Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Showing posts with label ITS. Show all posts
Showing posts with label ITS. Show all posts

Saturday, September 24, 2011

ITS-DSME Korea lakukan riset "floating-LNG"

Surabaya (ANTARA News) - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan "Daewoo Shipyard and Marine Engineering" (DSME) Korea melakukan riset bersama tentang "Floating-LNG" (FLNG).

Hasil riset bersama itu dikaji dalam workshop ke-5 di kampus setempat, Kamis (22/9). Workshop itu menyampaikan kajian-kajian terkini dalam pengembangan teknologi FLNG.

"Workshop kali ini merupakan waktu yang tepat untuk menyampaikan hasil yang telah dicapai pada join riset tahap pertama pada tahun lalu," kata Rektor ITS Prof Dr Ir Trioyogi Yuwono DEA.

Oleh karena itu, workshop F-LNG itu menjadi sangat penting, karena kelangkaan energi sudah menjadi isu internasional yang dibarengi dengan adanya isu penggunaan energi bersih untuk kemaslahatan manusia.

"ITS sebagai salah satu universitas teknik terbesar di Indonesia mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk menjawab masalah kelangkaan energi yang dihadapi masyarakat," katanya.

Senada dengan itu, "Vice President of DSME" Dr Jung Han Lee mengatakan, kerja sama riset ini menjadi sangat strategis, mengingat banyaknya cadangan gas alam Indonesia.

Hal itu melihat kondisi beberapa daerah di Indonesia yang tidak memungkinkan untuk menggunakan "fixed structure", karena itu pemanfaatan teknologi FLNG akan menjadi sangat penting untuk mengeksploitasi gas, memproduksi LNG dan mentransfer LNG.

"ITS menjadi bagian dalam pengembangan teknologi tersebut dankerja sama riset itu akan menjadi masukan yang sangat bermanfaat bagi pemerintah Indonesia dalam menentukan kebijakan pengelolaan gas alam di masa yang akan datang," katanya.

Dalam kesempatan itu, juga dilangsungkan penandatanganan perjanjian "join riset" tahap II antara ITS dan DSME.

"Join riset" tahap I berakhir pada akhir 2010. Pada Tahap I, "conceptual design" dari FLNG berdasarkan komposisi gas beberapa ladang gas alam di Indonesia.

Sementara tahap II akan diarahkan untuk melanjutkan desain konseptual yang diperoleh di tahap I menjadi desain yang lebih detail, termasuk memasukkan beberapa aspek lingkungan dan keselamatan secara lebih mendalam.

Sebelumnya (21/9), sebanyak 150 peneliti MIPA dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya-Indonesia dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM) bertemu dalam "International Conference and Workshop on Basic Sains" (ICoWoBaS) di Surabaya pada 21-23 September.

"Itu pertemuan peneliti MIPA Unair dan UTM yang ketiga kalinya, karena kami sudah pernah mengadakan pertemuan pertama di Surabaya pada tahun 2007 dan pertemuan kedua di Johor pada tahun 2009," kata Wakil Ketua ICoWoBaS III, Dr Nanik Siti Aminah.

Ketika ditemui ANTARA di sela-sela konferensi internasional Unair-UTM itu, ia menjelaskan ICoWoBaS merupakan pertemuan yang membahas hasil riset bersama yang dilakukan peneliti Unair-UTM di bidang ilmu dasar yakni Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika. (E011/M026)



• ANTARAnews
READ MORE - ITS-DSME Korea lakukan riset "floating-LNG"

Saturday, July 16, 2011

ITS Minta BC Tak Tahan "Sapu Angin"

Surabaya (ANTARA News) - Para mahasiswa anggota tim mobil "Sapu Angin" dari Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Surabaya (ITS) meminta Bea Cukai (BC) tidak menahan juara mobil hemat se-Asia itu di pelabuhan.

"Itu (mobil Sapu Angin) bukan mobil komersil, tapi mobil yang justru membawa nama bangsa dalam kompetisi mobil hemat se-Asia di Malaysia pada 7-9 Juli lalu," kata Ketua Tim "Sapu Angin" ITS, Eko Hardianto, Jumat.

Didampingi anggota tim Sapu Angin 3, 4, dan 5, ia menjelaskan tim mobil Sapu Angin sudah tiba di kampus ITS pada Kamis (14/7) pukul 19.00 WIB, sedangkan mobil "Sapu Angin" masih dikirim lewat jalur laut.

"Kapan mobil Sapu Angin akan datang, kami belum tahu, karena itu kami minta kerja sama yang baik dari pihak Bea Cukai untuk tidak menahan mobil kami seperti tahun lalu," katanya.

Tahun lalu, mobil "Sapu Angin 2" yang menjadi juara mobil hemat se-Asia juga ditahan di pelabuhan oleh pihak Bea Cukai selama satu bulan.

"Pihak Bea Cukai meminta tebusan Rp40 juta, padahal mobil itu bukan komersil. Kami sendiri mengeluarkan dana Rp100 juta untuk biaya kirim dan pulang mobil kami," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta Bea Cukai mendukung prestasi mereka, sebab mereka juga sudah menghabiskan biaya besar, yakni biaya pembuatan Rp180 juta untuk tiga mobil dan biaya akomodasi/konsumsi Rp100 juta, serta biaya kirim/pulang mobil Rp100 juta.

"Masak, kami harus membayar lagi, padahal kami tidak punya biaya itu. Kami memang mendapatkan hadiah uang, tapi hadiah yang kami terima hanya sekitar Rp18 juta, tentu sangat kurang untuk bea masuk," katanya.

Mobil "Sapu Angin 4" mengumpulkan nilai efisiensi 150 kmpl (kilometer per liter) dalam ajang "Shell Eco-Marathon" (SEM) Asia di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia, 7-9 Juli.

Tim Sapu Angin 4 mengalahkan tujuh tim lainnya yang bersaing di kelas "Urban Concept Internal Combustion" dan kelas "Alternative Diesel Fuel."

Pada kelas bahan bakar itu, Sapu Angin 4 menggunakan bahan bakar FAME (Fatty Acid Methyl Ester) alias biodiesel (ramah lingkungan).

Untuk kategori yang sama, tim ITS melalui mobil "Sapu Angin 3" juga meraih posisi ketiga dengan nilai efisiensi 113 kmpl, sedangkan posisi kedua diraih ITB dengan 117 kmpl atau hanya selisih 5 kmpl dengan Sapu Angin 3 dari ITS.

Pada kategori itu (urban concept dan alternative diesel fuel), tim ITS menjadi juara bertahan, karena tahun lalu menempatkan Sapu Angin 2 sebagai mobil paling irit (hemat).

Selain itu, Sapu Angin 5 masuk urutan 8 Asia untuk kelas "prototipe" (purwarupa) berbahan bakar bensin, karena tim dari Thailand lebih unggul dalam kategori prototipe dengan meraih juara pertama.

Namun, Sapu Angin 5 tergolong nomer satu untuk tim dari universitas lain di Indonesia yang bertanding dalam kategori itu yakni Sapu Angin 5 bernilai efisiensi 353 kmpl, sedangkan ITB bernilai 244 kmpl.

Tahun 2011, ITS menurunkan tiga mobil yakni Sapu Angin 3, 4, dan 5. Sapu Angin 3 bermesin diesel 200 cc, Sapu Angin 4 bermesin 100 cc, dan Sapu Angin 5 yang semuanya bermesin 90 cc empat langkah.

Mesin Sapu Angin itu buatan sendiri arek-arek ITS dengan nama Paijo-Experiment (PEX) 90 dan menggunakan sistem kontrol buatan sendiri bernama IQUTECH-E alias "iki utekke" (ini otaknya).

"Selain 100 persen mesin buatan ITS, keunggulan Sapu Angin ada pada kerangka mobil dan tubuh yang ringan, tapi didukung `driver` yang mahir mencermati perubahan cuaca dan kondisi pertandingan," katanya.

SEM merupakan ajang inovasi, imajinasi, dan kreasi menciptakan kendaraan masa depan yang hemat energi, menempuh jarak terjauh, dan ramah lingkungan. Tahun 2011, ada 120 tim/mobil yang mendaftar dan hanya 100 tim/mobil yang berhak bertanding di sirkuit.(E011/S019)


• ANTARAnews
READ MORE - ITS Minta BC Tak Tahan "Sapu Angin"

Monday, July 11, 2011

Pakar ITS Temukan Banyak Bahan Baku Semen dalam Lumpur Lapindo

Lumpur Lapindo

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA - Pakar fisika zat mampat dari ITS Surabaya Prof Dr Darminto MSc menemukan kandungan semen hingga 59 persen dalam lumpur di kawasan eksplorasi PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

"Kita memiliki zat mampat yang belum dimanfaatkan secara optimal atau hanya dimanfaatkan sebagai bahan mentah. Padahal, bila dioptimalkan akan bernilai jual tinggi, seperti pasir besi, batu kapur atau silika, bahkan lumpur di Sidoarjo," katanya di Surabaya, Senin.

Menjelang pengukuhan dirinya sebagai guru besar ke-101 ITS pada Rabu (13/7) mendatang, guru besar dari Jurusan Fisika F-MIPA ITS itu mengatakan, pihaknya telah menggandeng Balai Teknologi Permukiman PU Jatim untuk meneliti lumpur di Sidoarjo itu.
"Hasilnya, lumpur Lapindo, terutama yang sudah kering, ternyata mengandung unsur semen 59 persen dan saat dicoba pada industri paving block justru memiliki kekuatan dua kali lipat semen," katanya.

Namun, kata alumnus ITB Bandung itu, hasil penelitian itu belum ditindaklanjuti dalam skala industri. "Yang jelas, kandungan semen pada lumpur Lapindo cukup tinggi yakni 59 persen lumpur dicampur bahan baku bangunan akan setara dengan 61 persen semen dicampur bahan baku bangunan," katanya.

Perbandingan yang setara itu akan membutuhkan biaya yang jauh lebih murah bila menggunakan semen. "Jadi, paving block yang biasanya menggunakan semen, pasir dan kerikil, nantinya semen dapat diganti lumpur," katanya.

Saat ini, pihaknya juga sedang melakukan penelitian skala laboratorium untuk pasir di Sidoarjo yang diduga memiliki kandungan semen yang cukup tinggi juga.

Menurut ayah dari dua anak yang juga guru besar ketujuh di FMIPA ITS itu, zat mampat (cairan yang padat) lainnya berupa pasir besi, batu kapur, atau silika juga dapat dioptimalkan seperti halnya lumpur Lapindo itu. "Misalnya, pasir hitam yang mengandung besi itu bila dijual untuk bahan bangunan seperti apa adanya akan bernilai jual sangat murah, tapi bila diolah dengan teknologi sederhana akan bernilai jual tinggi," katanya.

Pasir besi, katanya, dapat dipisahkan menjadi magnit dan bukan magnit dengan alat sederhana, kemudian magnit yang dihasilkan dijual ke indutsri alat sensor, "load speaker", dan sebagainya.
"Kalau berupa pasir, maka satu truk akan berharga Rp40 ribu, tapi kalau magnit yang ada dalam jumlah satu sak bisa berharga Rp35 ribu," katanya.

Untuk memisahkan magnit dari pasir besi, lanjut dia, pihaknya sudah merancang alat sederhana yang dapat dilakukan masyarakat awam, termasuk penambang pasir di sungai.


• Republika
READ MORE - Pakar ITS Temukan Banyak Bahan Baku Semen dalam Lumpur Lapindo

Sunday, July 10, 2011

ITS Kembali Juara Mobil Irit Se-Asia

Mobil Sapu Angin 4 yang dibuat oleh tim dari Institut Teknologi 10 Nopember. Janson Lee Kok Wooi/Shell via AP

TEMPO Interaktif
, Kuala Lumpur - Institut Teknologi Surabaya mempertahankan gelarnya sebagai perancang mobil paling irit dalam Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2011 yang digelar di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia 7-9 Juli 2011.

Pada kategori Urban Concept, mobil "Sapu Angin 4" buatan mahasiswa ITS berhasil mengumpulkan nilai efisiensi 149,8 kmpl (kilometer per liter) mengalahkan tujuh tim lainnya yang bersaing di kelas tersebut.

"Kuncinya ada pada peningkatan power pada mobil rancangan kami. Di samping itu, beban mobil juga kami buat seringan mungkin," ujar manajer tim ITS 4, Eko Hardianto, yang ditemui Tempo setelah acara penerimaan hadiah, Sabtu, 9 Juli 2011.

Kemenangan tim ITS 4 dengan mobil Sapu Angin-nya kian lengkap setelah ditetapkan sebagai juara dalam kelas alternative-diesel fuel urban concept, karena menggunakan bahan bakar FAME (Fatty Acid Methyl Ester) atau biodiesel. "Kami menggunakan bahan bakar biodiesel karena lebih ramah lingkungan," kata mahasiswa jurusan Teknik Mesin tersebut.

Indonesia mendominasi kelas Urban Concept setelah mobil Cikal Nusantara karya mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengukuhkan diri di tempat kedua dengan perolehan 116,7 kmpl. Sementara di tempat ketiga, tim ITS 3 dengan mobil Sapu Angin 3 melengkapi kemenangan Indonesia setelah membubuhkan 113 kmpl.

Sayang, pada kategori untuk kategori Futuristik (prototipe), mobil karya pelajar Indonesia masih tertinggal dari peserta negara lain. Di kategori mobil berbentuk kapsul luar angkasa ini, peserta asal Thailand, Luk Jao Mae Khlong Prapa, keluar sebagai juara setelah meraih 2.213 kmpl, sekaligus memecahkan rekor tahun lalu 1.522 kmpl yang dibuat tim asal Thailand lainnya, ATE 1.

Tim ITS 5 dengan mobil Sapu Angin 5 hanya berhasil mengumpulkan angka 353 kmpl dan berada di posisi 12. Disusul kemudian oleh tim Rakata dari Institut Teknologi Bandung yang meraih 244 kmpl di tempat ke-13.

Selain penilaian keiritan mobil di dua kategori tersebut, beberapa peserta asal Indonesia juga mendapat penghargaan dari panitia. Cikal Nusantara karya mahasiswa ITB meraih penghargaan pada kelas gasoline fuel award.

Sementara tim Semart 1 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil memenangkan salah satu kategori bergengsi Technical Innovation Award. Dan tim Rakata dari ITB yang berhasil mendapatkan communication award.MASRUR (Kuala Lumpur)


• TEMPOInteraktif

READ MORE - ITS Kembali Juara Mobil Irit Se-Asia

Monday, July 4, 2011

Mobil Sapu Angin Buatan Mahasiswa ITS Makin Irit Bahan Bakar

Mobil Sapu Angin ala mahasiswa ITS. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO Interaktif
, Surabaya - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya terus melakukan penyempurnaan terhadap mobil Sapu Angin yang diciptakannya, sehingga semakin irit n bahan bakar.

Tiga mahasiswa angkatan tahun 2007 itu--Eko Hardianto, Buda Yulia Prasetya, dan Ahmad Nurdin Arpah--menciptakan 3 varian mobil Sapu Angin, yakni Sapu Angin 3, 4, dan Sapu Angin 5.

Eko yang merupakan manajer tim menjelaskan, Sapu Angin 3, 4, dan 5 merupakan penyempurnaan mobil Sapu Angin 2 yang tahun lalu berlaga dalam perlombaan mobil irit bahan bakar tingkat Asia di Sirkuit Sepang, Malaysia.

Menurut Eko, Sapu Angin 3 mirip Sapu Angin 2. Namun, Eko dan kedua kawannya melakukan penyempurnaan, khususnya pada penataan desain dan perubahan pada mesin.

”Hasilnya, dengan satu liter bahan bakar premium Sapu Angin 3 bisa menempuh jarak 300 kilometer. Sedangkan Sapu Angin 2 hanya jarak 238 kilometer,” kata Eko kepada Tempo, Minggu, 3 Juli 2011.

Mobil Sapu Angin 4, kata Eko, mirip dengan Sapu Angin 3. Penggunaan bahan bakarnya juga 300 kilometer per liter. Namun, yang membedakannya dengan Sapu Angin 3, Sapu Angin 4 menggunakan mesin diesel.

Sapu Angin 3 dan 4, menurut Eko, adalah varian yang mengusung konsep urban content atau city car. Kedua varian tersebut juga merupakan cikal bakal untuk bisa diproduksi secara massal.

Perbedaan mesin antara Sapu Angin 2 dan 3 ada pada penggunaan mesin yang mereka namai Paijo Experiment (PEX). PEX yang dulunya hanya memakai satu busi kali ini dikembangkan menjadi 2 busi. "Kami juga gunakan sistem injeksi yang kami namai sistem iki uteke (bahasa jawa berarti ini otaknya)," ujar Eko.

Sistem ini secara harfiah dinamakan IQU-TECH. Namun, untuk mempermudah dan memberikan ciri kas Jawa Timuran, sistem tersebut dibaca dengan iki uteke.

Mobil Sapu Angin 5 bahkan jauh lebih irit. Dengan satu liter premium, mobil ini bisa menempuh jarak 1.500 kilometer. Varian ini masih merupakan prototipe dengan bentuk yang dan bobot yang lebih kecil dibandingkan Sapu Angin 3 dan 4.

Dengan kelebihan masing-masing, ketiga varian Sapu Angin itu akan diikutsertakan dalam ajang lomba mobil irit bahan bakar pada "Shell Eco Maraton Asia Tahun 2011" yang akan digelar di Malaysia, 10-14 Juli 2011 mendatang.

”Beberapa perguruan tinggi di Indonesia juga ikut dalam lomba tersebut. Tapi, Sapu Angin 3 adalah satu-satunya mobil yang menggunakan mesin diesel dalam lomba nanti,” ujar Eko pula.[FATKHURROHMAN TAUFIQ]


• TEMPOInteraktif

READ MORE - Mobil Sapu Angin Buatan Mahasiswa ITS Makin Irit Bahan Bakar

Blog Archive