Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Showing posts with label Teknologi Informasi. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Informasi. Show all posts

Tuesday, September 20, 2011

Forum Kemitraan ICT Indonesia-Korsel Digelar

detail berita


Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK) telah memainkan dan akan terus memainkan peran yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan bisnis dan industri di seluruh dunia. Hal yang sama juga berlaku bagi Indonesia.

Pertumbuhan dan perkembangan yang didorong atau dipelopori oleh ICT akhirnya akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan bagi Indonesia dalam bidang efisiensi, pengukuran dan kontrol, akuntabilitas dan pertunjukan. Indonesia dari semua lapisan masyarakat dipastikan akan menggunakan TIK dalam setiap aspek kehidupan mereka!

Didorong pertumbuhan tersebut ASPILUKI, the Indonesian Telematic Software & Services Association (ITSA) yang merupakan anggota ASOCIO (Asian-Oceanian Computing Industry Organization) mendapatkan kehormatan mengatur dan mengelola KOREA – INDONESIA ICT PARTNERSHIP FORUM 2011 yang turut juga Kadin Indonesia dan FTII.

Tujuan Forum Kemitraan TIK sendiri adalah untuk menciptakan sebuah strategi Bisnis to Bisnis (B2B) yang terkait antara mitra di Indonesia dengan perusahaan, Solusi dan Service Provider dari Korea.

Pertemuaan ini akan memberikan kesempatan peserta untuk bertukar informasi yang berkaitan dengan produk ICT dari Korea dan peluang pasar terkait TIK di Indonesia. Platform ini juga diarahkan untuk menjadi mediator untuk kegiatan lebih lanjut antara peserta dari kedua negara untuk promosi produk, jaringan dan kesempatan, yang akhirnya ditargetkan untuk menciptakan kerjasama dan usaha untuk saling menguntungkan dari kedua belah pihak.

70 persen dari peserta dari Forum Kemitraan TIK ini diharapkan berasal dari segmen perusahaan Indonesia, yang akan mencakup Sistem Integrator TIK terkait dan 30 persen lainnya dari segmen pengguna akhir, yang meliputi perusahaan swasta, BUMN, lembaga dan departemen.

Pemerintah juga serius menjalan program ini yang didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Republik Indonesia, Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi, Bpk Tiffatul Sembiring yang akan menjadi pembicara pada hari pertama acara dan pembicara lainnya adalah Wakil Ketua dari KADIN Indonesia.

Segmentasi Produk - Promosi Event

Promosi agresif akan ditargetkan pada perusahaan dan organisasi-organisasi terkait TIK (Vendor, Solusi dan Service Provider). Organisasi-organisasi ini digolongkan ke dalam beberapa segmen 'kebutuhan strategis', yaitu:

*) Digital Broadcasting
*) Elektronik Digital - Digital TV, LED dll
*) Jaringan Solusi - WIMAX, dll Broadband & Teknologi Seluler
*) Perangkat Lunak (Isi)
*) Vertikal Solusi
*) Konvergensi TI - Embedded Systems
*) Industri Elektronik
*) Solusi Teknologi Mobile
*) Solusi Keamanan (Enterprise dan Mobile)

Nantinya sebanyak 43 perusahaan dari Korea akan ambil bagian dengan program ini dan akan menunjukkan produk mereka dan layanan, briefing, dan presentasi khusus diharapkan untuk membantu peserta dalam membandingkan solusi side-by-side. Pihak dari Korea Selatan pun akan mengundang operator terbesar di Korsel, ST Telecom, yang akan mengundang Mr. Abraham Jo, yang menjabat sebagai Executive Director of SK Telecom untuk berbicara sebagai keynote speaker.

Event
Untuk tujuan memaksimalkan dampak dari acara ini bagi peserta baik Korea dan Indonesia, event organizer telah menyiapkan kegiatan strategis dikemas selama 2 Hari.

Program ini merupakan tonggak kerjasama bilateral yang telah dilakukan melalui program interaktif seperti pertandingan membuat yang mengarah ke usaha patungan dan diharapkan menjadi seri puncak dari program yang dapat terlihat ketika kedua belah pihak pada saat selesainya pertandingan membuat program yang dapat mengatur Nota Kesepahaman atau Perjanjian Kerjasama, program ini tidak hanya seminar biasa atau seremonial.

Kesimpulan

Program ini merupakan tonggak kerjasama bilateral yang telah dilakukan melalui program interaktif seperti membuat yang mengarah ke usaha patungan dan diharapkan menjadi seri puncak dari program yang dapat terlihat dari kedua belah pihak. Sehingga pada saatnya nanti program ini membuat program yang dapat mengatur Nota Kesepahaman atau Perjanjian Kerjasama, program ini tidak hanya seminar biasa atau seremonial.

Sangat baik untuk kedua belah pihak untuk membuka peluang investasi dalam bentuk usaha patungan di TIK untuk memperkuat hubungan jangka panjang dan dapat membantu bisnis tumbuh lebih cepat, meningkatkan produktivitas dan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.(adv) (tyo)


Okezone
READ MORE - Forum Kemitraan ICT Indonesia-Korsel Digelar

Wednesday, September 14, 2011

Indonesia-Serbia Sepakati Kerjasama Pertahanan

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah Indonesia dan Serbia sepakat meningkatkan kerja sama bidang pertahanan yang meliputi kebijakan strategis, dukungan logistik, kerja sama industri pertahanan, pendidikan dan pelatihan.

Kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dan mitranya Menteri Pertahanan Serbia Dragan Sutanovac di Jakarta, Selasa.

Purnomo menambahkan, dalam bentuk konkretnya kerja sama kedua negara dilakukan dalam bentuk dialog pertahanan strategis, pertukaran intelijen, pertukaran pengalaman dan konsultasi, program pelatihan dan pendidikan, partisipasi dalam konferensi, simposium dan seminar serta pengadaan alutsista yang meliputi teknologi dan bantuan teknis kerja sama industri pertahanan.

Ia menambahkan, faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dengan peningkatan kerja sama pertahanan kedua negara antara lain teknologi dan mutu hasil industri pertahanan Serbia sesuai dengan standar internasional yaitu NATO maupun standar bekas Uni Soviet.

"Kemudian beberapa produsen amunisi dari negara-negara lain seperti Belgia, Spanyol, dan Malaysia membeli komponen-komponen tertentu terutama 'raw material' dari Industri pertahanan Serbia, termasuk yang telah dibeli Indonesia dari Belgia dan Afrika," kata Purnomo.

Lebih lanjut ia mengatakan ke depan, peningkatan kerja sama militer bidang pertahanan dengan Republik Serbia, dapat dikatakan memiliki prospek yang cukup menjanjikan berupa kelebihan kemampuan atau keunggulan pabrik-pabrik senjata dan munisi Serbia, yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif penjajakan kerja sama alih teknologi dengan industri pertahanan RI.

"Penjajakan kerja sama alih teknologi dengan industri pertahanan itu antara lain dapat menyempurnakan uji coba peluncuran roket LAPAN dan penyempurnaan uji coba mortir buatan Pindad yang masih belum stabil," katanya.(*/Antara)



Suarakarya
READ MORE - Indonesia-Serbia Sepakati Kerjasama Pertahanan

Wednesday, September 7, 2011

LMD Bawa Teknologi Cloud Computing Hexagrid ke Indonesia

 

LMD Bawa Teknologi Cloud Computing Hexagrid ke Indonesia. Dari kiri ke kanan: Arief R Yulianto (Presiden Direktur Lintas Media Danawa), Suresh Mandava (CEO and Founder Hexagrid), dan Joseph Seibel (CF) & VP Strategic Development)[Robert Adhi Ksp/KOMPAS]

JAKARTA, KOMPAS.com - Lintas Media Danawa (LMD), anak perusahaan Lintasarta, perusahaan ICT terkemuka di Indonesia saat ini, membawa teknologi cloud computing ke Indonesia.

Presiden Direktur Lintas Media Danawa Arief R Yulianto dalam percakapan dengan Kompas di kantor Redaksi Kompas hari Selasa (6/8/2011) sore mengatakan, LMD bermitra dengan Hexagrid, perusahaan global yang mengembangkan cloud computing di seluruh dunia, mulai dari Amerika Serikat, negara-negara di Eropa, India, Jepang, Singapura sampai Indonesia.

"LMD membuat cloud computing service. Di Indonesia, LMD menjadi leader di bidang ini. Kami melayani on demand cloud computing dan private cloud computing. Di Indonesia, baru LMD yang memiliki layanan ini," kata Arief.

Untuk layanan on demand cloud computing, tarifnya Rp 1.000 per jam per 1 GB. Untuk private cloud computing, penggunanya lebih banyak perusahaan.

Sementara itu CEO dan Founder Hexagrid Suresh Mandava, serta CFO & VP Strategic Development Joseph Seibel CFA menambahkan, perusahaan Hexagrid membawa teknologi ini dari Amerika ke pasar Indonesia. Dengan tekonologi cloud computing, pihaknya menyediakan layanan bagi perusahaan yang membutuhkan server untuk web, mail, aplikasi lainnya.

"Daripada membeli server baru, lebih baik perusahaan-perusahaan menyewa server secara virtual. Tak perlu keluar banyak biaya, menghemat biaya sampai 80 persen dan bebas biaya perawatan," jelas Joseph.

Saat ini Hexagrid memiliki 28 klien mitra di seluruh dunia dan lebih dari 200 end-user.

Menurut Joseph, prospek bisnis cloud computing sangat besar. Ia melihat potensi pendapatan hingga 2 miliar dollar AS untuk pasar cloud computing di Indonesia. Sedangkan untuk pasar global, potensi pendapatan mencapai 152 miliar dollar AS.

Penghematan yang diperoleh jika menggunakan cloud computing adalah rak yang dipakai untuk server cukup dua rak, sedangkan jika tidak menggunakan teknologi cloud computing, perusahaan butuh lebih 10 rak.

Selain itu, dari sisi biaya, jauh lebih murah. Perusahaan yang belum menggunakan teknologi ini harus membayar 2.000 dollar AS per bulan untuk sewa server, sedangkan yang memanfaatkan teknologi ini cukup membayar 40 dollar AS tergantung skalanya.

Menurut Joseph, melalui teknologi cloud computing, perusahaan yang menggunakan server lama bisa melakukan migrasi ke server virtual yang jauh lebih efisien dan murah.

"Banyak contoh raksasa perusahaan sudah menggunakan cloud computing, yaitu Google, Facebook, Amazon, Yahoo," jelas Joseph.


KOMPAS
READ MORE - LMD Bawa Teknologi Cloud Computing Hexagrid ke Indonesia

Wednesday, August 24, 2011

First Media investasi naikkan bandwidth

Penyedia jaringan internet broadband dan saluran TV kabel berbayar PT First Media Tbk (Istimewa)



Jakarta (ANTARA News) - PT First Media Tbk penyedia internet broadband dan TV berbayar berbasis kabel menginvestasikan 2,5 juta dolar AS untuk meningkatkan standardisasi kapasitas bandwidth pelanggan menjadi 3 Mbps pada tahun 2011.



"Investasi 2,5 juta dolar AS untuk membeli perangkat CMTS (cable modem termination systems) di lima tempat di Jabodetabek," kata Wakil Dirut First Media, Dicky Moechtar, dalam siaran pers di Jakarta, Selasa.



Dicky menjelaskan, upgrade dimulai sejak 24 Agustus dan diharapkan rampung akhir tahun 2011 seiring penambahan jaringan homepass (sambungan kabel) dari 400.000 menjadi 500.000 homepass di akhir tahun.



"Kami menargetkan First Media bisa menyediakan 1 juta homepass di 2015 nanti," kata Dicky.



Ia menjelaskan, dari 400.000 homepass yang tersedia saat ini sebanyak 360.000 di antaranya sudah merupakan pelanggan First Media.



"Dari jumlah tersebut sebanyak 3.000 sudah menggunakan tayangan konten siaran TV dengan kualitas high definition (HD). Kami memproyeksikan pengguna fitur HD First Media akan bertambah 10.000 menjadi sekitar 13.000 pelanggan HD," ujarnya.



Menurutnya dengan peningkatan kapasitas menjadi standard 3 Mbps, pelanggan tidak akan dikenakan biaya tambahan dalam berlangganan. "Ini komitmen kami menyediakan akses digital living di rumah-rumah. Dan 3 Mbps memang sudah menjadi standard dunia," katanya.



Dari sisi sisi biaya berlangganan, bandwidth yang ditawarkan First Media sudah menyamai kapasitas internet yang disediakan oleh negara tetangga.



"Tarif kami untuk 3 Mbps sebesar Rp335.000 ini sama dengan Singapura yang menawarkan biaya 35 dolar Singapura untuk akses 3 Mbps," ujar Dicky.



Pada kesempatan itu, First Media juga memperbaharui kerja samanya dengan Fox International Channel untuk memperkuat konten siaran di TV kabel berbayarnya. Tercatat sebanyak 15 kanal yang sudah HDTV ready dari Fox untuk pelanggan HD First Media.



Di sejumlah negara Asia termasuk Indonesia Fox mengoperasikan 27 saluran dengan berbagai genre hiburan dan berita seperti Starworld, Fox, National Geographic, Star Movies, V-Channel, dan lainnya.



"Saat ini sudah ready 10 kanal TV HD, selanjutnya 15 channel TV. Kita sendiri menargetkan akan seperti Singapura di mana mempunyai 20 channel TV HD," kata Dicky. (T.R017/Z002)





ANTARAnews

READ MORE - First Media investasi naikkan bandwidth

Pemerintah Serahkan WiMax Pada Penyelenggara

Pemerintah memberikan 2 opsi bagi operator penyelenggara layanan WiMax.



Pemerintah memberikan 2 opsi bagi operator penyelenggara. Mau tetap menggunakan teknologi lawas, atau teknologi WiMax terbaru, namun dengan syarat. (VIVAnews/Muhammad Firman)



VIVAnews
- Setelah cukup lama menimbulkan polemik di sejumlah kalangan, akhirnya Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) Muhammad Budi Setiawan dalam rapat strategis di Gedung Sapta Pesona, Jakarta mengumumkan keputusan penting.

Dihadiri perwakilan direksi dan atau komisaris para pemegang izin BWA seperti Telkom, First Media, Berca Hardayaperkasa, Indosat M2, Jasnita Telekomindo, serta anggota BRTI dan beberapa pejabat Kementerian Kominfo, rapat itu menghasilkan 2 opsi.



Opsi pertama, pemegang izin Broadband Wireless Access (BWA) diperkenankan tetap menggunakan teknologi sesuai Dokumen Seleksi tahun 2009, dengan nilai Biaya Hak Pakai (BHP) Izin Pita Spektrum Frekuensi Radio (IPSFR) tahunan sesuai hasil seleksi lelang tahun 2009.



Opsi kedua, para operator pemegang izin pita frekuensi radio 2,3GHz itu boleh menggunakan teknologi BWA lain, dengan konsekuensi wajib menerima nilai BHP IPSFR yang telah disesuaikan dari nilai harga seleksi lelang tahun 2009.



“Pertemuan tersebut tidak memberikan opsi tawar-menawar nilai BHP IPSFR tahunan, karena pilihannya hanya take it or leave it dan hal tersebut merupakan murni keputusan dari penyelenggara BWA,” kata Gatot S Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo dalam keterangan resminya, 24 Agustus 2011.



Gatot menyebutkan, setelah diberi kesempatan berunding secara internal, masing-masing penyelenggara BWA dimintakan tanggapannya terhadap kedua opsi tersebut berikut dengan besaran BHP IPSFR yang diambil.



“Pada umumnya sebagian besar menyambut gembira upaya pemerintah tersebut, karena terdapat 3 (tiga) penyelenggara BWA yang langsung memilih Opsi 2 berikut konsekuensi penambahan harga BHP IPSFR, terdapat 1 (satu) penyelenggara BWA yang juga tentatif akan memilih Opsi 2 tetapi harus melakukan konsultasi internal, dan ada juga 1 (satu) penyelenggara BWA yang menyatakan akan tetap dengan Opsi 1 dengan berbagai pertimbangan yang ada,” ujar Gatot.



Gatot menegaskan, penetapan pilihan tersebut bukan karena tekanan pihak-hak tertentu baik dalam negeri maupun luar negeri dan juga bukan karena Kementerian Kominfo memiliki kepentingan tertentu.



“Keputusan ini semata-mata untuk melaksanakan kebijakan Menkominfo Tifatul Sembiring agar penyelenggaraan BWA tetap dapat direalisasiksan bagi pemenuhan layanan internet dengan tarif yang murah dan pemenuhan TKDN (Tingkat Kandungan Dalam Negeri) yang proporsional dengan tetap mengacu padaa peraturan yang berlaku,” ucapnya.



Untuk kelanjutan proses kebijakan ini, kata Gatot, Kementerian Komunikasi dan Informatika akan segera menetapkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika tentang Penggunaan Netral Teknologi Pada Pita Frekuensi Radio 2.3 GHz Untuk Keperluan Layanan Pita Lebar Nirkabel (Wireless Broadband).



Rancangan Peraturan Menteri Kominfo tersebut akan dipublikasikan dalam satu dua hari ini. Kepada pihak manapun yang berkepentingan langsung atau tidak langsung dengan substansi RPM ini diundang partisipasinya untuk menyampaikan tanggapannya secara terbuka.



Proses berikutnya setelah pemenuhan kewajiban komitmen antara pilihan Opsi 1 atau Opsi 2 adalah berupa pelaksanaan untuk mengikuti ULO (Uji Laik Operasi) dan setelah melalui proses ULO dan dinyatakan lulus, kemudian pengajuan permohonan untuk memperoleh izin penyelenggaraan.



Setelah izin penyelenggaraan disetujui maka kepada para penyelenggara BWA telah diizinkan untuk melakukan kegiatan komersial kepada para pelanggannya. Namun jika hanya masih memegang izin prinsip (yang kesemuanya ini akan berakhir pada sekitar tanggal 6 November 2011), maka mereka dilarang untuk melakukan kegiatan komersial.(np)





VIVAnews

READ MORE - Pemerintah Serahkan WiMax Pada Penyelenggara

Tuesday, August 23, 2011

Telkom Speedy Tingkatkan Bandwith Internasional

JAKARTA--MICOM: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menyiapkan layanan broadband dengan bandwith mencapai 100 Gbps untuk akses internet konten-konten internasional.



Menurut Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah, selain mempercepat akses internet, penambahan bandwith juga ditujukan untuk mengimbangi pesatnya pertumbuhan pelanggan Speedy yang kini memiliki 2,1 juta pelanggan atau meningkat lebih dari 400.000 pelanggan dibanding akhir 2010.



"Dengan tersedianya akses internet dalam kapasitas besar keluar negeri, pelanggan Speedy kini leluasa menikmati konten-konten dari mancanegara,” ujar Rinaldi di Jakarta, Selasa (23/8).



Ia menjelaskan, tren pemakaian internet di kalangan masyarakat saat ini didominasi oleh akses terhadap konten-konten internasional, dibandingkan terhadap konten-konten lokal.



Seiring dengan pesatnya pertumbuhan kebutuhan layanan internet di Indonesia, tentunya menuntut pula penyiapan infrastruktur yang dapat memenuhi perkembangan dari kebutuhan tersebut.



"Peningkatan kapasitas bandwith internasional yang sangat besar tersebut menunjukan Telkom senantiasa berupaya untuk selalu dalam kondisi leading supply untuk akses internet keluar negeri, karena hal inilah yang mampu menunjukkan kualitas layanan kami kepada pelanggan di Indonesia," jelas dia.



Menurutnya, tersedianya akses internet dalam kapasitas besar ke luar negeri akan menjamin kenyamanan pelanggan Speedy baik dalam hal kualitas maupun kecepatan ketika mengakses berbagai konten dari mancanegara.



Untuk mendukung hal tersebut, perseroan juga telah melakukan peningkatan kapasitas Broadband Remote Acces Server/BRAS di beberapa lokasi (Jakarta, Jawa Barat, Batam, Semarang, Medan & Pontianak) untuk meningkatkan kecepatan Acces pelanggan Speedy dalam mengantisipasi jumlah pelanggan Speedy. (Atp/OL-9)





MediaIndonesia

READ MORE - Telkom Speedy Tingkatkan Bandwith Internasional

Monday, August 22, 2011

Indosat Uji Coba LTE di Laboratorium ITB

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA-Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Kesiapan Indosat dalam merealisasikan layanan long term evolution (LTE atau 4G) diwujudkan melalui uji coba LTE bersama dengan mitra ZTE, yang dilaksanakan di Indosat Innovation Lab di Institut Teknologi Bandung (ITB) hari ini. Uji coba LTE ini juga menjadi bagian dari program kerja sama Indosat dengan ITB, yaitu Program Penelitian Tablet dan Aplikasi.

"Uji coba LTE ini merupakan wujud kesiapan kami dalam mengadopsi evolusi teknologi sekaligus merealisasikan layanan LTE bagi masyarakat, yang dimulai dengan menghadirkan Laboratorium, LTE 100 Mbps di mana uji cobanya kita lakukan hari ini," kata Fadzri Sentosa, Director & Chief Wholesale & Infrastructure Indosat, Senin (22/8/2011) ini dalam rilisnya.

Kesiapan Indosat menerapkan LTE merupakan bagian dari Modernisasi Jaringan yang dilakukan sejak tahun lalu, yang ditandai dengan kesuksesan Indosat menghadirkan internet tercepat DC-HSPA+ 42 Mbps di Jakarta dan beberapa kota, di mana peluncuran DC-HSPA+ 42 Mbps ini sekaligus menjadikan Indosat sebagai operator pertama di Asia dan kedua di dunia yang menghadirkan kecepatan ini

Sementara itu, komitmen Indosat dalam mendorong tumbuhnya inovasi dan pengembang aplikasi diwujudkan dengan pendirian Indosat Innovation Lab kedua, bekerja sama dengan ITB, di mana hal ini juga menjadi bagian dari kerja sama Program Penelitian Tablet dan Aplikasi Indosat dan ITB, yang juga didukung oleh berbagai mitra, seperti ZTE, RIM, Nokia Siemens Network, Creatary, dan Alcatel Lucent.

Kerja sama dengan ITB ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem kampus wireless and sekaligus menyediakan fasilitas penelitian dan pengembangan Aplikasi Cloud Mobile dan Tablet dan sekaligus memberikan kesempatan kepada salah satu kampus ternama, dalam hal ini ITB, untuk menjadi center of excellence dan bidang ini. Lingkup kerja sama yang dilakukan meliputi Laboratorium Penelitian, Jaringan (LTE 100 Mbps), Training dan Edukasi, serta Marketing Plan.

"Melalui kerja sama ini Indosat akan terus mendorong semangat berinovasi dan berkreasi langsung ke institusi akademis, sekaligus menciptakan kolaborasi positif antara dunia industri dan dunia akademis atau kampus itu sendiri," demikian Fadzri menutup penjelasannya.



KOMPAS
READ MORE - Indosat Uji Coba LTE di Laboratorium ITB

Saturday, August 20, 2011

Menkominfo Beralih ke Teknologi Netral untuk Wimax

Jakarta - Menkominfo Tifatul Sembiring semakin menegaskan tak akan lagi mempermasalahkan perbedaan standardisasi Wimax. Tujuannya agar teknologi pita lebar dengan

batasan kode area itu bisa segera dikomersilkan.



"Pekan ini penentuan teknologi Wimax selesai. Ke depan tidak lagi membatasi teknologi," ujarnya di sela buka puasa bersama di rumah dinas menteri, di Komplek Widya Chandra, Jakarta, Jumat (19/8/2011).



Wimax sendiri sudah hampir dua tahun terkatung-katung tanpa kejelasan. Sejak pita broadband wireless access (BWA) selebar 30 MHz di spektrum 2,3 GHz dilelang

untuk 15 zona, seharusnya September 2011 ini Wimax sudah beroperasi secara penuh.



Namun Wimax belum jua beroperasi karenak para pemenang lelang mayoritas masih keberatan dengan standardisasi 16d yang diusung pemerintah. Hal itu diakui Tifatul sebagai kendala yang terjadi selama ini.



"Memang, di Peraturan Dirjen sebelumnya mengarahkan ke teknologi tertentu. Itu kan sebelum saya jadi Menkominfo. Nanti, akan ada perjanjian baru. Asalkan

industri pendukung siap penuhi TKDN (tingkat kandungan konten dalam negeri), saya berikan arahan untuk teknologi netral," kata Tifatul.



Langkah teknologi netral ini turut disambut oleh First Media, salah satu pemenang tender BWA Wimax. Menurut Dicky Moechtar, Sales Director First Media, pihaknya akan mengikuti setiap kebijakan yang diterbitkan pemerintah.



"Sebenarnya Wimax kami sudah mulai jalan di 16d. Namun cakupannya masih sebatas di Karawaci, Bintaro, dan sekitarnya. Kami menggunakan 200 menara milik sendiri. Untuk memenuhi coverage Jabodetabek, kami masih membutuhkan 800 menara lagi," kata dia.



Untuk biaya menara, kata Dicky, First Media akan menggunakan skema penyewaan tower. "Untuk biaya per menara, investasi biaya sewanya bisa berkisar Rp 10-15

juta per bulan selama setahun. Bisa dihitung sendiri berapa operasionalnya," tandas dia.

( rou / ash )





detikInet

READ MORE - Menkominfo Beralih ke Teknologi Netral untuk Wimax

Friday, August 12, 2011

Cara Memajukan Industri ICT di Indonesia

ICT di Indonesia berpotensi untuk maju, berkembang dan merambah pasar luar negeri.



Industri ICT di Indonesia juga berpotensi untuk maju, berkembang dan merambah pasar luar negeri. Syaratnya, pemerintah perlu memberikan kemudahan dan membuat kebijakan yang mendukung. (Ilustrasi)



VIVAnews
- Sekitar 40 tahun lalu, pemerintah Taiwan mendorong industri yang ada di negeri itu untuk melakukan ekspor. Hasilnya, saat ini, sekitar 80 persen produk yang dibuat oleh perusahaan dari berbagai skala asal Taiwan dijual ke luar negeri. Apa rahasianya?

Menurut James Chen, Direktur Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) yang menangani promosi brand Taiwan secara Global, pemerintah Taiwan sangat mendukung industri teknologi informasi di sana.



“Perusahaan-perusahaan, termasuk perusahaan baru atau yang masih berskala kecil, tidak perlu menginvestasikan banyak anggaran untuk melakukan riset dan pengembangan,” kata James di Jakarta. “Pemerintah yang melakukan penelitian teknologi. Hasilnya ditransfer ke pihak swasta,” ucapnya.



Selain itu, kata James, pemerintah juga menyediakan anggaran bagi perusahaan-perusahaan swasta untuk mempopulerkan merek mereka. Salah satunya adalah lewat TAITRA.



“Institusi ini merupakan institusi semi pemerintah yang berada di bawah departemen perdagangan, namun mendapatkan dukungan penuh,” kata James. “Sebagai contoh, jika sebuah perusahaan yang sudah tergabung dalam TAITRA dan sudah mendapatkan penghargaan Taiwan Excellence, artinya produk yang dibuat oleh perusahaan tersebut kualitasnya dijamin oleh pemerintah Taiwan,” ucapnya.



Dari sisi kemudahan, kata James, pemerintah Taiwan juga memberikan solusi lengkap bagi perusahaan yang ingin berdiri ataupun mengembangkan usahanya. “Pemerintah menawarkan keringanan pajak bagi perusahaan-perusahaan,” kata James.



Tidak hanya pajak, kata James, pemerintah juga membebaskan tanah dengan harga yang lebih murah bagi mereka yang ingin mendirikan perusahaan. “Misalnya di kawasan Hsinchu, Taichung, dan Hainan,” ucap James. “Di kawasan-kawasan ini, pemerintah menyediakan lahan untuk dijadikan pusat-pusat riset hardware dan pengembangan dengan konsep science park. Adapun di Taipei sendiri terdapat software department zone,” ucapnya.



Dari sisi edukasi, pemerintah juga sudah menggelar sekolah menengah kejuruan dan juga universitas teknologi bagi warga yang lulusannya akan diserap oleh industri tersebut.



Lewat TAITRA, mulai tahun 2010, industri yang bergabung didalamnya dibantu untuk merambah pasar konsumen atau business to consumer (B2C) dari sebelumnya fokus ke pasar bisnis atau business to business (B2B). Kalau tahun 2010 lalu mereka diboyong merambah India, Indonesia, dan Vietnam, tahun 2011 ini TAITRA akan mengkampanyekan perusahaan-perusahaan yang bergabung di sana ke pasar China.



Lalu, bagaimana dengan di Indonesia?



Menurut James, industri ICT di Indonesia juga berpotensi untuk maju, berkembang dan merambah pasar luar negeri. “Syaratnya, pemerintah perlu memberikan dukungan bagi perusahaan-perusahaan tersebut. Selain itu, kebijakan pemerintah juga sangat penting untuk mendorong keberhasilan mereka,” ucapnya.





VIVAnews

READ MORE - Cara Memajukan Industri ICT di Indonesia

Thursday, August 4, 2011

Esia Siap Naikkan Kapasitas Hingga 100%

Selama Ramadan dan menyambut Lebaran, Esia menggelar promo silaturahmi mulus tanpa putus.

Selama Ramadan dan menyambut Lebaran, Esia menggelar promo silaturahmi mulus tanpa putus. Untuk mendukung program tersebut, Esia sudah mengantisipasi agar tidak jadi kepadatan jaringan. (facebook.com)

VIVAnews
- Untuk membantu umat muslim selama berpuasa, Esia menyediakan layanan SMS Jadwal Imsakiyah sehingga pelanggan bisa dengan mudah mengetahui waktu pelaksanaan ibadah lima waktu tanpa khawatir terlewatkan.

Selain itu, Esia juga tak mau ketinggalan dalam memberikan promo selama bulan ramadhan. Kali ini operator itu memperkenalkan tawaran khusus silaturahmi mulus tanpa putus dengan nama Promo Ramadhan Esia *999#, misalnya: gratis 1.000 karakter SMS ke semua operator, konten Islami, SMS tausiyah, cerita 25 Nabi dan Rasul, nasyid, dan RBT bernuansa Ramadan.

Untuk mendukung program promo tersebut, Esia sudah mengantisipasi agar tidak terjadi kepadatan dalam jaringan mereka.

“Kami siapkan ekstra kapasitas di jaringan,” kata Ridzki Kramadibrata, Executive Vice President Produk, Marketing & CRM Bakrie Telecom di Jakarta, 4 Agustus 2011. “Khusus untuk Lebaran kali ini, kami akan tingkatkan kapasitas jaringan antara 50 hingga 100 persen,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Erik Meijer, Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk menyebutkan program yang digelar kali ini bukan bertujuan menambah pelanggan, akan tetapi untuk memanjakan pelanggan.

“Saat ini fokus ke pelanggan yang ada agar lebih nyaman dalam menggunakan layanan,” kata Erik. “Syukur-syukur kalau ada pelanggan lain yang mendengar layanan ini kemudian mau pindah, ya alhamdulillah,” ucapnya. Saat ini Esia memiliki 13,6 juta pelanggan.



VIVAnews
READ MORE - Esia Siap Naikkan Kapasitas Hingga 100%

Monday, August 1, 2011

Jangkau DaerahTerpencil, Menara Komunikasi akan Dibangun di Perbatasan Negara

Pekerja memasang alat Remote Radio Unit (RRU) pada menara Base Transmitter System (BTS).

REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA - Guna memaksimalkan pelayanan komunikasi hingga ke daerah terpencil, Pemprov Kaltim melalui Dinas Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan perusahaan komunikasi nasional segera membangun menara di kawasan perbatasan negara.

"Menara yang akan kami bangun itu tepatnya berada di salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Malaysia, yakni di Kecamatan Long Ampung, Kabupaten Malinau," tutur Kepala Diskominfo Kaltim, M Jauhar Efendi, di Samarinda, Senin (1/7).

Ia mengatakan warga di kawasan perbatasan negara tersebut sangat membutuhkan adanya pelayanan komunikasi. Sebagian besar masyarakatnya sudah memiliki telepon genggam atau handphone (HP), namun sinyal yang ada di daerah itu belum ada.

Selama ini HP mereka hanya bisa dimanfaatkan untuk mengambil gambar dan mendengarkan musik, karena belum tersedianya sinyal atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi.

Ia menilai fenomena di perbatasan HP hanya bisa digunakan untuk mendengarkan musik dan memotret itu sangat ironis, karena lazimnya fungsi utama HP adalah untuk menelepon atau ber-SMS.

Semula lanjutnya, dia berharap kepada PT Telkom Pusat agar membangun tower (menara) komunikasi di kawasan itu dengan murni biaya Telkom, namun Telkom tidak bersedia karena biaya yang digunakan terlalu tinggi, sedangkan jumlah konsumen di kawasan perbatasan itu tidak terlalu besar.

Terkait dengan itu, maka kemudian Diskominfo Kaltim merasa bertanggung jawab membangun tower dengan dana patungan. Keberadaan tower tersebut nantinya juga akan dapat digunakan berbagai perusahaan telekomunikasi yang beroperasi di Kaltim.

Ia mengatakan pihaknya sengaja mengajak kerja sama dengan Telkomsel, karena mayoritas warga di Provinsi Kaltim banyak menggunakan operator tersebut untuk sarana komunikasi.

Untuk tahap awal dalam mengatasi persoalan pembangunan pertelekomunikasian itu, pemerintah daerah memang akan membantu pembangunan tower di Malinau dulu, yakni satu dari tiga kabupaten yang berbatasan langsung dengan Malaysia.

Ke depan lanjutnya, pembangunan menara sejenis sebanyak dua unit akan dilakukan pada 2012, yakni akan didirikan di dua kabupaten perbatasan lainnya, yakni di kecamatan yang ada di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Nunukan.

"Pembangunan tower di perbatasan itu merupakan salah satu cara dalam memecahkan masalah sulitnya komunikasi di daerah pedalaman. Ini juga merupakan bentuk komitmen Pemprov Kaltim dalam membangun kawasan perbatasan dan daerah terpencil," ucap Jauhar.


Republika
READ MORE - Jangkau DaerahTerpencil, Menara Komunikasi akan Dibangun di Perbatasan Negara

Saturday, July 30, 2011

Data Center Terteknologi Tinggi Dibangun di Indonesia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Fasilitas data center berteknologi tinggi untuk memberikan pelayanan menyeluruh dibangun di Jakarta. Fasilitas canggih itu berada di dalam gedung yang dinamai CXJ (ComputerExchange Jakarta) di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Rencananya pusat data yang dibangun di lahan seluas 30.000 m persegi, menjadi fasilitas pusat data terbesar di Indonesia akan mulai beroperasi pada kuartal terakhir 2011.

Adrian Yong, CEO Grup dan Directur CSF Group plc, mengatakan, ekonomi digital erat kaitannyadengan membangun komunitas yang saling terhubung yang menyediakan beragam layanan terkait dengan pusat data, baik untuk bisnis maupun industri penyedia jasa.

"Dengan pengalaman dan keahlian yang kami miliki kami siap mendukung berbagai sektor industri termasuk institusi finansial, perusahaan game development, serta perusahaan penyedia internet," ungkap Adrian Yong dalam keterangannya kepada Tribunnews, Jumat (29/7/2011).

Dikatakannya, Indonesia menjadi salah satu pilihan pengembangan usaha mengingat pertumbuhan pengguna internet di Indonesia telah mendorong banyak usaha untuk juga memperkuat manajemen pusat data mereka. Apalagi Indonesia termasuk jajaran 5 besar negara Asia dalam hal penggunaan internet dengan menduduki peringkat ke-4 setelah Cina, India dan Jepang.

"Kementerian Ekonomi baru-baru ini juga mengumumkan targetnya untuk meningkatkan penetrasi penggunaan broadband hingga 30 persen pada 2014. Perkembangan ini menunjukkan adanya kebutuhan pengadaan infrastruktur pusat data baru guna mendukung perkembangan ekonomi digital di Indonesia," ungkapnya.


Tribunnews
READ MORE - Data Center Terteknologi Tinggi Dibangun di Indonesia

Friday, July 29, 2011

Habibie Ingin Kembalikan Kejayaan Industri Dirgantara Indonesia

LONDON--MICOM: Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, Presiden Republik Indonesia ke-3 bersama sekitar 45 mantan karyawan IPTN serta tenaga ahli Indonesia di bidang kedirgantaraan yang tersebar di Bremen, Ausburg, Muenchen, dan Hamburg mengadakan acara silaturahmi di Hamburg.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga jam itu diisi dengan pemberian wejangan serta pemaparan mengenai perkembangan industri penerbangan nasional.

Dalam pemaparannya Habibie menyampaikan keinginan dan keyakinan akan kembalinya kejayaan industri dirgantara Indonesia yang mengalami kemunduran sejak 1995.

Dikatakan bahwa mundurnya kedirgantaraan Indonesia tersebut, antara lain disebabkan kurangnya upaya pemerintah untuk memfasilitasi produk dari PT Dirgantara.

Menurutnya, apabila pemerintah ingin memajukan industri penerbangan nasional, pemerintah harus lebih serius dan memiliki komitmen yang kuat untuk mengembangkan industri dirgantara, termasuk mengalokasikan anggaran khusus untuk kepentingan riset.

Untuk memajukan industri kedirgantaraan Indonesia, tidak hanya diperlukan kebijakan yang baik dari pemerintah, namun juga harus disertai tindakan nyata dalam mendukung riset yang dilakukan oleh para tenaga ahli dan cendikiawan.

Dikatakannya, 16 tahun lalu Indonesia sudah mampu membuat pesawat N-250 Gatot Kaca dan CN-235 serta produk-produk lainnya, yang sempat mendulang sukses di dunia penerbangan nasional dan internasional. Namun saat krisis , atas desakan IMF, kejayaan industri tersebut terpaksa harus pupus karena berbagai alasan.

Dikemukakannya bahwa masyarakat dan pemerintah Indonesia tentu rindu akan kejayaan industri dirgantara seperti pada era 1990-an, namun keinginan tersebut diharapkan jangan sampai masuk perangkap untuk berpolemik seperti dahulu sehingga industri dirgantara melemah.

Saat ini pemerintah tampaknya memiliki keinginan kembali untuk memajukan industri penerbangan nasional, namun harus didukung oleh riset dan ketersediaan para ahli teknologi. Dalam kaitan ini, pemerintah harus menyediakan wadah agar para ahli teknologi Indonesia dapat berkiprah dan berkarya di negeri sendiri.

Di akhir pemaparan, Habibie menghimbau kepada seluruh peserta yang hadir untuk terus berkarya dan kembali ke Tanah Air guna memberikan sumbangsih bagi kemajuan bangsa.

Ditegaskannya, terdapat lima hal yang harus dicamkan dalam melaksanakan pekerjaan, yaitu "work hard, be fair, be rational, be low profile, and never be a hero".

"Jadikan Indonesia sebagai bangsa yang makmur, sejahtera dan disegani," demikian BJ Habibie. (Ant/wt/X-12)


MediaIndonesia
READ MORE - Habibie Ingin Kembalikan Kejayaan Industri Dirgantara Indonesia

Tuesday, July 26, 2011

Masuk Indonesia, Google Diharap Rangkul Rekan Lokal

Google Doodle 17 Agustus 2009

Jakarta - Jika Google memang berniat untuk berinvestasi lebih lanjut di Indonesia, diharapkan hal itu akan dibarengi dengan upaya merangkul rekanan lokal yang kuat.

Setyanto P Santosa, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) mengakui bahwa perusahaan asing seperti Google atau Research In Motion sering terlihat enggan berinvestasi di Indonesia.

"Saya menyadari bahwa memang kebijak pemerintah tidak friendly terhadap investor luar, belum lagi ketidakpastian Hukum yang juga tidak jelas, stabilitas kebijakan ekonomi yang tidak konsisten, itu discouraging bagi pebisnis luar negeri," ujarnya dalam perbincangan dengan detikINET.

Menurut Setyanto, pemerintah perlu membuka regulasi sesuai dengan ketentutan yang berlaku. "Untuk ownership, diwajibkan ada local partner, misalnya dengan perusahaan Internet Service Provider (ISP) yang sudah beroperasi atau memiliki izin," katanya.

Suhono Harso Supangkat, Kepala Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Institut Teknologi Bandung, juga sepakat bahwa masuknya perusahaan sekelas Google di Indonesia harus dibarengi dampak positif dari sisi produktif.

"Yang jelas jangan hanya menjadi pasar saja. Kita ubah dari masyarakat konsumtif ke masyarakat produktif," ujarnya penuh semangat.

Suhono berharap masuknya Google juga akan dibarengi pengembangan yang bisa melibatkan pelaku di Indonesia. Ini termasuk hal-hal seperti data center atau innovation center.

"Bagian untuk Indonesia tidak mesti cash atau bentuk saham, tapi bikin infrastruktur di Indonesia juga sudah bagian dari share for development," ujarnya.

Penggiat Forum Cloud Indonesia, Teguh Prasetya, mengatakan pemerintah harus menunjukkan keberpihakannya pada masyarakat.

"Hal tersebut tentunya juga harus diterjemahkan menjadi adanya dukungan positif untuk membuka peluang bisnis bagi perusahaan lokal, regional dan bahkan global yang mempunyai maksud berinvestasi di tanah air," kata Teguh.

Sedangkan soal data center, Teguh beranggapan hal ini bisa dijembatani dengan membuka kerjasama dengan penyedia data center atau cloud services yang saat ini sudah ada dan tumbuh di Indonesia.

Adanya data center bagi perusahaan seperti Google atau RIM di Indonesia, menurut Teguh, akan bermanfaat. "Hal ini dimaksudkan demi kelancaran akses para pengguna layanan tersebut dan meminimalisasi penggunaan bandwidth ke luar negeri yang mahal," ia menambahkan.
( wsh / wsh )


detikInet
READ MORE - Masuk Indonesia, Google Diharap Rangkul Rekan Lokal

Friday, July 22, 2011

Tren Mendatang, BTS Makin Ringkas dan Hemat

Pekerja memasang alat Remote Radio Unit (RRU) pada menara Base Transmitter System (BTS)

REPUBLIKA.CO.ID, SHENSHEN
- Menara BTS tak perlu lagi lahan yang luas dan piranti yang rumit. Melalui teknologi terkini - antara lain dikembangkan Huawei melalui singleRAN - BTS hanya perlu ruang kurang dari separuh ukuran saat ini.

"Teknologi terbaru, tak hanya lahan yang dihemat, tapi juga energi dan biaya," kata Dani K Ristandi, deputy director Costumer Solution & Sales Support Division PT Huawei Tech Investment, seperti dilaporkan wartawan Republika.co.id, Siwi Tri Puji B, dari Shenzen, Cina.

Dengan singleRAN, baik teknologi 2G, 3G, dan LTE bisa diintergrasikan dalam satu BTS. "Jadi bisa meringkas jumlah BTS juga," katanya. Teknologi ini, kata Dani, sudah dikembangkan sejak dua tahun lalu dan sudah diadopsi oleh sedikitnya 86 operator seluler di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Terkomsel, misalnya, mulai menerapkannya sejak beberapa waktu lalu. Bahkan, di beberapa BTS, misalnya di Bekasi, hanya menara saja yang terpasang, sedang baseband unit bisa disentralisasi di satu lokasi. "Ditarik melalui jaringan serat optik di kantor Buaran/Simatupang," kata Pratignyo A Budiman, GM Strategic Technology Planning Telkomsel.

Bahkan ke depan, BTS operator terbesar di Indonesia ini tak hanya akan dibuat ringkas tapi juga ramah lingkungan. Salah satu caranya adalah dengan pengaplikasikan teknologi panel surya dan mikrohidro untuk mensuplai tenaga listrik di BTS yang dikelolanya.

"Saat ini sudah ada sebanyak 250 BTS yang suplai dayanya menggunakan tenaga surya tersebut," katanya. BTS tenaga surya ini antara lain berada di Pulau Karimun, Kencana, dan Serawai. Menurutnya, hingga akhir 2011, 300 BTS dipastikan menggunakan panel surya untuk suplai energinya.

Selain itu, beberapa BTS baru yang dikembangkan juga dilengkapi pembangkit listrik mini mikrohidro. "Bahkan, selain digunakan untuk suplai tenaga BTS juga dimanfaatkan untuk penerangan warga sekitarnya," katanya.

Telkomsel juga melakukan terobosan berupa towerless, yaitu BTS tanpa tower. Antena dan modul kecil RRU dipasang di tempat tersembunyi, misalnya menyatu dengan tiang listrik atau menempel di papan reklame, sedang BTS-nya disentralisasi di satu tempat. "Kita menerapkan antara lain di Bali," tambahnya.


Republika
READ MORE - Tren Mendatang, BTS Makin Ringkas dan Hemat

Hemat Daya Signifikan dengan BTS Modern

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA-Ilustrasi

SHENZHEN, KOMPAS.com - Infrastruktur telekomunikasi seluler masa depan membutuhkan daya yang jauh lebih kecil daripada yang dipakai sekarang. Hal itu karena BTS (base transceiver station) modern yang menjadi tulang punggung layanan ini lebih efisien dalam penggunaan energi.

"Telkomsel akan meremajakan seluruh infrastruktur jaringannya dengan teknologi BTS terbaru. Secara bertahap kami menggunakannya mulai tahun ini sebagai bagian dari strategic planning jaringan.
-- Pratignyo Arif Budiman"

Hal tersebut dikatakan Pratignyo Arif Budiman, GM Strategic Technology Planning Telkomsel di sela-sela kunjungan rombongan jurnalis dari Indonesia ke kantor pusat Huawei di Shenzhen, Jumat (22/7/2011).

Ia mengatakan, Telkomsel akan meremajakan seluruh infrastruktur jaringannya dengan teknologi BTS terbaru tersebut. "Secara bertahap kita sudah mulai menggunakannya mulai tahun ini sebagai bagian dari strategic planning jaringan kita," kata Pratignyo.

Peremajaan tersebut dilakukan mulai dari BTS-BTS lama yang sudah waktunya diganti. BTS modern seperti yang didemokan Huawei di Gedung R&D Center Huawai, menggunakan komponen-komponen elektronika terbaru yang membutuhkan daya jauh lebih kecil daripada BTS sebelumnya. Daya yang dibutuhkan BTS dengan teknologi baru bisa 70 persen lebih kecil. (Ambrosius Harto, wartawan KOMPAS melaporkan dari Shenzhen, China)


KOMPAS
READ MORE - Hemat Daya Signifikan dengan BTS Modern

Pertama di Indonesia Kereta dengan Wi-Fi

Kereta api eksekutif Gajayana. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO Interaktif
, Jakarta - Penumpang kereta api yang suka berselancar di dunia maya tak perlu khawatir aktivitasnya akan terhambat jika menggunakan moda transportasi kereta api.

Kini PT. Kereta Api Indonesia menyediakan layanan Wi-Fi di gerbong kereta Argo Anggrek New Image yang mulai beroperasi bulan Agustus 2011. "Jadi, tak perlu khawatir terjadi blank spot," kata Direktur Komersial PT Kereta Api, Sulistyo Wimbo Hardjito, di Stasiun Gambir, Jakarta, Jumat, 22 Juli 2011.

Kereta Argo Bromo Anggrek New Image yang berjalan dari Jakarta-Surabaya-Jakarta ini setiap harinya mengangkut 400 penumpang. Sulistyo mengatakan tidak ada perbedaan harga tiket antara kereta berWi-Fi ini dengan Argo Anggrek biasa yang harga tertingginya mencapai Rp 650 ribu.

Untuk menghadirkan layanan Internet di gerbong kereta ini, PT Kereta Api menggandeng PT. XL Axiata atau dikenal sebagai operator selular XL. Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengatakan ide untuk menyediakan Wi-Fi di kereta ini berasal dari Jepang.

"Di Jepang orang yang naik kereta api jarang yang tidur," kata Hasnul. Selama perjalanan, mereka biasanya menggunakan telepon selular dan laptop untuk melakukan komunikasi melalui Internet.

Selain menyediakan layanan Internet gratis, PT Kereta Api juga memasang colokan listrik di setiap gerbong supaya penumpang bisa mengisi baterai ponsel atau komputer jinjing mereka. Adapun di area stasiun, PT Kereta Api dan XL menempatkan telepon umum gratis.

Saat ini baru enam stasiun kereta yang memiliki telepon umum gratis, yakni Gambir Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Sulistyo menambahkan, kerja-sama yang telah dirintis PT Kereta Api dan XL selama ini antara lain penyedia layanan solusi telekomunikasi dan data bagi PT Kereta Api serta sewa lahan untuk keperluan infrastruktur jaringan.[RINI K]


TEMPOInteraktif
READ MORE - Pertama di Indonesia Kereta dengan Wi-Fi

Thursday, July 14, 2011

AXIS Uji Jaringan di Pulau Jawa

TEMPO Interaktif, Purwokerto - Operator seluler AXIS melakukan uji coba jaringan telekomunikasi di Pulau Jawa menjelang bulan suci Ramadan dan Idul Fitri 1432 H, yang akan dirayakan pada 30 Agustus mendatang.

Uji jaringan dilakukan pada Kamis, 14 Juli 2011, dengan rute Jakarta-Purwokerto-Yogyakarta-Solo-Nganjuk-Mojokerto- Surabaya. Pada kegiatan itu, AXIS memasang perlengkapan yang digunakan untuk mengetahui kualitas jaringan di rute yang dilalui.

Di dalam bus, terdapat layar televisi yang menampilkan rute yang dilalui bus. Dari situ tampak titik-titik posisi Base Transceiver Station (BTS) dan kualitas sinyal beserta data statistiknya.

“Apabila warna yang tertera di sepanjang rute perjalanan berwarna merah berarti sinyalnya bagus, sedangkan warna abu-abu sinyalnya jelek," kata Adrian Sumbara, Network Performance AXIS.

Untuk mengukur kekuatan sinyal, AXIS menggunakan software Tems Investigation. Adapun peralatan yang dibutuhkan antara lain laptop, telepon seluler yang telah berlisensi untuk menjalankan software tadi, dan Global Positioning System (GPS).

Adrian mengatakan ada cara sederhana untuk mengetahui seberapa kuat sinyal yang diterima ponsel. Selain bisa diketahui melalui bar atau batang sinyal yang tampil di halaman utama ponsel, pengguna ponsel pintar BlackBerry dan Android juga bisa mengukur lebih rinci.

Pada ponsel Android, pengguna bisa masuk ke menu Setting-About Phone-Status. Sedangkan pada ponsel Blackberry, caranya dengan membuka menu Option-Status-Sinyal.

Dadan Rahmat, Radio Networking Planning Manager wilayah Jawa Tengah, mengatakan setiap BTS memiliki jangkauan yang berbeda-beda. Apabila BTS itu berdiri di area terbuka, seperti persawahan, maka daya pancarnya mencapai 2-3 kilometer.

Sedangkan BTS yang dipasang di kota-kota besar dengan banyak penghalang, misalnya gedung dan perumahan, maka daya jangkau BTS sekitar 750 meter sampai 1 kilometer. "Itu sebabnya di perkotaan banyak pemancar," katanya.
[RINI KUSTIANI]


TEMPOInteraktif
READ MORE - AXIS Uji Jaringan di Pulau Jawa

Google Ingin Buka Kantor di Indonesia

Indonesia adalah pengguna Internet dengan pertumbuhan tercepat. Ini adalah peluang.

Google (Co.Design via Curbed.com)

VIVAnews
- Raksasa mesin pencari data internet, Google, mengaku senang jika dimungkinkan membuka kantor di Indonesia. Ini adalah reaksi dari Google ketika Facebook sebelumnya juga menyatakan akan mempertimbangkan untuk membuka kantor di Indonesia.

"Saya akan senang jika bisa membuka kantor di Indonesia," kata JAPAC Director, Strategic Business Development Google, Michele Guthrie, dalam presentasinya pada Konferensi IDBYTE 2011, di Ballroom Hotel Ritzcarlton, Jakarta, Kamis, 14 Juli 2011.

Pertimbangan ini merupakan jawaban dari salah satu peserta konferensi yang menanyakan kemungkinan Google akan membuka kantornya di Indonesia yang sebelumnya juga ditanyakan kepada Javier Olivian, Head of International Growth Facebook -- yang memiliki alasan Indonesia adalah pengguna Facebook terbesar kedua di dunia dan pertumbuhan pengguna Internet tercepat di Dunia.

"Indonesia adalah pengguna Internet dengan pertumbuhan tercepat dan ini adalah peluang tersendiri bagi kami," ungkap Guthrie.

Memang sebelumnya, lanjut Guthrie, Google juga bekerjasama secara business to business dengan beberapa perusahaan di Indonesia, namun Ia berharap kerjasama yang lebih banyak lagi dengan perusahaan-perusahaan asal Indonesia.

"Kami sangat mencoba dengan keras untuk bekerjasama dengan Indonesia, meskipun belum," pungkasnya. (sj)



VIVAnews
READ MORE - Google Ingin Buka Kantor di Indonesia

Alasan Facebook Belum Bangun Kantor di Indonesia

Facebook CEO, Mark Zuckerberg. AP Photo/Paul Sakuma

TEMPO Interaktif
, Jakarta - Situs layanan jejaring sosial terbesar di dunia, Facebook, belum berencana mendirikan kantor di Indonesia. Padahal, Indonesia menduduki posisi kedua dalam jumlah pengguna Facebook di dunia.

Menurut Kepala Pertumbuhan Internasional Facebook, Javier Olivan, Indonesia masih ketinggalan dalam hal pengembangan produk yang dipasarkan melalui Facebook. Inilah yang membuat Facebook belum merasa perlu membuat kantor di Indonesia. "Jumlah 40 juta pengguna belum berarti ladang bisnis yang baik bagi perusahaan," kata Javier Olivan dalam konferensi IdByte di Pacific Place, Jakarta, Kamis 14 Juli 2011.

Namun, kata Javier, Indonesia masih memiliki ruang untuk berkembang. "Kami ingin memperluas jaringan ini," ujarnya. Agar tujuan itu tercapai, Facebook akan mendirikan kantor di salah satu pusat perekonomian Asia Tenggara, yaitu Singapura. Negeri jiran itu akan menambah jumlah kantor internasional Facebook yang saat ini telah berdiri di 17 negara di dunia.

Facebook diluncurkan sejak tahun 2004 oleh Mark Zuckerberg. Selama 7 tahun, pengguna Facebook berkembang hingga 750 juta. Jumlah pengguna situs Facebook asal Indonesia sendiri hanya kalah dari negara asal Facebook, yaitu Amerika Serikat.

Meski menjadi situs jejaring sosial terbesar di dunia, Facebook terus mengembangkan diri. Baru-baru ini mereka menambah fitur video chat dengan menggandeng Skype. Dalam beberapa hari belakangan sejumlah media teknologi dan gadget juga mengungkap Facebook kemungkinan akan menambah fitur baru lagi: layanan musik. [ANTON WILLIAM]



TEMPOInteraktif
READ MORE - Alasan Facebook Belum Bangun Kantor di Indonesia

Blog Archive