Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Showing posts with label Ilmu Pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Pengetahuan. Show all posts

Saturday, September 24, 2011

Pengembangan INDOMI dengan Radar Terbesar


SHUTTERSTOCK
-Ilustrasi.

KOMPAS.com - LAPAN saat ini tengah menggiatkan pengembangan INDOMI (Indonesia Monsoon Index). Pengembangan dilakukan dengan Radar Atmosfer Khatulistiwa (RAK), radar terbesar dan terlengkap di khatulistiwa setelah MST (Mesosphere Stratosphere Thermospeher) Radar yang ada di India dan Peru.

Dr Eddy Hermawan, peneliti radar dari LAPAN mengatakan, bahwa INDOMI sudah dikembangkan sejak 2 tahun lalu dan masih berlangsung sampai sekarang. Tujuan pengembangan ini adalah melengkapi pemahaman tentang Monsoon yang berdampak pada iklim Indonesia dan global.

"Selama ini orang memahami Monsoon itu curah hujan, padahal sebenarnya berkaitan dengan angin. Lalu juga selama Monsoon itu dipahami di lapisan bawah atmosfer, padahal di lapisan atas," kata Eddy saat ditemui di gedung BPPT Jakarta, kemarin (22/9/20111).

Menurut Eddy, pemahaman mendasar tentang Monsoon tersebut harus diketahui masyarakat. Dengan demikian, RAK tidak hanya menghasilkan penemuan yang langsung bisa diaplikasikan tetapi lebih pada penguatan kapasitas.

Meski demikian, dengan pengembangan INDOMI, beberapa aplikasi praktis sudah terbayangkan. Misalnya memahami fenomena musim basah panjang dan kemarau panjang yang dalam konteks Indonesia berkaitan erat dengan angin barat dan angin timur.

"RAK bisa melihat pola angin secara 3D. Jadi, pergerakan angin bisa diketahui, lokasinya dimana dan waktunya kapan. Dengan adanya indeks Monsoon ini nanti kita bisa mengetahui kapan terjadinya musim basah panjang dan kemarau panjang," jelas Eddy.

10 Tahun Beroperasi RAK adalah radar terbesar di Indonesia yang ditempatkan di Kotatabang. Radar ini punya kelebihan sebab memiliki antena putar, didesain untuk mencitrakan secara 3D dan bisa memetakan fenomena elektromagnetik pada jarak hingga 100 km.

Radar ini adalah hasil kerjasma LAPAN dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) di Universitas Kyoto, Jepang. Hingga saat ini, RAK telah beroperasi selama 10 tahun.

Peringatan 10 tahun beroperasinya radar ini digelar kemarin di gedung BPPT Jakarta. Setelah 10 tahun beroperasi, beberapa hasil telah didapatkan.

"Dinamika atmosfer di ekuator dan prosesnya semakin banyak yang terkuak. Misalnya tentang plasma bubble, bagaimana naik ke atas," kata Mamoru Yamamoto, professor dari RISH.

Yamamoto menambahkan bahwa beberapa fenomena berhasil ditangkap RAK. "Contohnya, sebelum tsunami Aceh pada 26 Desember 2006, RAK menangkap dinamika atmosfer yang berbeda, meski masih perlu diteliti apakah hal tersebut betul-betul berkaitan dengan tsunami," tambah Yamamoto.

Saat ini, tengah ada proposal kerjasama RISH dan LAPAN lagi untuk menambah radar guna memahami lebih lanjut dinamika atmosfer. Radar tambahan itu 10x lebih sensitif dari RAK. Perwujudan proposal ini akan membantu memperluas pemahaman tentang dinamika atmosfer khatulistiwa.


• KOMPAS
READ MORE - Pengembangan INDOMI dengan Radar Terbesar

Energi Listrik Hibrid dari Pantai Pandansimo

Teknologi ini memanfaatkan potensi sumber daya angin laut dan angin darat.

petani garam manfaatkan kincir angin (Antara/ Saiful Bahri)

VIVAnews
- Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi (RISTEK) tengah mengembangkan pemanfaatan energi listrik hibrid dari hasil potensi energi angin dan energi panas matahari di pantai Pandansimo, Bantul, Yogyakarta.

Terdapat 35 unit turbin angin yang sudah dipasang dengan tinggi rata-rata 18 meter . Terdiri 26 turbin angin dengan kapasitas 1 kW, 6 turbin angin 2,5 kW, 2 turbin angin 10 kW, dan satu turbin angin 50 kW. Ditambah 175 unit sel surya dengan kapasitas 17,5 kWp.

Rahmawan Budiarto, anggota tim peneliti, mengatakan teknologi tersebut memanfaatkan potensi sumber daya angin laut dan angin darat di pantai Pandasimo Bantul yang memiliki kecepatan rata-rata 3-4 meter/detik dan intensitas sinar matahari yang besar dan tetap.

“Kekuatan kecepatan angin di Pandansimo termasuk rendah, sehingga dikombinasikan dengan energi sel surya. Dari keduanya, setiap hari hasilkan 130 kW,” kata Rahmawan, Yogyakarta, Jum'at 23 September 2011.

Instalasi turbin dan sel surya yang sudah terpasang akhir tahun lalu tersebut, kata Rahmawan, telah dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar pantai guna produksi listrik untuk menghidupkan mesin es untuk produksi es balok yang sering dimanfaatkan para nelayan.

“Untuk sementara ini, pemanfaatan energi listrik hibrid ini sepenuhnya untuk membantu pengembangan ekonomi masyarakat nelayan dan petani sekitar,” ujarnya.

Bambang Susilo, salah satu anggota tim pengembangan ekonomi berbasis energi mandiri, menuturkan timnya tengah memanfaatkan energi listrik hibrid untuk mengangkat air dari sumur renteng melalui mesin pompa air. Air tersebut selain mengairi 40 kolam yang masing-masing berukuran 8x4 meter juga dimanfaatkan untuk menyiram tanaman untuk kegiatan pertanian di lahan marjinal.

“Air dari kolam, tiap pagi dinaikin lewat pompa air. Limpahan kotoran air dari kolam ini digunkan untuk menyiram tanaman cabe dan terong, dan bayam” ungkapnya.

Sementara untuk produksi es balok, kata Bambang, saat ini sepenuhnya dikelola oleh kelompok masyarakat sekitar. Tiap hari sekitar 70-100 es balok yang dijual ke nelayan dengan harga Rp 1000 per satu es balok.

Laporan : Erick Tanjung l Yogyakarta, umi



• VIVAnews
READ MORE - Energi Listrik Hibrid dari Pantai Pandansimo

LAPAN: Indonesia Aman dari Satelit Jatuh

Berdasarkan laporan, UARS jatuh saat mengorbit di atas Samudera Pasifik.

Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) (space.com)

VIVAnews
-
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan Indonesia aman dari jatuhya puing-puing satelit Amerika Serikat, Upper Atmosphere Research Satellite (UARS). Lokasi jatuhnya satelit disinyalir terletak di Kanada.

"Indonesia aman dari puing-puing UARS. Karena berdasarkan laporan terakhir sudah jatuh di atas Samudera Pasifik," kata peneliti LAPAN, Thomas Djamaluddin kepada VIVAnews.com, Sabtu 24 September 2011.

Menurut Thomas, UARS terjatuh saat mengorbit pada 120 km di atas Pasifik. Satelit itu sebagian telah terbakar karena gesekan dengan atmosfer.

"Analisis orbit tengah hari tadi menyatakan satelit jatuh dan terbakar pada saat melewati wilayah Pasifik dan Kanada," kata dia.

"Jadi, laporan terakhir menyatakan satelit itu jatuh di sekitar Kanada. Hanya sekarang masih dicari bukti puing-puing itu apakah benar dari UARS," lanjut Thomas.

Satelit pemantau atmosfer ini diluncurkan pada 1991. Satelit seberat 6,5 ton ini dinyatakan tidak beroperasi lagi pada 2005. (ren)



• VIVAnews
READ MORE - LAPAN: Indonesia Aman dari Satelit Jatuh

Thursday, September 22, 2011

Lapan: Rongsokan Satelit Diperkirakan Jatuh Tengah Malam Ini

Upper Atmosphere Research Satellite (UARS). Foto diambil oleh NASA September 1991

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
- Rongsokan Upper Atmosphere Research Satelite (UARS) diperkirakan akan jatuh Jumat (23/9/2011) malam ini. Namun masih terdapat ketidakpastian tentang rentang waktu jatuhnya satelit berbobot 5,9 ton itu.

Professor astronomi dan astrofisika LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), Thomas Djamaluddin mengatakan menurut perkiraan LAPAN, satelit akan menghantam bumi Jumat tengah malam ini.

Namun terdapat rentang ketidakpastian waktu jatuhnya satelit mencapai 24 jam. Perkiraan yang sama juga pada lokasi jatuhnya satelit tersebut.

Sebelumnya NASA (Lembaga Antariksa AS) mengungkapkan bahwa perkiraan lokasi jatuhnya rongsokan satelit ini ialah antara 57 derajat lintang utara hingga 57 derajat lintang selatan.

"Lokasi jatuhnya bisa di manapun dalam wilayah 57 derajat lintang utara dan 57 derajat lintang selatan," ujar Thomas kepada Tribunnews.com, Jumat (23/9/2011) pagi.

Thomas mengatakan LAPAN tetap waspada meski tidak ada kecemasan yang berlebihan akan kemungkinan satelit seukuran bus kota itu jatuh di Indonesia. "Kami terus memantau perkembangannya," kata Thomas.


• Tribunnews
READ MORE - Lapan: Rongsokan Satelit Diperkirakan Jatuh Tengah Malam Ini

Batal Bangun Pabrik di RI, RIM Terganjal Syarat Menkominfo

Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat memaparkan latar belakang mengapa produsen BlackBerry (BB) yaitu Research In Motion (RIM) akhirnya memilih Malaysia untuk menjadi tempat produksi BB secara outsource di Penang, Malaysia.

Menurut Hidayat pihak Indonesia melalui Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan sudah dua kali bertemu pimpinan RIM di kantor pusat RIM di Kanada. Kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di Indonesia, sampai akhirnya tak menemui titik temu terkait syarat yang disodorkan oleh menteri komunikasi dan informasi (menkominfo).

"Mereka kesulitan menghadapi persyaratan menkominfo, ada berapa persyaratan yang tak jelas," kata Hidayat kepada detikFinance, Kamis (22/9/2011)

Hidayat mengatakan setelah tak menemukan titik temu soal persyaratan tersebut, pihak RIM mendadak secara sepihak akhirnya memutuskan meng-outsource produksi BB mereka di Penang Malaysia. Padahal menurut Hidayat pihak RIM sudah menyiapkan rencana investasi skala besar mereka dengan nilai jutaan dolar AS.

Ia menjelaskan dalam tahap awal RIM mengedepankan produksi BB dengan pola outsource terlebih dahulu seperti yang dilakukan mereka di Penang saat ini. Kemudian dalam jangka panjang akan membangun pabrik dengan investasi skala besar.

"Yang dimaksud Pak Gita, nanti investasi besar mungkin mereka memulai dari sistem outsource dahulu," katanya.

Dikatakan Hidayat, ia tak mau berkomentar lebih jauh soal perbedaan pendapat terkait keberadaan pabrik BlackBerry di Penang menurut versi Menkominfo Tifatul Sembiring. "Saya kira Pak Gita bisa tahu karena mendalami hal itu," katanya.

Hidayat menambahkan apa yang ia lakukan bersama Gita Wirjawan adalah demi mendorong perusahaan multinasional yang memiliki pasar besar di Indonesia untuk membuat proses produksi di dalam negeri. Ia tak rela jika Indonesia hanya akan menjadi pasar saja, apalagi pada tahun 2015 nanti Indonesia masuk dalam masyarakat ekonomi ASEAN atau satu pasar ASEAN.

"Kita mencegah jangan market kita digunakan untuk investasi di negara tetangga," katanya.

Meskipun ia mengakui dukungan infrastruktur Indonesia masih kurang namun hal ini bisa ditingkatkan. Indonesia, lanjut Hidayat, pemilik 50% pasar ASEAN yang jumlahnya mencapai kurang lebih 500 juta penduduk.

"Ini menjadi posisi tawar, kalau kita ini tak berjuang keras, nanti lima tahun lagi kita hanya jadi market besar, itu yang kita mau fight dengan Gita," katanya.

Sebelumnya Gita Wirjawan mengatakan RIM ragu membangun pabriknya di Indonesia adalah karena permintaan pembangunan data center oleh pemerintah Indonesia.

"Data center itu loh alasannya," kata Gita beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui pabrik BlackBerry di Malaysia sudah beroperasi sejak 1 Juli 2011 lalu. Hal ini berbeda dengan pernyataan Menkominfo Tifatul Sembiring yang menganggap pabrik RIM itu hanya isu belaka.

Perihal operasional pabrik RIM di Malaysia itu pernah dilansir dari Gizmocrunch, pada 18 Juli 2011 lalu. Dalam berita tersebut dikatakan, Vice President RIM untuk Malaysia, Thailand dan Vietnam, Dany Bolduc, menyatakan Malaysia merupakan tempat yang pas untuk memperkuat pangsa pasar RIM di Asia.

"Demi mendukung permintaan pasar yang kian meningkat di Asia dan seluruh dunia, maka kami dengan bangga bisa mengoperasikan pabrik baru di Malaysia," ujar Bolduc.

Sejak mulai beroperasi pada 1 Juli 2011 silam, RIM berharap produksi dari pabrik tersebut dapat memasok permintaan BlackBerry di seluruh kawasan Asia, termasuk Indonesia sebagai pengguna BlackBerry terbesar di Asia Tenggara.( hen / fyk )


• detikInet
READ MORE - Batal Bangun Pabrik di RI, RIM Terganjal Syarat Menkominfo

Kembang Api Bikinan BPPT Bisa Memanggil Hujan

TEMPO Interaktif, Jakarta - Belasan tabung merah terpasang di kiri dan kanan sayap pesawat CASA NC 212-200 yang terbang di atas langit Riau. Begitu pesawat menembus awan kumulus, tabung berdiameter 5 sentimeter dan panjang 30 sentimeter itu terbakar mengeluarkan percikan bak kembang api serta meninggalkan kepulan asap di belakang pesawat.

Kegiatan menyemai awan tersebut merupakan bagian dari ritual memanggil hujan, yang dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Juni lalu. Asap yang keluar dari tabung menjadi faktor kunci dalam uap air dari udara.

BPPT telah mempelajari teknologi pemanggil hujan ini sejak 1999. Mereka menyebut teknologi ini sebagai penyemaian awan berbasis kembang api (flare).

"Flare
merupakan teknologi tercanggih dalam mempercepat turunnya hujan," ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan BPPT Samsul Bahri kepada Tempo.

Keahlian Samsul Bahri dan timnya dalam memanggil hujan sangat dibutuhkan pada saat ini. Belum turunnya hujan di beberapa wilayah Indonesia menyebabkan terjadinya kekeringan. Pemantauan Kementerian Pekerjaan Umum menunjukkan tujuh waduk telah kering, sedangkan 20 waduk lain berstatus waspada. Bila kekeringan berlanjut, hujan buatan harus segera dilakukan.

Teknologi berbasis kembang api yang dikembangkan BPPT dapat mendatangkan hujan hanya dalam waktu beberapa menit. Sebelum mengembangkan teknik tersebut, BPPT membuat hujan menggunakan teknologi berbasis powder. Teknik ini dilakukan dengan menaburkan serbuk garam ke dalam awan kumulus. Serbuk garam bisa berupa urea, CaCl2, dan NaCl yang bersifat higroskopis alias mampu menarik uap air dari udara.

Dalam sekali penerbangan, BPPT mengangkut beberapa ton garam ke angkasa. Beratnya beban yang harus dimuat ke dalam pesawat ini menjadi nilai minus teknologi berbasis serbuk.

Dibanding teknik lama, teknologi berbasis kembang api bisa menghemat ruang dan beban pengangkutan. Tabung kembang api seberat 1 kilogram mempunyai kemampuan setara dengan 1 ton garam. Sekali terbang, pesawat bisa membawa 12 tabung atau setara dengan 12 ton garam.

"Sekali terbang tak harus membakar semuanya, biasanya tiga tabung, sesuai kebutuhan," kata Samsul.

Teknologi baru penyemai hujan buatan berbasis kembang api ini telah dipatenkan BPPT pada Agustus 2010. Dengan bantuan PT Pindad, mereka mulai memproduksi 50 tabung flare, yang disebut sebagai versi Nol Seri. Asap flare juga diujikan di Laboratorium Aerosol Badan Tenaga Nuklir Nasional untuk dianalisis sebaran dan ukuran partikelnya.

Sama seperti teknologi konvensional, tabung flare juga diisi bahan penarik uap air bersifat higroskopis. Sifat ini bisa ditemukan pada material garam dan inti es serta pada senyawa CaCl2, NaCl, dan perak iodida (AgI). Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional juga turut meneliti bahan higroskopis ini dengan memperkenalkan senyawa KClO4.

Bahan higroskopis dicampurkan dengan bahan kimia khusus yang mampu menciptakan reaksi eksotermal. Pembakaran ini menghasilkan berbagai produk, seperti panas, cahaya, gas, bunyi, dan asap. Memanfaatkan sifat asap yang ringan sehingga mudah menyebar, asap dianggap sebagai medium penghantar material higroskopis ke seluruh bagian awan paling efektif.

BPPT mendesain tabung kembang api secara khusus agar ikut terbakar. Bahan penyusun tabung dibuat bisa terbakar serentak bersama material higroskopis. Bentuk tabung juga dirancang untuk menyebarkan asap lebih merata.

Meski jauh lebih baik ketimbang teknik berbasis serbuk, teknologi penyemaian berbasis kembang api tetap membutuhkan awan sebagai lahan semai. Bahan higroskopis hanya bekerja sebagai pemercepat terbentuknya awan hujan. Awan medium pembibitan harus berasal dari awan kumulus aktif yang dicirikan dengan bentuknya yang seperti bunga kol.

Jika penyemaian berjalan sesuai dengan rencana, 5-10 menit setelah pembakaran kembang api terjadi pelepasan panas dari uap air. Akibat pelepasan panas ini, uap air mendingin hingga mencapai titik beku. Pada tahap ini, gumpalan awan mulai membentuk es dan awan membesar. Sepuluh menit kemudian, akumulasi air meningkat besar, sehingga awan menjadi semakin besar dan berat serta mulai melepaskan bulir hujan dalam curah lebih tinggi daripada kondisi awal.

Penyemaian awan berbasis kembang api awalnya banyak digunakan oleh perusahaan swasta di Riau dan Papua untuk membanjiri waduk atau lahan. Namun teknologi ini berpotensi dipakai untuk memadamkan kebakaran hutan di banyak wilayah di Indonesia.[ANTON WILLIAM]


• TEMPOInteraktif
READ MORE - Kembang Api Bikinan BPPT Bisa Memanggil Hujan

LAPAN Pasang Radar Deteksi Gempa dan Tsunami

Radar merupakan radar terbesar dan terlengkap ketiga setelah yang ada di Peru dan India.

Radar yang dipasang di Kotatabang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia juga merupakan radar terbesar dan terlengkap ketiga setelah radar MST (Mesosphere Stratosphere Troposhphere) di Peru dan India. (earthquake.it)

VIVAnews - Atmosfer di wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah lain karena berada dalam garis khatulistiwa dan terletak di antara dua benua dan dua samudera.

Posisi khusus ini menjadikan Indonesia dianggap sebagai salah satu mesin pembangkit utama terjadinya perubahan iklim global, seperti peristiwa La Nina dan El Nino, yang berkaitan dengan musim basah dan musim kering yang melebihi batas normal.

Untuk itu, Lembaga Penerbangan Antariksa nasional (LAPAN) bekerjasama dengan Research Institute for Sustainable Humonsphere (RISh) Universitas Kyoto Jepang mengembangkan Equatorial Atmosphere Radar (EAR).

Radar ini digunakan untuk mempelajari dinamika atmosfer yang merupakan lapisan pelindung bumi. Dengan mempelajari semua fenomena yang terjadi dalam lapisan atmosfer, hasilnya bisa menjadi bahan pertimbangan untuk mengantisipasi cuaca ekstrim ataupun hal lainnya.

“Radar ini mampu mendeteksi sesuatu di atmosfer yang paling rendah, mulai dari 2 kilometer sampai ratusan kilometer,” kata Thomas Djamaluddin, Deputi LAPAN, di sela Simposium Internasional EAR, di Jakarta, 22 September 2011.

Thomas menyebutkan, kemampuan deteksi radar ini mencakup segala fenomena yang terjadi dalam lapisan atmosfer. “Radar ini merupakan salah satu pemantau iklim global, khsususnya di kawasan khatulistiwa,” ucapnya.

Secara teknis, spesifikasi radar ini terdiri dari 560 buah alat dalam satu rangkaian yang diletakkan pada ketinggian 865 meter di atas permukaan laut. Ia menggunakan frekuensi 47.0 MHz dengan power 100 Kwh. Terdiri dari dua bagian, antena tegak serta modul transmisi.

EAR juga merupakan pengembangan dari Boundary Layer Radar (BLR). Kelebihan radar ini dibanding dengan radar lain adalah menggunakan antena putar yang mampu menembak ke segala arah, asalkan dalam radius 30 derajat dari sumbu vertikal.

“Radar ini mampu menembak ke objek di segala arah dalam cakupan sudut 30 derajat, dengan radius sampai 120 kilometer,” kata Eddy Hermawan, peneliti Radar LAPAN. “Selain itu, radar ini bekerja dalam cakupan menit, jadi menganalisa setiap fenomena dalam atmosfer tiap menit,” ucapnya.

Dengan kemampuan tersebut, radar bermanfaat untuk menganalisa terjadinya fenomena ekstrem seperti gempa dan tsunami. “Bisa untuk peringatan dini gempa dan tsunami secara real, resolusinya per 2-3 menit, tidak per jam,” tambah Eddy.

Menurut Eddy, radar ini bahkan mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi. Namun demikian, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membandingkan dan melakukan analisa kasus per kasus. Selain itu, alat ini juga dirancang untuk mendeteksi perilaku arah dan kecepatan angin dalam tiga dimensi dari lapisan 1,5Km sampai 20Km.

“Alat ini mampu membaca pergerakan angin timur barat, khsusunya sirkulasi Walker yang merupakan salah satu parameter penting dalam dugaan datangnya ENSO (El Nino and Southern Oscillation),” kata Eddy. “Sehingga, alat canggih ini juga mampu menganalisa kapan akan terjadi musim basah kepanjangan maupun musim kering panjang,” ucapnya.

Selain itu, alat ini juga bermanfaat untuk mengantisipasi arah dan kecepatan angin baik sebelum maupun sesudah peristiwa kabut asap tebal terjadi, hal serupa juga bisa diterapkan saat kebakaran hutan. Lebih lengkap lagi, alat ini mampu menjadi solusi masalah penyebaran pestisida yang memerlukan arah dan kecepatan angin.

Radar yang dipasang di Kotatabang, Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia juga merupakan radar terbesar dan terlengkap ketiga setelah radar MST (Mesosphere Stratosphere Troposhphere) di Peru dan India. (eh)



• VIVAnews
READ MORE - LAPAN Pasang Radar Deteksi Gempa dan Tsunami

Radar EAR deteksi tsunami Aceh

Equatorial Atmosphere Radar (rish.kyoto-u.ac.jp)

Jakarta (ANTARA News) - Bencana alam gempa bumi dan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 diyakini terdeteksi oleh radar atmosfer khatulistiwa (Equatorial Atmosphere Radar/EAR).

"Ada anomali perubahan angin pada ionosfer beberapa menit sebelum tsunami. Tapi apakah ini kebetulan atau tidak itu yang harus diteliti lagi," kata peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Eddy Hermawan di Jakarta, Kamis.

EAR merupakan radar terbesar dan terlengkap di ekuator yang ditempatkan tepat di garis khatulistiwa, yaitu di Kototabang, Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat yang beroperasi sejak 26 Juni 2001.

Lapan memperingati 10 tahun beroperasinya radar EAR dalam rangkaian kegiatan simposium internasional yang dihadiri Menteri Riset dan Teknologi Suharna Suryapranata dan perwakilan dari Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia.

EAR merupakan hasil kerja sama antara Lapan dengan Research Institute for Sustainable Humanosphere (RISH) Universitas Kyoto, Jepang.

Radar EAR berfungsi sebagai pengamat atmosfer yang berpengaruh pada iklim global. Alat tersebut juga dirancang untuk mendeteksi perilaku arah dan kecepatan angin, salah satu yang diamati adalah pengamatan musim hujan di Indonesia.

Radar tersebut secara umum mempelajari dinamika atmosfer dan mampu mendeteksi perilaku angin dalam bentuk tiga dimensi yaitu vertikal, meridional dan zonal dalam selang waktu beberapa menit untuk setiap ketinggian 150-300 meter serta mampu menyimpan 1.440 profil dinamika atmosfer dalam satu hari.

Alat tersebut juga mampu mendeteksi fenomena elektromagnetik yang terjadi pada lapisan sekitar 100 km. radar EAR dibuat hampir menyerupai MU (Middle and Upper atmosphere) radar yang da di shiragaki, Jepang baik dari sistem antena yang dipakai maupun frekuensi yang digunakan yakni 46,5 MHz.

Radar EAR merupakan radar terbesar ketiga didunia setelah radar Mesosphere Stratosphere Trophosphere (MST) di Peru dan India. Radar tersebut unik sebab memiliki resolusi tinggi dan teknologinya sama seperti Jepang.

Menurut Prof Mamoru Yamamoto dari RISH Universitas Kyoto, meskipun alat tersebut tidak memiliki pengaruh langsung karena merupakan satu kesatuan dengan radar lainnya , bisa menjadi semacam alat deteksi dini (early warning sistem) terutama terhadap fenomena yang terkait dengan arah dan pergerakan angin.

"Manfaat terbesar dari radar ini adalah untuk pengembangan kapasitas sebab sebagai lembaga riset bukan memberikan informasi langsung seperti lembaga pengambil kebijakan misalnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika," katanya.(D016/A011)



• ANTARAnews
READ MORE - Radar EAR deteksi tsunami Aceh

Wednesday, September 21, 2011

Jaringan Telekomunikasi Indonesia Siap 4G/LTE

Kendala yang masih menghadang adalah regulasi yang masih digodok oleh pemerintah.

Saat ini, kendala yang masih menghadang penggelaran layanan LTE adalah seputar regulasi yang masih digodok oleh pemerintah. (speedtest.net)

VIVAnews
- Dalam berbagai survei, kategori mobile gaming dan streaming video serta TV menampati urutan teratas dalam penggunaan internet. Sayangnya, dukungan untuk mengakses kedua konten tersebut masih sangat kurang.

Selain karena untuk mengakses konten ini dibutuhkan kapasitas jaringan yang besar, problem kecepatan juga menjadi halangan bagi pengguna yang ingin menikmati konten tersebut. Namun, dengan teknologi LTE, problem tersebut bisa diminimalkan.

LTE yang merupakan generasi keempat dari teknologi mobile broadband memungkinkan pengguna meraih aplikasi layanan multimedia yang inovatif. Untuk itu, Nokia Siemens Networks (NSN) telah siap untuk menyediakan teknologi LTE tersebut pada konsumen.

“Kami siap membantu operator telekomunikasi untuk mengonversikan jaringan mereka ke LTE,” kata Dharma Simorangkir, Strategic Marketing Middle East Asia Nokia Siemens Networks di Jakarta, 21 September 2011 di Jakarta.

Menurut Dharma, teknologi LTE memiliki dua keunggulan. Yang pertama, keunggulan kecepatan yang memberikan kenyamanan dalam mengakses konten tertentu. Kedua, adalah latensi responsnya yang lebih baik.

“LTE jauh lebih cepat dibanding 3G. Kecepatannya bisa mencapai 102Mbps untuk downlink dan 48Mbps untuk uplink,” kata Dharma. “Dari tes yang dilakukan, respons latensinya juga rendah,” ucapnya.

Dengan keunggulan tersebut, Dharma menyebutkan, LTE bisa memberikan peluang besar bagi penyedia konten dan pasar pengguna internet di Indonesia. Pasalnya, dari data yang dikumpulkan, perilaku berinternet di Indonesia tidak jauh dari mobile game dan video streaming.

Lantas, bagaimana kesiapan jaringan di Indonesai untuk LTE ini?

Menurut Dharma, base station NSN yang digunakan saat ini sebenarnya sudah siap untuk dikonversi ke LTE. “Sudah siap, base stasion kita hanya perlu diganti softwarenya saja,” kata Dharma.

Namun demikian, Dharma menyebutkan, ada kendala yang masih menghalang, yakni soal regulasi yang masih digodok oleh pemerintah. Untuk itu, pihaknya juga mengaku siap membantu pemerintah demi keberlangsungan broadband yang lebih baik.

“Jika LTE ini dioptimalkan, ia akan memberikan manfaat buat Indonesia,” sebut Dharma. “Dengan LTE, potensi Indonesia bisa diperkenalkan ke dunia,” ucapnya.

Dharma juga menekankan bahwa seiring dengan tumbuhnya konektivitas suatu negara, makanya ia akan mampu meningkatkan GDP negara tersebut. Sebagai informasi, saat ini di negara-negara Asia, baru dari kawasan Timur Tengah, Jepang dan Korea saja yang sudah mengimplementasikan teknologi LTE. (adi)



• VIVAnews
READ MORE - Jaringan Telekomunikasi Indonesia Siap 4G/LTE

Tuesday, September 20, 2011

IPB kenalkan biopelet sebagai alternatif pemanfaatan biomassa

Bogor (ANTARA news) - Peneliti Surfactant & Bioenergy Research Center Institut Pertanian Bogor (SBRC-IPB) Sri Windarwati memperkenalkan biopelet, yakni jenis bahan bakar padat berbasis limbah sebagai alternatif energi pemanfaatan biomassa.

Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Humas IPB di Bogor, Jawa Barat, Selasa, disebutkan bahwa Sri Windarwati mengangkat tema itu pada seminar nasional teknologi kimia aplikatif.

Pada seminar bertema "Bahan Bakar Nabati Atasi Kelangkaan Minyak Bumi" yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Kimia (IMAKAHI) IPB pada Minggu (18/9), yang dihadiri lebih dari 400 peserta, ia mengemukakan bahwa biopelet adalah jenis bahan bakar padat berbasis limbah biomassa yang memiliki ukuran lebih kecil dari briket.

"Proses yang digunakan adalah pengempaan (pressing) dengan suhu dan tekanan tinggi, sehingga membentuk produk yang seragam dengan kapasitas produksi tinggi," katanya menambahkan.

Ia menjelaskan bahwa potensi biomassa atau limbah pertanian Indonesia sangat besar yakni 49,8 ribu Mwe, sedangkan yang dimanfaatkan baru 445 Mwe.

Dikemukakannya bahwa biomassa yang dapat digunakan sebagai bahan baku biopelet, di antaranya adalah bungkil sawit, sekam padi, batang ubi kayu, tongkol jagung, tempurung kelapa, kulit kacang, kulit kopi dan sebagainya.

"Teknologi biopelet sudah diperkenalkan sejak lama di luar negeri. Pembuatan biopelet diproduksi pertama kali di Swedia pada tahun 80-an. Seiring waktu, dikembangkan perusahaan biopelet di sana. Sedangkan teknologi ini baru dikembangkan di Indonesia," katanya menambahkan.

Sementara itu, staf ahli Kementerian Negara Riset dan Teknologi Dr Agus Rusiana Hotman mengatakan bahwa jumlah produksi minyak bumi terbatas, sementara tiap tahun konsumsinya meningkat tujuh persen, sehingga dibutuhkan berbagai alternatif energi untuk masa depan.

"Strategi pengembangan energi nasional ke depan dengan meningkatkan kegiatan diversifikasi energi, di antaranya memanfaatkan potensi sumber biomassa," katanya.

Menurut dia, tantangan pengembangan bahan bakar nabati masih belum kompetitif dibanding dengan bahan bakar minyak (BBM), dikarenakan masih adanya subsidi BBM.

"Kemungkinan solusinya adalah meningkatkan efisiensi dalam proses pembuatan BBN sambil menata kebijakan `pricing` dan subsidi yang lebih tepat sasaran," demikian Agus Rusiana Hotman. (ANT-053/A035)



• ANTARAnews
READ MORE - IPB kenalkan biopelet sebagai alternatif pemanfaatan biomassa

15 Sekolah di Banten Sudah Gunakan Teknologi SMASH

detail berita
Suasana peluncuran Telkomsel Smash (Foto: Fiddy/okezone)

SERANG - Acara peresmian Sistem Manajemen Aplikasi SekolaH atau SMASH merupakan program kepedulian Telkomsel dalam mengembangkan sekolah berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Ini merupakan layanan yang bertujuan agar orangtua bisa mengontrol anak-anak mereka di sekolah. Orang tua murid dapat mengakses nilai, Absensi, jadwal pelajaran serta jadwal guru pengajar langsung di ponsel berkat sebuah sistem yang terintegrasi.

"Kami sangat menyambut baik adanya layanan dari Telkomsel ini, karena sangat bermanfaat khususnya untuk lembaga pendidikan. Dahulu Orang tua sulit memonitor kegiatan belajar mengajar anak-anak mereka di sekolah namun dengan adanya SMASH orangtua bisa memantau langsung anak-anak mereka dengan baik," tambah Wakil Gubernur Banten Masduki, Selasa (20/9/2011).

Masduki juga menyatakan walau saat ini baru ada 15 sekolah yang sudah menggunakan SMASH, namun Pemerintah Daerah Banten mengaharapkan agar Telkomsel mengupayakan untuk lebih mengembangkannya ke lebih banyak sekolah di wilayah Serang, Banten.

Banten sedang mengupayakan Pendidikan untuk Semua dimana semua anak di Banten berhak untuk menempuh pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA dan hingga Perguruan Tinggi.

"SMASH merupakan suatu kemajuan yang luar biasa di dunia pendidikan, karena minimal orang tua bisa mengetahui kondisi sekolah dalam memajukan kegiatan belajar mengajar dan tentunya memonitor keadaan para murid disekolah, bahkan hingga sistem keamanan sekolah yang bisa diakses melalui internet maupun dengan layanan SMS," lanjutnya dengan antusias.

Masduki berharap semua pihak terkait harus mendukung program pendidikan Telkomsel agar bisa berhasil dan tujuan dari layanan ini bisa berjalan dengan lancar. (tyo)


• Okezone
READ MORE - 15 Sekolah di Banten Sudah Gunakan Teknologi SMASH

Forum Kemitraan ICT Indonesia-Korsel Digelar

detail berita


Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) telah memainkan dan akan terus memainkan peran yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan bisnis dan industri di seluruh dunia. Hal yang sama juga berlaku bagi Indonesia.

Pertumbuhan dan perkembangan yang didorong atau dipelopori oleh ICT akhirnya akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan bagi Indonesia dalam bidang efisiensi, pengukuran dan kontrol, akuntabilitas dan pertunjukan. Indonesia dari semua lapisan masyarakat dipastikan akan menggunakan TIK dalam setiap aspek kehidupan mereka!

Didorong pertumbuhan tersebut ASPILUKI, the Indonesian Telematic Software & Services Association (ITSA) yang merupakan anggota ASOCIO (Asian-Oceanian Computing Industry Organization) mendapatkan kehormatan mengatur dan mengelola KOREA – INDONESIA ICT PARTNERSHIP FORUM 2011 yang turut juga Kadin Indonesia dan FTII.

Tujuan Forum Kemitraan TIK sendiri adalah untuk menciptakan sebuah strategi Bisnis to Bisnis (B2B) yang terkait antara mitra di Indonesia dengan perusahaan, Solusi dan Service Provider dari Korea.

Pertemuaan ini akan memberikan kesempatan peserta untuk bertukar informasi yang berkaitan dengan produk ICT dari Korea dan peluang pasar terkait TIK di Indonesia. Platform ini juga diarahkan untuk menjadi mediator untuk kegiatan lebih lanjut antara peserta dari kedua negara untuk promosi produk, jaringan dan kesempatan, yang akhirnya ditargetkan untuk menciptakan kerjasama dan usaha untuk saling menguntungkan dari kedua belah pihak.

70 persen dari peserta dari Forum Kemitraan TIK ini diharapkan berasal dari segmen perusahaan Indonesia, yang akan mencakup Sistem Integrator TIK terkait dan 30 persen lainnya dari segmen pengguna akhir, yang meliputi perusahaan swasta, BUMN, lembaga dan departemen.

Pemerintah juga serius menjalan program ini yang didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Republik Indonesia, Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi, Bpk Tiffatul Sembiring yang akan menjadi pembicara pada hari pertama acara dan pembicara lainnya adalah Wakil Ketua dari KADIN Indonesia.

Segmentasi Produk - Promosi Event

Promosi agresif akan ditargetkan pada perusahaan dan organisasi-organisasi terkait TIK (Vendor, Solusi dan Service Provider). Organisasi-organisasi ini digolongkan ke dalam beberapa segmen 'kebutuhan strategis', yaitu:

*) Digital Broadcasting
*) Elektronik Digital - Digital TV, LED dll
*) Jaringan Solusi - WIMAX, dll Broadband & Teknologi Seluler
*) Perangkat Lunak (Isi)
*) Vertikal Solusi
*) Konvergensi TI - Embedded Systems
*) Industri Elektronik
*) Solusi Teknologi Mobile
*) Solusi Keamanan (Enterprise dan Mobile)

Nantinya sebanyak 43 perusahaan dari Korea akan ambil bagian dengan program ini dan akan menunjukkan produk mereka dan layanan, briefing, dan presentasi khusus diharapkan untuk membantu peserta dalam membandingkan solusi side-by-side. Pihak dari Korea Selatan pun akan mengundang operator terbesar di Korsel, ST Telecom, yang akan mengundang Mr. Abraham Jo, yang menjabat sebagai Executive Director of SK Telecom untuk berbicara sebagai keynote speaker.

Event
Untuk tujuan memaksimalkan dampak dari acara ini bagi peserta baik Korea dan Indonesia, event organizer telah menyiapkan kegiatan strategis dikemas selama 2 Hari.

Program ini merupakan tonggak kerjasama bilateral yang telah dilakukan melalui program interaktif seperti pertandingan membuat yang mengarah ke usaha patungan dan diharapkan menjadi seri puncak dari program yang dapat terlihat ketika kedua belah pihak pada saat selesainya pertandingan membuat program yang dapat mengatur Nota Kesepahaman atau Perjanjian Kerjasama, program ini tidak hanya seminar biasa atau seremonial.

Kesimpulan

Program ini merupakan tonggak kerjasama bilateral yang telah dilakukan melalui program interaktif seperti membuat yang mengarah ke usaha patungan dan diharapkan menjadi seri puncak dari program yang dapat terlihat dari kedua belah pihak. Sehingga pada saatnya nanti program ini membuat program yang dapat mengatur Nota Kesepahaman atau Perjanjian Kerjasama, program ini tidak hanya seminar biasa atau seremonial.

Sangat baik untuk kedua belah pihak untuk membuka peluang investasi dalam bentuk usaha patungan di TIK untuk memperkuat hubungan jangka panjang dan dapat membantu bisnis tumbuh lebih cepat, meningkatkan produktivitas dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.(adv) (tyo)


• Okezone
READ MORE - Forum Kemitraan ICT Indonesia-Korsel Digelar

Kamis Besok, Ada Kopi Darat Komunitas Sosial Media

TEMPO Interaktif, Jakarta - Mall FX yang terletak di sebelah Gelora Bung Karno dua hari lagi akan menjadi tempat perhelatan Festival Sosial Media. Pesta akbar pertama pengguna jejaring sosial seperti twitter, facebook dan blog ini akan digelar di setiap lantai mall tersebut.

"Festival ini seperti Java Jazz-nya sosial media," ujar Syarief Hidayatullah, Brand Campaign Manajer SalingSilang.com, penyelenggara acara Festival Sosial Media ketika dihubungi Selasa,20 September 2011. (Java Jazz adalah festival jazz tahunan yang digelar di Indonesia dan kini masuk sebagai festival jazz terbesar di dunia-red)

Pengunjung tak dipungut biaya untuk bisa menyaksikan siapa saja akun berpengaruh di jejaring sosial. Panitia menyediakan acara bincang-bincang dengan bintang tamu tokoh berpengaruh tersebut,mulai tokoh pendidikan, tokoh hiburan hingga tokoh kemanusiaan. "Ada juga games dan acara musik," jelas Syarief.

Mau tahu siapa saja yang hadir? Mereka diantaranya Sm*sh, acara musik dahsyat dan komunitas seribu gitar untuk anak bangsa. "Kenapa kami pilih Sm*sh, dia adalah boys band berpengaruh dengan fans yang luar biasa banyak," ujar dia. Begitu pula acara musik dahsyat yang Fanspage di Facebook ternyata nomor dua di seluruh dunia.

"Kami juga akan memberi apresiasi bagi NTMC dan Jalin Merapi," ujar Syarief. Kedua organisasi tersebut dinilai berhasil memanfaatkan jejaring sosial untuk pelayanan publik. National Traffic Management Center dinilai berhasil mengabarkan informasi lalu lintas di Jakarta. Adapun jalin merapi menjadi akun yang sukses menyatukan sukarelawan, bantuan dan distribusi logistik selama erupsi Merapi.

Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa akun di jejaring sosial tak sekedar untuk eksistensi. "Jejaring ini punya banyak peluang untuk menjadi produktif," kata dia.

Melalui Festival Sosial Media pertama ini pula diharapkan nama Indonesia menjadi perhatian riset Teknologi Informasi dan Komunikasi Dunia. Selama ini, diakui Syarief, meski Indonesia masuk menjadi pengguna jejaring sosial terbesar, tapi jarang terpublikasi pengaruhnya. "Semoga Festival ini bisa menarik perhatian dunia," ujar dia.[DIANING SARI]


• TEMPOInteraktif
READ MORE - Kamis Besok, Ada Kopi Darat Komunitas Sosial Media

Gubernur Teras Narang Janji Tolak Bantuan Pengusaha Perusak Lingkungan

Konperensi pers Governors’ Climate and Forest Task Force di Palangkaraya, 20 September 2011

TEMPO Interaktif
, Palangkaraya - Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang berjanji menolak bantuan dari perusahaan kotor dalam skema Governor's Climate and Forest Fund (GCF Fund). "Kami akan usulkan ini jadi kriteria GCF Fund yang sedang disusun," kata Teras Narang seusai membuka Governor's Climate and Fores Task Force di Palangkaraya, Selasa (20/9).

Pertemuan 16 gubernur negara bagian dan provinsi yang memiliki hutan tropis dari Amerika Serikat, Brazil, Meksiko, Nigeria dan Indonesia itu bakal berlangsung hingga Kamis pekan ini. Salah satu materi pembahasan adalah membangun instrumen pendanaan melalui GCF Fund. Topik lain adalah menyusun kerangka kerja umum sub nasional Program REDD Plus (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation).

Menurut Teras Narang lembaga dan perusahaan yang menyumbang GCF harus menjalankan kegiatannya mengikuti kaidah-kaidah lingkungan. Pabrik misalnya, harus memiliki ukuran berapa emisi yang dikeluarkan dan apa upayanya untuk mengurangi emisi karbon. Kami, ujarnya, hanya menerima uang dari pengusaha yang melestarikan dan memberdayakan masyarakat di sekitar hutan.

Pernyataan Teras Narang disampaikan menjawab pertanyaan Koran Tempo mengenai kriteria pendonor bagi GCF Fund. Maklum sejumlah perusahaan menggunakan institusi dan lembaga swadaya masyarakat, sebagai sarana mencuci aktivitasnya yang merusak lingkungan. Selain itu, para broker juga memberi janji manis kepada kepala daerah untuk ikut dalam perdagangan karbon.

Pertemuan hari pertama GCF menyepakati pembentukan sebuah fasilitas pendanaan iklim independen yang baru, yaitu Dana Hutan dan Iklim Gubernur atau “Dana GCF.” Fasilitas ini bertujuan mendukung implementasi Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD+) di negara bagian dan propinsi GCF. Pemerintah Amerika Serikat memberikan dana awal $1,5 juta dari pendanaan multi-juta dolar.

"Kami melihat ini sebagai sebuah contoh lain dari kepemimpinan GCF yang tidak hanya dalam memajukan pendekatan-pendekatan inovatif negara bagian terhadap REDD+ namun juga kepemimpinan di bidang pendanaan iklim,” kata William Boyd, Penasehat Senior GCF dari Universitas Colorado.

Teras Narang mengklaim dana GCF merupakan fasilitas pertama di dunia dimana donor publik dan swasta serta investor dapat secara langsung mendanai upaya-upaya REDD+ negara bagian dan propinsi di banyak negara.

Skema ini menyediakan peluang kemitraan yang unik untuk membantu mengembangkan jalur-jalur baru menuju pembangunan rendah emisi. "Sambil tetap mengedepankan prioritas masyarakat lokal pengguna hutan untuk meningkatkan standar hidup mereka dan akses mereka ke pendidikan dan layanan kesehatan," katanya.

Saat ini peluang pendanaan bagi negara bagian dan provinsi masih terbatas. Dana GCF dikembangkan untuk mengatasi kesenjangan ini lewat pembentukan sebuah fasilitas pendanaan independen senilai $6 juta untuk mempromosikan pengembangan program-program REDD+.

Pada Agustus 2011, Pemerintah Amerika Serikat menjadi penyokong dana awal untuk Dana GCF lewat komitmen pendanaan sebesar $1,5 juta untuk mendukung peningkatan kajian stok karbon hutan.

Dana GCF sedang mencari tambahan dana sebesar $4,5 juta untuk mendukung kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung dan direncanakan untuk periode 2012-2013. Dana ini untuk perhitungan karbon hutan, program-program pengembangan model-model pembagian manfaat dan kegiatan-kegiatan pendukung implementasi REDD+

Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Kopenhagen pada Desember 2009, mendukung mekanisme REDD plus. Pada Copenhagen Accord, negara-negara maju berjanji menyediakan mobilisasi dukungan dana US$ 30 juta per tahun untuk periode 2010-2012 dan sebesar US$100 juta per tahun di tahun 2020.

Selain dari multilateral, ada pula dana dari kerja sama bilateral. Indonesia sudah menandatangani nota kesepahaman dengan Norwegia yang menjanjikan dana satu miliar dolar AS di sektor kehutanan.[UNTUNG WIDYANTO]


• TEMPOInteraktif

READ MORE - Gubernur Teras Narang Janji Tolak Bantuan Pengusaha Perusak Lingkungan

Aceh Tak Sabar Ingin Terapkan REDD+

JAKARTA, KOMPAS.com - Warga Aceh yang tinggal dan menggantungkan hidupnya dari hutan, sudah tak sabar ingin mengetahui dan merasakan kesejahteraan hidupnya melalui mekanisme pengurangan emisi melalui pencegahan kerusakan hutan dan deforestasi (REDD+).

Karena itu, pada pertemuan Governors' Climate Forests (GCF) di Palangkaraya, 20-22 September 2011, diharapkan menghasilkan kemajuan dalam pembahasan implementasi REDD+.

Ini diungkapkan, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf yang diwakili Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Aceh, Husnaini, dalam pertemuan GCF, Senin (20/9/2011) di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Husnaeni menjelaskan, Aceh telah menyediakan Hutan Ullu Masen dan Hutan Taman Nasional Leuser sebagai lokasi program pengurangan emisi melalui deforestasi dan pencegahan kerusakan hutan (REDD+). Luas kedua hutan ini sekitar 3,9 juta hektar atau 57 persen luas Aceh.

Aceh pun telah melakukan moratorium penebangan hutan. Upaya ini mampu menekan laju deforestasi 12.045 hektar per tahun.

Dari sisi penegakan hukum, Aceh merekrut 2.000 personel untuk menjadi petugas pengawas hutan.

Meski demikian, lanjut Husnaeni, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap langkah-langkah dan tujuan yang hendak dicapai. Masyarakat ingin melihat manfaat dari apa. "Rakyat di sekitar hutan sudah tidak sabar untuk hidup sejahtera," ujarnya.

Senada, Ketua Satuan Tugas Persiapan Kelembagaan REDD+, Kuntoro Mangkusubroto, melalui tayangan rekaman video karena sedang berada di New York AS, mengatakan, kini saatnya GCF membahas masalah implementasi REDD+.

"Sekarang saatnya menuju implementasi, implementasi, dan implementasi," ucap Kuntoro.


• KOMPAS
READ MORE - Aceh Tak Sabar Ingin Terapkan REDD+

Sulitnya Menjadi Taksonom di Indonesia


SHUTTERSTOCK


KOMPAS.com - Apa tantangan yang harus dihadapi oleh taksonom atau ahli mengenai penamaan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang ada di Indonesia? Dr Dwi Listyo Rahayu, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan salah satu dari hanya lima taksonom kelomang di dunia berbagi cerita.

Dalam Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I yang diadakan hari ini (20/9/2011) di Jakarta, Dwi Listyo Rahayu yang akrab disapa Yoyok mengatakan bahwa salah satu tantangan menjadi taksonom di Indonesia adalah kurangnya senior. "Kita kekurangan pembimbing dalam bidang taksonomi," kata Yoyok.

Jumlah penelitian yang terlibat penelitian taksonomi di Indonesia saat ini diketahui sebanyak 20-30-an. Namun, peneliti yang bisa dikatakan sebagai taksonom hanya 3 orang.

"Lalu juga akses pustaka yang minim," tambah Yoyok. Beberapa pustaka memang sudah tersedia dalam format digital, namun Yoyok mengatakan bahwa taksonom masih perlu pustaka tua yang hingga saat ini belum tersedia dalam format tersebut.

Kesulitan lain yang dihadapi adalah akses terhadap holotype suatu spesies. Selama ini, banyak spesimen spesies yang ada di Indonesia disimpan di museum luar negeri. Raffless Museum di Singapura bahkan disebut memiliki koleksi spesies Indonesia yang lebih lengkap.

"Publikasi juga menjadi kesulitan. Ada beberapa jurnal yang gratis memang tapi harus menunggu lama. Sementara pada beberapa jurnal internasional, kita masih harus membayar," jelas Yoyok yang meneliti kelomang sejak tahun 1982.

Untuk mengirimkan ke jurnal nasional pun, tidak serta merta mendapat kemudahan. "Saya pernah kirimkan ke jurnal nasional, waktu itu diminta dibuat dengan kunci identifikasinya. Tapi akhirnya dikatakan terlalu panjang, apakah tidak bisa disingkat," ceritanya.

Beragam kesulitan menjadikan taksonomi kurang populer, bukan hanya di kalangan pelajar, tetapi juga di kalangan ilmuwan itu sendiri. Sebagai akibatnya, inventarisasi keanekaragaman hayati di Indonesia pun mengalami hambatan.

Yoyok mengatakan bahwa minat taksonomi harus digiatkan. Ia mengatakan, bahwa sebenarnya banyak kesempatan untuk menjadi taksonom. Ketika sudah dipercaya, banyak kesempatan penelitian dan kerjasama internasional yang bisa diraih.

"Kita harus memilih jenis yang tepat, harus reasonable. Misalnya, kalau tidak bisa selama jangan menilih koral. Kemudian memperkuat network dan meraih kesempatan kerja sama," ujar Yoyok yang menyelesaikan studi master dan doktoral dalam bidang biologi kelautan di Perancis.

Sementara, untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi taksonom di Indonesia saat ini, satu hal yang bisa diupayakan adalah menambah jumlah reference collection. Dengan bertambahnya reference collection, lebih mudah bagi taksonom untuk melakukan penelitian taksonomi.


• KOMPAS
READ MORE - Sulitnya Menjadi Taksonom di Indonesia

Indonesia Butuh Minimal 45 Taksonom Kelautan

Penyelam menikmati alam bawah laut perairan Pulau Sanghiang, Serang, Banten, Sabtu (10/4). Pesona terumbu karang yang masih cukup baik di perairan tersebut menarik wisatawan bahari dari wilayah Jabodetabek untuk menyelam pada akhir pekan.

KOMPAS.com
- Indonesia merupakan salah satu pusat biodiversity atau keanekaragaman hayati dunia, salah satunya ditandai dengan besarnya jenis spesies di laut. Namun berapa spesies yang sebenarnya ada di laut Indonesia dan apa saja? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan inventarisasi keanekaragaman hayati laut itu sendiri.

Prof Dr Suharsono, Ketua Masyarakat Taksonomi Kelautan Indonesia, yang juga peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, untuk mampu menginventarisasi keragaman hayati itu, kebutuhan utamanya adalah taksonom kelautan. Sayangnya jumlha taknsonom kelautan di Indonesia masih sangat minim.

"Dibutuhkan minimal 45 taksonom kelautan. Tiap kelas dalam satu taksa harus ada yang menangani. Idealnya dalam satu ordo ada satu taksonom," kata Suharsono dalam Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I yang berlangsung hari ini, Selasa (20/9/2011) di Jakarta.

Sejumlah taksonom tersebut diharapkan mampu meneliti beragam taksa makhluk hidup laut, seperti bakteri, firaminifera, porifera, crustacea, mollusca, echinodermata, coelenterata dan beragam jenis tumbuhan laut serta mangrove. Menurut Suharsono, masih banyak biota laut yang kini masih belum diteliti.

"Bakteri laut ini sudah banyak yang meneliti tetapi secara taksonomi belum banyak. Algae juga masih sedikit. Jenis Bryozoa dan Cetacea juga masih belum banyak," katanya.

Suharsono menjelaskan, beberapa strategi tengah dirancang untuk memenuhi kebutuhan taksonom. Salah satunya lewat edukasi. Institut Pertanian Bogor (IPB), kata Suharsono, tahun ini mulai menyelenggarakan jurusan taksonomi setelah mendapat lampu hijau dari DIKTI.

Strategi lain yang ditempuh adalah advokasi pada pemerintah untuk membangun reference collection kelautan, membentuk jaringan taksonomi dengan memanfaatkan universitas yang ada, kerjasama dengan lembaga internasional serta melakukan ekepedisi.

"Ke depan taksonom Indonesia harus jadi author dalam penamaan spesies. Saat ini banyak yang terlibat penelitian taksonomi tetapi belum menjadi author," kata Suharsono. Menjadi author berarti nama taksonom tercantum dalam nama spesies, seperti Linnaeus yang diterakan pada banyak spesies.

Saat ini, jumlah peneliti Indonesia yang terlibat dalam penelitian taksonomi adalah 20-30an. Namun, hanya 3 peneliti yang bisa dikatakan sebagai taksonom. Peluang menjadi taksonom di negeri yang kaya akan keanekaragaman hayati ini masih sangat besar.


• KOMPAS
READ MORE - Indonesia Butuh Minimal 45 Taksonom Kelautan

Belajar Biodiversitas Indonesia Masa ke Luar Negeri?


Julio Dalponte - Monyet spesies baru yang ditemukan.

JAKARTA, KOMPAS.com
- Indonesia memerlukan tambahan koleksi rujukan biodiversitas (reference collection). Saat ini, koleksi rujukan paling lengkap yang dimiliki Indonesia baru Museum Zooligicum Bogoriense. Koleksinya pun juga masih terbatas.

"Reference collection ini memang mahal, tapi kita harus punya. Idealnya memang tiap propinsi itu punya. Tapi paling tidak kita punya 5, yang mewakili tiap wilayah, misalnya Sumatera, Jawa dan sebagainya," kata Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Kepala P2 Biologi LIPI.

Salah satu manfaat yang bisa diperoleh dengan memiliki koleksi rujukan adalah mengetahui jumlah spesies di suatu wilayah. Dengan punya koleksi rujukan, pemantauan terhadap hilangnya suatu spesies dari lingkungan tertentu akan lebih mudah dilakukan.

"Contohnya kita bisa tahu bahwa 90 persen biodiversitas di Ciliwung itu hilang kan karena kita membandingkan dengan reference collection. Kita lihat dari museum di Bogor dan Leiden untuk mengetahui itu," jelas Nuramaliati yang akrab disapa Lili.

Manfaat lainnya, menurut Lili, adalah kemudahan bagi para taksonom untuk mengakses bahan untuk penelitian. Selama ini, untuk mengakses holotype suatu spesies, kadang taksonom harus pergi ke reference collection di luar negeri, menghabiskan biaya yang tak sedikit. Masa untuk melacak keanekaragaman hayati atau biodiversity di Indonesia harus ke luar negeri?

Lili mengungkapkan, reference collection tambahan nantinya bisa dikelola siapapun, misalnya kalangan universitas. Hal utama adalah memastikan bahwa setiap pengelola memiliki komitmen untuk mengelolanya secara berkelanjutan.

"Yang terpenting adalah komitmen. Jangan sampai nanti pemimpinnya ganti lalu bilang, buat apa ini, hanya menghabiskan biaya," kata Lili saat ditemui di acara Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I di Jakarta hari ini, Selasa (20/9/2011).

Tentang koleksi spesimen sendiri, saat ini masih harus ditambah. Jumlah koleksi spesies laut, termasuk yang ada di Museum Zoologi Bogor masih sangat minim. Eksplorasi biodiversitas laut masih harus dilakukan untuk menginventarisasi spesies-spesies yang ada.


• KOMPAS
READ MORE - Belajar Biodiversitas Indonesia Masa ke Luar Negeri?

Monday, September 19, 2011

Jawa Tengah gelar kompetisi roket air

Ilustrasi-Lomba roket air. (ANTARA/Regina Safri)

Semarang (ANTARA News) - 54 pelajar berbagai Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Jawa Tengah mengikuti kompetisi roket air di lapangan Politeknik Negeri Semarang (Polines), Minggu.

Berbahan baku sederhana, berupa botol minuman ringan yang dimodifikasi sedemikian rupa, para siswa berlomba melontarkan roket buatannya mendekati target berbentuk lingkaran dengan jarak sejauh 70 meter.

Kompetisi yang diprakarsai Polines dan Wahana Duniaku Pintar itu ditujukan untuk menyiapkan para pelajar untuk mengikuti kompetisi roket air tingkat nasional akhir 2011.

Menurut Ketua Panitia Kompetisi Roket Air, Ari Prasetyo, kompetisi itu merupakan langkah penerapan pelajaran fisika yang selama ini mereka dapatkan di sekolah.

"Agar mereka tak hanya belajar teori, namun bisa mempraktikkan," katanya.

Para pelajara dikarantina untuk mengikuti lokakarya tentang dasar-dasar pembuatan roket air,. lalu diberi kesempatan mengikuti kompetisi roket air.

"Setiap peserta diberi kesempatan dua kali untuk meluncurkan roket rakitannya, setelah itu dihitung jarak luncurnya masing-masing. Semakin roket berhasil mendekati sasaran, maka berkesempatan menang," katanya.

Ia mengakui, para peserta masih fokus pada usaha meluncurkan roket, tanpa mencermati arah angin, tekanan udara, debit air, dan sudut peluncuran yang justru sangat menentukan hasil akhir.

Selain itu, kata dia, para peserta juga kurang memerhatikan prinsip aerodinamika roket, seperti kegunaan sirip untuk menjaga keseimbangan roket saat meluncur.

Akibatnya, katanya, banyak roket melenceng jauh dari sasaran.(*)[KR-ZLS/M029]




• ANTARAnews
READ MORE - Jawa Tengah gelar kompetisi roket air

Masyarakat Diminta Lapor Jika Temukan Satelit Jatuh

detail berita
Satelit UARS (sumber : Google)

JAKARTA - Terkait laporan NASA akan jatuhnya bangkai satelit UARS ke Bumi. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) meminta agar masyarakat melapor ke aparat terkait jika melihat benda jatuh dari langit.

Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) adalah satelit yang sudah tidak lagi berfungsi sejak 14 Desember 2005. Awalnya satelit ini diluncurkan pada 15 September 1991 oleh pesawat ruang angkasa milik NASA yaitu Discovery.

NASA baru saja melaporkan jika kemungkinan paling dekat bangkai satelit UARS akan tiba di Bumi pada Jumat 23 September mendatang. Namun Thomas Jamaluddin, Ketua LAPAN mengatakan jika hal tersebut tidak dapat dipastikan dan bergantung pada aktivitas matahari.

"Jika matahari sedang melakukan aktivitas yang aktif maka maka lapisan atmosfer akan lebih tebal dan akan menimbulkan gesekan yang lebih besar sehingga bangkai atmosfer bisa lebih cepat tiba di Bumi. Sementara jika aktivitas matahari tenang, maka lapisan lebih tipis dan gesekan semakin kecil, sehingga akan lebih lama sampai ke Bumi," jelas Thomas kepada okezone, Senin (19/9/2011).

Thomas meminta kepada masyarakat Indonesia agar tetap waspada, namun tidak perlu terlalu khawatir karena benda tersebut tidak berbahaya dan kemungkinan untuk jatuh dipemukiman warga sangat kecil sekali. Laut dan hutan dikatakan menjadi tempat yang paling mungkin dari jatuhnya bangkai satelit UARS.

"Masyarakat diminta langsung melaporkan aparat terkait atau LAPAN jika melihat atau menemukan benda yang jatuh dari langit. Sebab perlu dilakukan pengamanan umum guna memastikan apakah benar benda tersebut adalah serpihan UARS atau bukan,"tutupnya. (tyo)


• Okezone
READ MORE - Masyarakat Diminta Lapor Jika Temukan Satelit Jatuh

Blog Archive