Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Showing posts with label Fauna. Show all posts
Showing posts with label Fauna. Show all posts

Monday, September 19, 2011

Orangutan Ini Diduga Derita "Down Syndrome"


COP-BKSDA
Jimmy, Orangutan berusia 3 tahun yang diduga menderita Down Syndrome. Orangutan ini ditemukan oleh BKSDA dan COP Muara Wahau Kalimantan Timur.

KOMPAS.com - Dalam proses evakuasi, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Center for Orangutan Protection (COP) dari Muara Wahau, Kalimantan Timur menemukan seekor orangutan yang diduga menderita Down Syndrom, sejenis kelainan genetik yang juga bisa diderita manusia.

"Orangutan itu memiliki kepala yang relatif kecil, seperti manusia yang menderita Down Syndrome. Tangan dan kakinya juga agak bengkok tapi masih bisa berjalan. Dari perilakunya juga tampak bahwa orangutan ini lebih pasif," kata Fian Khairunisa, Area Manager COP Kalimantan Timur.

Ciri-ciri lain yang memperkuat dugaan Down Syndrome adalah bagian anteroposterior yang tampak mendatar, sela hidung pada wajah yang juga datar, mulut yang mengecil dan lidah menonjol (macroglossia) serta mata sipit dengan bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds).

"Sejauh ini masih dugaan. Kami sudah menunjukkan foto orangutan ini pada ahli primata di Perth Zoo. Harus dicek apakah benar orangutan ini menderita retardasi, tapi diduga kuat memang demikian," lanjut Fian ketika dihubungi Kompas.com siang ini (19/9/2011).

Orangutan memang memiliki 97 persen DNA yang identik dengan manusia sehingga beberapa penyakit yang diderita manusia juga bisa diderita orangutan. Kasus Down Syndrome para orangutan sendiri belum pernah ditemukan, jadi penemuan ini adalah kasus pertama.

Jimmy, demikian orangutan berusia sekitar 3 tahun yang diduga menderita Down Syndrome ini disebut, kini tengah menjalani perawatan di fasilitas BKSDA di Tenggarong Kalimantan Timur. "Kami berharap ada ahli atau dokter hewan yang mau meneliti orangutan ini," pungkas Fian.


• KOMPAS
READ MORE - Orangutan Ini Diduga Derita "Down Syndrome"

Friday, September 9, 2011

Stop! Perdagangan Tengkorak Orangutan

SETIAWAN Aktivis Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar aksi unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (15/7/2010). Mereka mendesak pemerintah turut bertanggung jawab dalam usaha penyelamatan orangutan dari ancaman kepunahan.[KOMPAS IMAGES/DHONI]

JAKARTA, KOMPAS.com - Centre for Orangutan Protection (COP) mendesak aparat penegak hukum segera menghentikan perdagangan tengkorak orangutan. Sesuai dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, perdagangan bagian tubuh satwa yang dilindungi seperti orangutan merupakan perbuatan terlarang.

Desakan tersebut disampaikan COP melalui siaran pers yang diterima Kompas.com, Kamis (8/9/2011). Menurut Orangutan Campaigner dari COP Daniek Hendarto, perdagangan tengkorak orangutan masih terjadi di toko-toko cenderamata di Pontianak, Kalimantan Barat, Palangkaraya Kalimantan Tengah, dan Balikpapan Kalimantan Timur.

"Meskipun tidak dipajang terbuka seperti tengkorak monyet, namun pembeli akan sangat dengan mudah mendapatkan tengkorak orangutan jika bertanya kepada pedagang," tulis Daniek.

Daniek menjelaskan, setiap tengkorak orangutan, dijual dengan harga Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. Mahalnya harga tengkorak orangutan itu, membuat para pedagang gencar memburu bagian tubuh hewan mamalia tersebut.

Melihat kondisi tersebut, COP mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementerian Kehutanan untuk proaktif menggelar operasi penegakkan hukum di toko-toko souvenir yang menjual produk awetan dan tulang belulang satwa liar tersebut.

Selain itu, perusahaan perkebunan kelapa sawit sebaiknya membangun sistem dan menjalankan pengamanan yang memadai di kawasan konservasi yang berada di areal konsesinya, serta membantu BKSDA untuk menangkap para pekerjanya yang terbukti membunuh orangutan.

Sebab, menurut COP, para pekerja kelapa sawit dan mayarakat sekitar perkebunan biasanya menjadi pemasok tengkorak orangutan untuk pedagang. Selama Agustus 2011, COP menemukan empat tengkorak orangutan yang tewas di kawasan perkebunan kelapa sawit di Danau Sembuluh, Kalimantan Tengah. Serta, satu bangkai orangutan yang baru saja dikubur di sebuah perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur.

Masyarakat sekitar perkebunan biasa menembak orangutan yang terjebak di hutan-hutan konservasi. "Orangutan yang terjebak di hutan yang dialokasikan untuk konservasi akan sangat mudah ditembak," tulis Daniek pula.

Setelah tertembak, bangkai orangutan yang mati biasanya dibiarkan hingga menjadi tengkorak. "Mereka akan kembali (ke hutan konservasi) untuk mengambil tengkoraknya," kutip Daniek.

Demikian juga yang dilakukan para pekerja kelapa sawit. "Kelapa sawit yang membunuh orangutan kemudian menguburnya. Kuburan akan dibongkar dan diambil tengkoraknya jika ada pembelinya," tulisnya.


• KOMPAS
READ MORE - Stop! Perdagangan Tengkorak Orangutan

Saturday, August 27, 2011

Inilah Monster "Garuda" dari Sulawesi

KOMPAS.com — Ahli serangga dari University of California menemukan spesies baru tawon dalam ekspedisi ke Sulawesi. Tawon tersebut dijuluki tawon monster sebab penampakannya yang menakutkan, memiliki mandibula bak ninja dan rahang yang lebih panjang dari kaki depannya.

"Rahang hewan ini begitu besar sehingga menutup bagian samping kepala. Jika rahang terbuka, akan tampak lebih panjang dari kaki depan tawon jantan ini," ungkap ahli serangga Lim Kimsey, seperti dikutip Daily Mail, Kamis (25/8/2011).

Kimsey yang juga kepala Bohart Museum of Entomology mengatakan bahwa ia berencana memberi nama tawon tersebut "garuda", sesuai lambang Indonesia. Ia mengatakan, tawon ini cenderung memilih untuk memakan serangga lain. Namun, jika terancam, tawon ini juga bisa menyerang manusia.

Tawon ini ditemukan di pegunungan Mekongga. Menurut Kim, kawasan Mekongga dan Sulawesi pada umumnya memiliki keanekaragaman yang besar. Ia mengatakan, selama tiga kali perjalanan ke Sulawesi, ratusan spesies mungkin bisa dikatalogkan.

Kimsey mengatakan, di Sulawesi, banyak ditemukan spesies langka dan belum pernah dilihat di belahan dunia lain. Ia berharap penemuan spesies tawon ini bisa menggugah kesadaran warga masyarakat terhadap perlunya melestarikan biodiversitas di kawasan itu.



• KOMPAS
READ MORE - Inilah Monster "Garuda" dari Sulawesi

Friday, August 5, 2011

Ilmuwan IPB Rekayasa Genetik Ikan Betok


Sir Francis Day
Ikan betok.

KOMPAS.com - Ikan betok (Anabas testudineus) yang hidup di air tawar mulai langka. Pemangsa serangga yang juga menjadi musuh alami wereng ini makin susah ditemukan dalam ukuran besar. Untuk itu, peneliti di Institut Pertanian Bogor merekayasa ikan ini secara transgenik agar lebih cepat berkembang biak.

"Ikan betok liar di Kalimantan, misalnya, semula bisa didapat sampai berbobot 250 gram. Kini yang ada berbobot 70-100 gram per ekor dengan harga Rp 40.000- Rp 70.000 per kilogram," kata pengajar dan peneliti Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Alimuddin, Rabu (3/8/2011) di Bogor.

Dengan rekayasa genetik, ditargetkan nantinya bisa didapatkan ikan betok berbobot 250 gram per ekor pada umur setahun. Saat ini, penelitian baru tahap memasukkan hormon pertumbuhan ikan yang lebih besar ke sperma ikan betok.

Menurut ahli biologi Hari Sutrisno dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ikan betok sebenarnya musuh alami hama wereng batang coklat yang kini merebak tak terkendali. Ikan betok bisa meloncat untuk memangsa serangga-serangga yang ada di dedaunan tanaman padi.

Ikan betok dikenal sebagai ikan bethik di Jawa. Dalam bahasa Melayu dikenal sebagai ikan puyu. Di wilayah perairan rawa Kalimantan Selatan, ikan betok dikenal sebagai ikan pepuyu dalam bahasa Banjar. Ikan betok memiliki kemampuan merambat di tanah basah dalam waktu yang relatif singkat sehingga disebut pula sebagai climbing gouramy atau climbing perch.(Nawa Tunggal)


• KOMPAS
READ MORE - Ilmuwan IPB Rekayasa Genetik Ikan Betok

Thursday, July 28, 2011

Keragaman Spesies Mekongga Memukau Dunia


LIPI Sejumlah fauna eksotis yang ditemukan di Pegunungan Mekongga, Sulawesi Tenggara.

KENDARI, KOMPAS.com — Tim peneliti dari University of California-Davis, Amerika Serikat, terpukau dengan beragamnya keanekaragaman hayati yang mereka temukan di Pegunungan Mekongga, Sulawesi Tenggara. Dari hasil penelitian sementara, tim tersebut menyimpulkan bahwa Pegunungan Mekongga merupakan salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia.

"Selama penelitian di Mekongga, kami menyaksikan keanekaragaman (hayati) yang luar biasa," kata Professor Lynn Kimsey, Sabtu (23/7/2011). Lynn merupakan salah satu ahli entomologi (serangga) yang selama sebulan terakhir melakukan penelitian bersama tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Pegunungan Mekongga.

Lynn menambahkan, selama meneliti di pegunungan yang terletak di Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara, Sultra, itu ia berhasil mengumpulkan 100.000 sampel serangga. Dari jumlah itu, Lynn memprediksi separuhnya merupakan jenis baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya.

Direktur Bohart Museum UC-Davis tersebut juga menambahkan, dibandingkan beberapa tempat yang pernah ditelitinya, seperti Cile, Panama, Papua, dan Australia, serangga-serangga yang ditemukan di Mekongga memiliki karakter unik. "Misalnya, kami menemukan lebah raksasa terbesar di dunia (sepanjang 4 cm) yang tak ditemukan di tempat lain," ujarnya.

Selama sebulan terakhir, tim gabungan LIPI dan UC-Davis ini melakukan penelitian lanjutan di Pegunungan Mekongga dalam kerangka International Cooperative Biodiversity Group-Indonesia yang telah berlangsung sejak 2009. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendata keanekaragaman hayati Pegunungan Mekongga dan melihat prospek flora dan fauna yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan, sumber energi, ataupun penanganan hama penyakit.

Selain Lynn, terdapat dua ahli lainnya dari UC-Davis, yakni Bob Kimsey (entomologi) dan Alan Thomas Hitch (ekologi vertebrata). Adapun tim dari LIPI terdiri dari 18 ahli flora dan fauna, seperti ahli mamalia, tumbuhan, reptil, burung, dan ikan, yang salah satu pemimpin timnya adalah ahli botani LIPI, Elizabeth A Widjaja.


• KOMPAS
READ MORE - Keragaman Spesies Mekongga Memukau Dunia

Saturday, July 16, 2011

Katak Punah Ditemukan Lagi di Kalimantan

INILAH.COM, Jakarta - Katak pelangi yang badannya warna-warni seperti pelangi, yang diyakini sudah punah, ternyata masih ada di Kalimantan.

Selama 90 tahun belakangan, katak pelangi sudah tidak pernah kelihatan ada di bumi. Namun, seperti dikutip dari BBC, Dr. Indraneil Das, ilmuwan Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), terus melakukan pencarian spesies tersebut di Gunung Penrissen, Sarawak Barat, yakni kawasan perbatasan antara Sarawak, Malaysia dengan Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Ia terkejut ketika pada suatu malam ia melihat katak yang dicarinya tengah memanjat pohon.

Tim ilmuwan ini menghabiskan waktu berbulan-bulan menjelajahi hutan pegunungan terpencil di kawasan itu untuk menemukan spesies ini. Sebelumnya pada 2010, Dr. Robin Moore dari Conservation International, lembaga pemerhati lingkungan, telah merilis daftar hewan amfibi dunia yang telah punah. Daftar itu menyebutkan katak pelangi ini sebagai salah satu dari 10 katak yang paling dicari di dunia.

"Keinginan untuk menemukan katak ini, dan pentingnya keberadaan amfibi dalam sebuah ekosistem yang sehat, telah mendorong kami untuk terus melakukan pencarian," ujar Dr. Das.

Dr. Moore, mengaku gembira atas penemuan ini, "Alam mengejutkan kita saat kita kehilangan harapan, terutama saat sekarang ini banyak jumlah spesies hewan bumi yang telah punah.”


• Inilah
READ MORE - Katak Punah Ditemukan Lagi di Kalimantan

Blog Archive