatan Limbah Kulit Telur untuk Mempercepat Pembekuan Darah,’ ‘Antena Dahsyat,’ ‘Permainan Maju Mundur Matematika, dan ‘Permainan Matematika Melatih Mencari Selisih.’

“Para siswa itu menemukan karya tersebut karena peduli dengan lingkungan mereka masing-masing,” kata Luhur.

Dalam kesempatan itu, Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Suyanto, mengatakan bahwa pihaknya akan mendorong perkembangan sains, demi kesejahteraan masyarakat. “Misalnya dengan diberikan beasiswa,” kata Suyanto.




• VIVAnews



READ MORE - Dana Minim Hambat Riset Sains di Indonesia

Monday, September 5, 2011

Mahasiswa UNY kembangkan pengusir tikus

ilustrasi Petani menunjukkan tikus hasil tangkapannya (ANTARA/Siswowidodo)
 
Yogyakarta (ANTARA News) - Mahasiswa Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Soni Maringgih mengembangkan alat pengusir tikus berbasis mikrokontroler yang menghasilkan gelombang suara dengan frekuensi sangat tinggi atau ultrasonik.

"Alat pengusir tikus itu menggunakan rentang frekuensi sesuai dengan batas pendengaran tikus, tetapi di atas batas pendengaran manusia, sehingga tidak berbahaya bagi manusia," kata Soni di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, alat tersebut didesain dengan dua bagian pokok perangkat, yakni perangkat lunak dan perangkat keras. Perangkat keras terdiri atas sistem yang berfungsi sebagai kendali utama, yakni pengolah data dan pengontrol keseluruhan sistem.

"Masukan berupa tombol pengatur gelombang dan keluaran berupa `liquid crystal display` (LCD) yang berfungsi untuk menampilkan berapa gelombang yang dihasilkan dan `speaker` untuk mengeluarkan gelombang ultrasonik," katanya.

Ia mengatakan cara kerja alat itu diawali dengan memilih frekuensi melalui penekanan tombol pemilih frekuensi yang telah disediakan. Sistem akan memproses data yang telah diprogram dan meneruskannya ke transistor untuk diperkuat, selanjutnya ke "speaker".

"Speaker" mengeluarkan frekuensi yang dapat didengar (10kHz dan 15kHz), dan yang tidak dapat didengar (30kHz dan 40kHz), kemudian LCD akan menampilkan berapa frekuensi yang dikeluarkan oleh rangkaian tersebut.

"Ke depan, saya masih ingin mengembangkan alat pengusir tikus ini dengan memperluas cakupan gelombang frekuensi. Dengan demikian, alat tersebut dapat digunakan di mana pun, karena saat ini jangkauan jarak terjauh alat itu hanya sekitar lima meter," katanya..(B015*H010) 



• ANTARAnews
READ MORE - Mahasiswa UNY kembangkan pengusir tikus

Thursday, August 25, 2011

Biofuel Generasi Kedua, Dari Rumput dan Limbah

TEMPO Interaktif, Jakarta - Pipa dan tangki stainless steel tersusun rapat dalam kolom setinggi 4lantai di sebuah pilot plant Pusat Penelitian Kimia, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Banten. Dalam struktur rumit itu, para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengubah kayu, jerami, dan rumput menjadi bahan bakar.

"Pilot plant ini bagian dari tren baru dunia dalam menciptakan bioenergi dari bahan nonpangan, menghasilkan pengganti bensin generasi kedua," ujar peneliti bioetanol dari Pusat Penelitian Kimia, LIPI, Yanni Sudiyani, kepada Tempo pekan lalu.



Berbeda dengan bioetanol generasi pertama yang dihasilkan dari pati, misalnya dari tanaman singkong, tebu, atau jagung, yang teknologi prosesnya mudah. Bioetanol generasi kedua berasal dari biomassa limbah pertanian atau kehutanan.



Biomassa bahan selulosa atau lignoselulosa memerlukan teknologi yang prosesnya sangat sulit karena perlu perlakuan awal atau pretreatment. Teknologi pengembangan bioetanol yang menjadi campuran bahan bakar premium generasi kedua untuk saat ini masih banyak kendala dan masih terbilang mahal.



Pengembangan bioetanol dari tumbuhan ini dipicu oleh krisis energi dunia. Menipisnya cadangan minyak dunia menimbulkan kekhawatiran akan ketersediaan energi.



Data Dewan Energi Nasional (DEN) memperlihatkan selang waktu 2006 hingga 2030, permintaan energi dunia meningkat hingga 45 persen sehingga dibutuhkan sumber energi alternatif selain bahan bakar fosil.



Peneliti kemudian melirik etanol sebagai bahan bakar alternatif. Etil alkohol bersifat tak berwarna, sedikit berbau, dan mudah terbakar.



Pembakaran etanol menghasilkan uap air dan karbon dioksida dalam jumlah relatif lebih rendah dibanding bahan bakar fosil. Rendahnya emisi karbon etanol membuat bahan bakar ini sebagai alternatif tepat pengganti bahan bakar fosil yang dituding sebagai sumber terbesar gas rumah kaca.



Dalam satu dekade terakhir, Brasil menjadi negara paling gencar menggenjot penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif. Negara yang memproduksi seperempat suplai gula global ini menjadi contoh bagaimana bioetanol dari tebu bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan energi manusia.



Sayangnya, energi alternatif ini terhambat masalah harga. Bahan baku pembuatan bioetanol umumnya berasal dari gandum, jagung, tebu, dan kentang yang menjadi sumber utama pangan dunia. Lonjakan harga komoditas ini membuat bioetanol tak ekonomis lagi.



Lignoselulosa yang berasal dari limbah berbagai tanaman pangan, berupa kayu, jerami, dan rumput, dianggap sebagai alternatif bahan baku bioenergi yang paling potensial. Dalam beberapa tahun terakhir, LIPI meneliti pemanfaatan lignoselulosa sebagai bahan baku pembuatan etanol.



Limbah rumput dan jerami kering serta kayu umumnya mengandung biomassa lignoselulosa, yaitu selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Pada tumbuhan, kandungan lignoselulosa mencapai 90 persen total biomassa.



Untuk memanfaatkan biomassa ini, para peneliti LIPI harus memisahkan lignin atau zat kayu yang merupakan zat pengikat senyawa lain pada tanaman. Kandungan lignin bisa mencapai 15-30 persen. Proses delignifikasi inilah yang membuat pengolahan lignoselulosa berbeda dengan bioenergi yang bersumber dari pangan.



Setelah lignin dipisahkan, selulosa dan hemiselulosa bisa difermentasi menjadi zat gula yang kemudian diubah menjadi etanol. "Ada perlakuan awal khusus untuk memisahkan lignin dari selulosa dan hemiselulosa agar menghasilkan glukosa," kata Yanni.



Perlakuan awal dimulai dengan proses pencacahan bahan baku rumput, pelepah daun, dan jerami. Proses fisik ini dilakukan berulang-ulang sehingga bahan baku berubah menjadi bagian-bagian kecil.



Material yang telah halus tersebut diberi perlakuan kimia dengan asam atau basa. Bubur material dimasukkan ke dalam mesin hidrolisis agar lignin terpisah dari selulosa dan hemiselulosa. Pemisahan ini merupakan proses yang sulit mengingat struktur selulosa dan hemiselulosa terikat kuat dengan lignin.



Tahap berikutnya adalah hidrolisis enzimatis. Selulosa dan hemiselulosa dimasukkan ke dalam reaktor untuk mengambil sari patinya, gula-selulosa yang mengandung gula karbon 6 (C6) atau gula karbon 5 (C5), seperti xylose. Untuk memecah gula tersebut, diperlukan dua spesies bakteri berbeda, yaitu bakteri ragi (Sacharomyces cerevisae) untuk C5 dan bakteri coli, Pichia sp, untuk C6.



Glukosa hasil fermentasi ini selanjutnya diubah menjadi etanol menggunakan proses yang sama dengan pengolahan bahan bakar nabati dari zat pati yang berasal dari bahan pangan.



Menurut Yanni, LIPI pernah menguji bahan baku tandan kosong kelapa sawit untuk menghasilkan etanol. Proses dalam skala laboratorium menunjukkan 1 ton limbah padat ini bisa menghasilkan 151 liter etanol.



Bahan bakar dalam jumlah besar ini, kata dia, sangat potensial dikembangkan di Indonesia, mengingat negara ini menjadi salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Tak hanya kelapa sawit, biomassa lignoselulosa lainnya juga bisa diperoleh dari tanaman-tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia.



Jerami sebagai limbah tanaman padi juga bisa diolah menjadi etanol. Demikian pula limbah kayu hutan, yang bisa diolah menjadi energi hijau.



"Perlakuan awal khusus ini membuat harga bioetanol generasi kedua relatif lebih mahal," kata Yanni. "Namun, ongkos ini bisa ditebus ketika bahan bakar fosil semakin langka."



Haznan Abimayu, peneliti Puslit Kimia LIPI, mengatakan aneka pilihan sumber bahan baku energi terbarukan belum termanfaatkan di Indonesia. Sebut saja sisa merang atau batang padi dan ampas tebu. Dua limbah industri pertanian ini mencapai 230 juta ton setiap tahunnya. Jumlah ini bisa dikonversikan menjadi 17,618 miliar liter bioetanol.



Potensi lain berasal dari tanaman aren. Haznan memperkirakan produksi aren di Indonesia bisa dikonversi menjadi 11,7 miliar liter bioetanol setiap tahun. Begitu pula tanaman singkong, yang bisa menghasilkan 180 liter bioetanol untuk setiap hektare lahan per tahun.



"Selain berpotensi besar, tanaman-tanaman tersebut tidak dikonsumsi manusia sehingga pengolahannya tak akan mengganggu stok dan harga pangan nasional," ujar Haznan.



[ANTON WILLIAM]



• TEMPOInteraktif
READ MORE - Biofuel Generasi Kedua, Dari Rumput dan Limbah

Tuesday, August 23, 2011

UNS Solo Kembangkan Lilin Antinyamuk

SOLO--MICOM: Mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas

Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, mengembangkan lilin aromaterapi yang juga

berkhasiat sebagai antinyamuk.



Lilin yang wangi bagi manusia tetapi mematikan untuk nyamuk itu dibuat Dwi Hantoko, Dewi Wahyuningtyas, dan Lilis Kristiyani.



Tujuan awalnya untuk diikutsertakan dalam pekan ilmiah mahasiswa. Tapi, karena prospek bisnisnya bagus akhirnya dikembangkan sebagai produk komersial.



"Di pekan ilmiah itu kami kurang beruntung dan harus puas hanya menjadi kontestan. Tapi, rupanya peminat lilin ini cukup banyak, termasuk untuk cinderamata pernikahan," papar Dwi Hantoko di ruang humas rektorat UNS, Selasa (23/8).



Lilin antinyamuk itu dibuat menggunakan campuran parafin dengan ekstrak bunga kamboja putih (Plumeira alba), satu jenis bunga yang banyak tumbuh di areal pemakaman.



Ternyata, di balik konotasi negatif tersebut bunga kamboja juga bisa memberikan sesuatu yang positif. Kandungan senyawa geraniol di dalamnya berguna untuk mengusir nyamuk, sedang sitronela dan linela memberikan efek relaksasi.



"Mengapa bunga kamboja? Karena bunga ini mudah diperoleh dan tumbuh. Berbeda dengan lavender yang hanya bisa tumbuh baik di dataran tinggi," jelas Dwi. (FR/OL-5)





• MediaIndonesia

READ MORE - UNS Solo Kembangkan Lilin Antinyamuk

Thursday, August 18, 2011

LIPI kembangkan bioetanol generasi kedua

ilustrasi Riset (nebraska.edu)



Jakarta (ANTARA News) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merintis pengembangan bioetanol generasi kedua skala "pilot plan" melalui kerjasama dengan Korea International Cooperation Agency (Koica).



"Pilot Plan ini merupakan yang pertama di Indonesia, dan pada 2012 ditargetkan mampu memproduksi bioetanol-lignoselulosa dengan kapasitas 10 liter per hari," kata Peneliti Utama Bioetanol Biomassa Lignoselulosa Pusat Penelitian Kimia LIPI Dr. Yanni Sudiyani pada Workshop "Integrated Sustainable Development Technology of Bioenergy" di Jakarta, Kamis.



Dikatakan Yanni, kerja sama ini merupakan tantangan dan kesempatan bagi LIPI untuk mengembangkan riset untuk menghasilkan inovasi teknologi produksi etanol generasi kedua dan turunannya (by product) dengan pendekatan multidimensi mulai dari hulu penanganan sumber bahan baku, hingga hilir.



"Teknologi pengembangan bioetanol yang menjadi campuran bahan bakar premium generasi kedua untuk saat ini masih banyak kendala dan masih terbilang mahal," katanya.



Berbeda dengan bioetanol generasi pertama yang dihasilkan dari pati misalnya dari tanaman singkong, tebu atau jagung yang teknologi prosesnya mudah, bioetanol generasi kedua berasal dari lignoselulosa yang teknologi prosesnya sangat sulit karena perlu perlakuan awal atau pretreatment, ujarnya.



Dia menjelaskan, biofuel adalah energi berwujud cair yang berasal dari biomassa, bukan saja bisa diciptakan dari tanaman, tetapi juga limbah dari tanaman.



"Indonesia memiliki sumber biomassa yang begitu melimpah di mana salah satu yang prospektif adalah lignoselulosa dari limbah pertanian atau limbah industri," katanya.



Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya kandungan oksigen yang tinggi (35 persen) sehingga jika dibakar sangat bersih, serta ramah lingkungan karena emisi gas karbon monoksida lebih rendah 19-25 persen dibanding BBM sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer.



Bahan bakar nabati (BBN) pada prinsipnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga diesel (berupa biodiesel) dan transportasi, berupa biodiesel dan bioetanol, serta biogas untuk kebutuhan rumah tangga pengganti minyak tanah.



Pengembangan bioenergi atau BBN ini sebagai bentuk dukungan bagi pemerintah Indonesia yang telah berkomitmen pada G-20 di Pittsburgh, Amerika Serikat (AS) dan COP 15 untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 persen (767 juta ton) dengan upaya sendiri melalui pengembangan energi baru terbarukan dan pelaksanaan konservasi energi dari seluruh sektor. (D009)





• ANTARAnews

READ MORE - LIPI kembangkan bioetanol generasi kedua

Friday, August 5, 2011

5 Mahasiswa UMY Kembangkan Listrik Surya


solarcell home system kreasi mahasiswa UMY

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Prihatin dengan kerapnya pemadaman listrik dari PLN yang berdampak buruk terhadap produktivitas pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), 5 mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan Solarcell Home System (SHS) sebagai sumber energi sekunder.

Kelima mahasiswa tersebut adalah Ilham Lutfil Anam, Adi wahyudianto, Afief Amrullah, M. Sholeh Masnawan, dan Fikri Ali. Nawawi. Menurut, Ilham Lutfil Anam, pelaku UMKM kerap mengeluhkan penurunan produktivitas akibat pemadaman bergilir. Selain itu, beban puncak di malam hari membuat para pelaku UMKM tidak dapat bekerja saat malam hari.

"Oleh karena itu diperlukan energi alternatif bagi para UMKM. Sehingga mereka dapat tetap bekerja ketika listrik sedang mengalami gangguan atau dalam proses perbaikan." kata Ilham, Jumat (5/8/2011).

"Kami membuat Solarcell Home System atau Sistem Listrik Surya Skala Kecil. Alat ini kami kolaborasikan dengan kinerja listrik dari PLN. Dengan kolaborasi ini, jika terjadi pemadaman listrik, pelaku UMKM tetap dapat bekerja," paparnya.

Cara kerja alat itu, dimulai dengan pemasangan panel surya. Sinar matahari akan ditangkap oleh panel surya. Kemudian energi sinar tersebut melalui Solar Charge regulator (SCR) tersimpan di batere. Saat listrik PLN mati, secara otomatis Automatic Transfer Switch (ATS) akan menyala.

"Sehingga listrik yang berasal dari batere kemudian melalui SCR akan mengalir ke inverter yang berfungsi mengubah tegangan DC menjadi AC, kemudian dialirkan untuk menggantikan energi listrik PLN," katanya.

"Perpindahan tersebut tidak membutuhkan waktu lama. Seperti halnya ketika menggunakan generator set (genset) yang masih memerlukan waktu untuk menyalakan listrik," kata Ilham lagi.

Berbagai keuntungan diperoleh dengan penggunaan sistem ini. Antara lain, potensi radiasi matahari di Indonesia yang tinggi dan merata memudahkan pemanfaatan metode ini. Selain itu, SHS juga tidak membutuhkan bahan bakar, serta ramah lingkungan karena bebas polusi udara dan suara.

Perawatan alat ini pun tergolong mudah dan sederhana. Sebab, dalam proses kerjanya tidak ada komponen yang bergerak. Karya ini telah diujicobakan di salah satu UMKM konveksi di Jawa Tengah.


• KOMPAS
READ MORE - 5 Mahasiswa UMY Kembangkan Listrik Surya

Thursday, July 28, 2011

Tim Riset Telusuri Bencana di Bali dan NTT

Daerah yang memiliki catatan gempa dan tsunami perlu mendapat perhatian serius.

Daerah yang memiliki catatan gempa dan tsunami perlu mendapat perhatian serius untuk segera diriset, sekaligus memperingatkan akan pentingnya mitigasi di sana. (earthquake.it)

VIVAnews
- Tim Katastropik Purba telah menghimpun data dari berbagai sumber dan penelitian para ahli mengenai dokumentasi gempa bumi dan tsunami di Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores, Nusa Tenggara Timur.

Menurut tim peneliti, daerah yang memiliki catatan gempa dan tsunami di atas perlu mendapat perhatian serius untuk segera diriset, sekaligus memperingatkan akan pentingnya mitigasi di sana.

Berikut ini catatan bencana gempa bumi atau tsunami yang pernah menghantam daerah tersebut. Daftar ini dikumpulkan oleh M. Syahrir dan Jhonson MP, asisten staf khusus SKP BSB yang juga merupakan anggota Tim Katastropik purba:

Bali
22-11-1815: 7.0SR, tsunami, laut, utara Bali; 10.253 tewas
13-05-1857: 7.0SR, tsunami, laut, utara Batur; 36 tewas
1917: tsunami, laut; 15.000 korban

Lombok
25-07-1856: tsunami, laut Flores, timur Lombok

Sumbawa
05-04-1815: letusan gunung Tambora, 7 VEI, tsunami; 10.000 tewas
10-04-1815: tsunami akibat letusan Tambora
08-11-1818: gempa 8.5SR, laut Bali
05-03-1836: laut Flores
28-11-1836: gempa 7.5SR, laut Flores
28-11-1837: pantai barat laut Bima

Flores
14-04-1855: laut selatan Flores
05-10-1891: gempa bumi 7.0SR, laut Sawu, selatan Flores

Nusa Tenggara Timur
1814: selatan NTT; darat



• VIVAnews
READ MORE - Tim Riset Telusuri Bencana di Bali dan NTT

Sunday, July 24, 2011

Huawei dan Telkomsel Jajaki Kerja Sama Riset

TELKOMSEL

SHENZHEN, KOMPAS.com - Inovasi dalam merupakan strategi kunci yang harus dilakukan operator maupun vendor layanan telekomunikasi. Kerja sama riset menjadi salah satu upaya dua belah pihak untuk menghadirkan layanan sesuai kebutuhan pelanggan yang tepat.

"Huawei sudah melakukan joint research center dengan sejumlah leading operator di beberapa negara di dunia. Ini mungkin juga bisa diaplikasikan di Indonesia.
-- Dani K Ristandi"

Upaya menjajaki kerja sama tersebut diungkapkan Pratiknyo Arif Budiman, GM Strategic Technology Planning Telkomsel saat kunjungan rombongan jurnalis dari Indonesia di kantor pusat Huawei di Shenzhen, China, Jumat (22/7/2011).

Huawei pun menyambut kemungkinan kerja sama riset kedua pihak karena program semacam itu memang ada. "Huawei sudah melakukan joint research center dengan sejumlah leading operator di beberapa negara di dunia. Ini mungkin juga bisa diaplikasikan di Indonesia," kata Dani K Ristandi, Deputy Director of Solution Sales Division PT Huawei Tech Investment.

Ia mengatakan, saat ini Huawei telah memiliki 20 kerja sama riset dengan sejumlah partner. Huawei di Indonesia juga sudah memiliki satu pusat riset dan pengembangan yang saat ini fokus pada pengembangan aplikasi dan konten.

"Pengalaman kita dengan case di Telkom Risti untuk proof on concept bukan mendevelop produk baru tapi untuk value added services sangat memungkinkan," lanjut Dani. Pratiknyo menambahkan, kerja sama riset antara operator dengan vendor penting agar layanan yang disediakan benar-benar sesuai kebutuhan pelanggan.

Riset juga menjadi cara mengetahui perilaku konsumen untuk pengembangan produk dan layanan di masa mendatang. "Kami merasa perlu karena mengalami behavoir pelanggan yang agak berbeda dengan operator di negara lain. Misalnya BlackBerry kenapa di Indonesia sangat tinggi, tapi di China tidak," kata Pratignyo.

Dengan mengetahui kebutuhan tersebut bersama-sama, diharapkan ada solusi bersama yang pas bagi konsumen. (Tri Wahono, wartawan KOMPAS.com melaporkan dari Shenzhen, China)


• KOMPAS
READ MORE - Huawei dan Telkomsel Jajaki Kerja Sama Riset

Saturday, July 16, 2011

UGM-Selandia Baru Teliti Potensi Panas Bumi

Rektor UGM Prof Sudjarwadi

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan pemerintah Selandia Baru sepakat menjalin kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian potensi panas bumi, dan pengelolaan bencana.

Nota kesepahaman itu ditandatangani Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Sudjarwadi dan Menteri Pendidikan Selandia Baru, Hon Anne Tolley, di Yogyakarta, Jumat.

Sudjarwadi mengatakan, kerja sama kedua pihak sesungguhnya telah berlangsung sejak lama. Namun, kali ini akan lebih menekankan pada penelitian bersama tentang potensi panas bumi oleh para pakar dari UGM dan Selandia Baru. "Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar di dunia untuk energy. Ini menjadi modal bagi negeri ini berkontribusi di masa depan," katanya.

Menurut dia, untuk masalah kebencanaan, banyak hal yang dapat diteliti oleh kedua pihak. Dari penelitian itu segala sesuatu dapat dibangun kembali, tidak hanya untuk manusia, tetapi juga hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Kedua pihak akan melakukan penelitian secara komprehensif karena Indonesia menyimpan potensi bencana yang beraneka ragam.


• Republika
READ MORE - UGM-Selandia Baru Teliti Potensi Panas Bumi

Tuesday, July 12, 2011

Amerika Temukan Ilmuwannya dengan Indonesia untuk Riset

JAKARTA--MICOM: Pemerintah Amerika Serikat meluncurkan sebuah upaya yang akan mempertemukan para ilmuwan terkemuka asal AS dan Indonesia untuk melakukan riset dalam berbagai bidang yang dianggap penting.

PEER atau Kemitraan untuk Penguatan Keterlibatan dalam Riset merupakan investasi yang diberikan melalui kompetisi untuk mendukung dan membangun kapasitas keilmuan di seluruh dunia.

Demikian siaran pers Kedubes Amerika Serikat di Jakarta yang diterima, Selasa (12/7).
Komponen Indonesia diluncurkan sehari setelah prakarsa internasional ini diresmikan di Washington.

Pada 2010, AS dan Indonesia menandatangani perjanjian bilateral di bidang Ilmu pengetahuan dan teknologi guna memperluas dan memperat hubungan antara komunitas ilmiah kedua negara sebagai bagian dari Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia.

PEER akan memberikan kontribusi penting bagi upaya ini melalui fasilitasi kemitraan penelitian berkualitas tinggi yang merupakan hasil proses analisis penelitian yang kompetitif.

"Bila ilmuwan Indonesia dan Amerika bekerja sama, mereka dapat melakukan hal-hal besar untuk memajukan kehidupan manusia," ujar USAID/Indonesia Mission Director Walter North. (Ant/OL-5)


• MediaIndonesia
READ MORE - Amerika Temukan Ilmuwannya dengan Indonesia untuk Riset

Monday, July 11, 2011

Indonesia Perlu Tingkatkan Penguasaan Sains dan Penelitian

Peneliti Nanoteknologi Bidang Farmasi Kosmetik BPPT, Dr Etik Mardlyiati, M.Eng. TEMPO/Seto Wardhana

TEMPO Interaktif, Jakarta - Utusan Khusus Sains Amerika Serikat, Bruce Alberts, mengatakan Indonesia masih lemah dalam penguasaan sains dan teknologi. Hal itu membuat pembangunan ekonomi Indonesia terus dibayang-bayangi permasalahan pelik, seperti perubahan iklim, pandemi, ketahanan pangan, dan energi.

Indonesia harus memajukan pembangunan kapasitas sumber daya manusia jika ingin mempertahankan kemajuan. "Ekonomi semakin baik sehingga menjadi saat yang tepat bagi Indonesia memajukan pendidikan sains dan penelitian," kata Alberts kepada Tempo pada Jumat, 9 Juli 2011.

Pembangunan ilmu dasar dan penelitian memberi kontribusi signifikan dalam menyelesaikan masalah pembangunan. Negara yang bergerak ke arah kemajuan akan menghadapi masalah kompleks sehingga membutuhkan sumber daya manusia yang pintar menemukan solusi. "Siswa dengan pengetahuan sains baik bisa menyelesaikan masalah dengan cara-cara baru," ujar dia.

Pada saat bersamaan, Indonesia juga membutuhkan sistem penelitian yang efektif bagi peneliti. Ia menganjurkan lembaga penelitian menerapkan sistem pengucuran dana riset berbasis manfaat. Dengan demikian, terjadi kompetisi yang membuat peneliti terpacu membuat penelitian lebih baik dibandingkan rekan peneliti lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan panel independen yang menguji dan memilih proposal penelitian.

Infrastruktur penelitian juga harus ditingkatkan. Ia prihatin terhadap fasilitas penelitian di perguruan tinggi ternama yang sangat terbatas dan ketinggalan zaman. Hal ini berkaitan dengan porsi dana penelitian di Indonesia yang baru sebesar 0,06 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Porsi ini jauh dari angka ideal yang banyak dicapai negara-negara dengan pembangunan berkelanjutan sebesar 1,5 persen. Indonesia bahkan ketinggalan dibanding negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi lainnya, seperti Cina, yang mencadangkan dana penelitian hingga 3 persen PDB.

Amerika Serikat sendiri mengungkapkan komitmen pembangunan sistem penelitian berbasis manfaat bagi peneliti ilmu dasar dan rekayasa. Program bernama Partnerships for Enhanced Engagement in Research (PEER) mendapat alokasi dana sebesar US$ 7 juta dan digunakan untuk pengembangan penelitian energi alternatif, perubahan iklim, penyakit berbahaya, ilmu kelautan, dan genetika padi.

Indonesia juga bisa mendorong perusahaan-perusahaan internasional mendirikan pusat penelitian tingkat tinggi di Indonesia. "Membuka pusat penelitian berarti penyediaan lapangan kerja baru bagi peneliti sains," katanya.[ANTON WILLIAM]


• TEMPOInteraktif
READ MORE - Indonesia Perlu Tingkatkan Penguasaan Sains dan Penelitian

Monday, July 4, 2011

Universitas Brawijaya Ciptakan Kompor Cangkang Kelapa Sawit

TEMPO Interaktif, Malang - Dosen Jurusan Fisika FMIPA Universitas Brawijaya Malang, Nurhuda, mengembangkan kompor biomassa ciptaannya dengan beragam inovasi. Kini, Nurhuda berhasil menciptakan kompor berbahan baku cangkang kelapa sawit yang diberi nama Kompor UB-03-1.

Keunggulan kompor kelapa sawit terletak pada api yang tidak menghasilkan asap, hemat, dan pembakaran yang sempurna karena api berwarna biru. "Cangkang kelapa sawit memberikan nyala api lebih biru dan bersih dibanding bahan bakar lain seperti kayu dan serasah daun," kata Nurhuda, Senin 4 Juli 2011.

Daya tampung bahan bakar kompor sekitar 1,5 kg dan mampu menyala hingga 90 menit. Nurhuda menghitung cangkang seberat 2,5 kg bisa disetarakan dengan 1 kilogram LPG. Kompor biomass ini menggabungkan 4 teknologi, yakni pre-heating, counter flow, diffuse combustion, dan regulation.

Sebelum menciptakan Kompor UB-03-1, Nurhuda sudah menciptakan 3 kompor, yakni Kompor UB-01, UB-02, dan UB-03. Semua kompornya ini berbahan baku biomassa, seperti sampah organik, kayu, dan serasah.[BIBIN BINTARIADI]


• TEMPOInteraktif
READ MORE - Universitas Brawijaya Ciptakan Kompor Cangkang Kelapa Sawit

Friday, July 1, 2011

Mi Instan Kaya Zat Besi dari Universitas Brawijaya

TEMPO Interaktif, Malang - Laboratorium Food Production and Training Centre (FPTC) Fakultas Ilmu dan Teknologi Pertanian (FITP) Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Jumat siang pekan lalu, 24 Juni 2011. Suasana hiruk-pikuk. Ada yang sedang membungkus aneka kudapan, ada yang memasak, ada pula yang sedang melayani pembeli.

Selain sebagai penghasil makanan olahan, FPTC juga berfungsi sebagai toko. Di tempat ini, mahasiswa dan dosen FITP bisa menjual makanan atau minuman hasil inovasinya. "Kami mencoba menjual mi instan di tempat ini. Saya yakin laku keras," kata Meidina Nurfitrasari, mahasiswa semester VIII FITP yang sedang memasak di dapur FPTC.

Meidina Nurfirasi baru saja menemukan mi instan kaya akan zat besi. Meneliti bersama Ricki Setiawan dan Maya Mukti yang sama-sama mahasiswa FITP, mi instannya berasal dari campuran tepung terigu, singkong, ubi jalar kuning, belut, dan tempe. "Semua dari bahan lokal," ujar Meidina.

Penelitian 3 mahasiswa ini dimulai lima bulan lalu. Berawal dari keinginan mereka mengikuti kompetisi pangan antarmahasiswa sedunia yang diadakan oleh Institute of Food Technologists (IFT). Tema kompetisi tersebut adalah cara menanggulangi kekurangan zat besi melalui pangan di negara berkembang.

Awal penelitian dimulai dengan studi literatur selama sebulan. Mereka menemukan belut dan tempe banyak mengandung zat besi. Dalam banyak literatur disebutkan, kandungan zat besi dalam belut dan tempe mencapai sekitar 25-30 persen.

Dalam studi literatur, Indonesia tercatat sebagai negara yang paling banyak mengkonsumsi mi setelah Cina. Pada 2009, jumlah mi yang dikonsumsi orang Indonesia sebanyak 139,3 juta bungkus dan meningkat menjadi 144 juta bungkus pada 2010.

Setelah menemukan jenis makanan yang akan diproduksi, mereka kemudian mempelajari cara membuat mi.

Ternyata, dibutuhkan bahan lain, selain belut dan tempe, yakni tepung terigu. Mereka berpikir mi yang akan diproduksi tak akan banyak berbeda dengan mi pada umumnya jika campurannya hanya tepung terigu.

Mi buatan Mei dan dua temannya ini dibuat dalam kemasan 70 gram dengan kandungan zat besi sebesar 40 persen. Soal bentuk, tergantung selera. Bisa bulat atau kotak. Mi juga bisa dibuat basah atau kering. Namun, trio mahasiswa ini memilih membuat mi kering agar tahan lama. "Masa kedaluwarsanya 6 hingga 8 bulan," kata Ricki.

Kerja keras mereka tak sia-sia. Dalam Kompetisi Teknologi Pangan se-Dunia 2011 yang digelar oleh IFT di New Orleans, Lousiana, Amerika Serikat, 11-14 Juni 2011 lalu, mereka sukses.

Penelitiannya yang diberii judul "Melawan Masalah Kekurangan Zat Besi Melalui Produksi Mi Instan Kaya Zat Besi dengan Memanfaatkan Bahan-Bahan lokal" berhasil menyabet juara pertama. Sedangkan juara kedua diraih oleh tim dari Universitas Gadjah Mada Yogtakarta dan juara ketiga disabet oleh tim dari Institue of Chemical Technology India.

Menurut dosen pembimbing mahasiswa, Agustin Krina Wardani, keunggulan mi buatan mahasiswa FITP ini terletak pada besarnya kandungan zat besi. Selain itu, produknya akan digemari masyarakat karena mi merupakan produk yang populer dan menggunakan bahan-bahan lokal. "Produk mereka bisa membantu program pemerintah dalam mengatasi masalah kekurangan zat besi dan mendorong peningkatan produk pertanian," katanya.[BIBIN BINTARIADI]


• TEMPOInteraktif
READ MORE - Mi Instan Kaya Zat Besi dari Universitas Brawijaya

Friday, June 24, 2011

Undip Ujicoba Energi Gelombang Laut

REPUBLIKA.CO.ID,SEMARANG--Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengujicobakan pemanfaatan energi gelombang laut untuk mendukung program pengembangan energi baru dan terbarukan.

"Pemanfaatan energi gelombang laut ini masih dalam uji laboratorium di pesisir selatan Pacitan," kata Rektor Undip Semarang, Sudharto P Hadi kepada wartawan, usai Rapat Kerja

Badan Kerja Sama (BKS) Perguruan Tinggi Negeri-Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jumat petang.

Menurut dia, pemanfaatan energi gelombang laut ini merupakan salah satu upaya Undip dalam mendukung pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia serta dalam rangka pelestarian lingkungan.

Ia mengatakan, selama ini pemanfaatan energi gelombang laut yang paling bagus adalah di Jepang. "Di Jepang sudah terbukti. Kita masih dalam tahap uji laboratorium," kata dia menegaskan.

Dalam hal ini, kata dia, uji coba pemanfaatan energi laut tersebut dilakukan Undip bersama Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.

Menurut dia, saat ini 95 persen energi yang digunakan di Indonesia masih berupa fosil, antara lain gas alam dan minyak.

"Sementara lima persen lainnya berupa air, angin, surya, biogas, dan biomassa. Nah, pemerintah menargetkan tahun 2025 itu, lima persen meningkat menjadi 17 persen. Itu bukan pekerjaan yang mudah," katanya.

Ia mengatakan, pemanfaatan energi baru dan terbarukan yang telah dikembangkan Undip berupa mikrohidro, biogas, dan biomas, antara lain di wilayah Pekalongan.


• Republika
READ MORE - Undip Ujicoba Energi Gelombang Laut

Blog Archive