Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Monday, June 13, 2011

Jumlah Operator Selular di Indonesia Terlalu Banyak

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ada banyak perusahaan operator selular yang memberikan layanan telekomunikasi di Indonesia. Sebut saja Telkom Indonesia, Indosat, XL Axiata, Smartfren, Bakrie Telecom, Natrindo Telepon Seluler (AXIS), dan Hutchison (3).

Vice President Qualcomm dan President Qualcomm Southeast Asia Pasific, John Stefanac mengatakan banyaknya perusahaan operator selular itu tentu membuat masyarakat bebas memilih mana yang sesuai keinginan mereka dan membuat harga lebih kompetitif. "Tapi saya tidak sependapat dengan itu," kata Stefanac di Jakarta hari ini, Senin (13/6).

Menurut dia banyaknya jumlah penyedia layanan telekomunikasi juga membawa sisi negatif. Akibat banyaknya perusahaan yang memberikan jasa telekomunikasi, maka setiap operator akan mendapatkan spektrum jaringan yang kecil karena harus berbagi dengan yang lain. "Ini salah satu penyebab rendahnya kualitas jaringan," katanya.

Menurut dia, idealnya di sebuah negara ada tiga sampai empat operator saja. Di Australia misalnya terdapat tiga operator sementara di Amerika Serikat ada tiga operator selular besar.

Supaya layanan atau konektivitas Internet bisa lebih kencang, Stefanac berpendapat sebaiknya sejumlah operator selular berkolaborasi satu dengan lainnya. Dengan bergabungnya dua atau lebih perusahaan selular maka kapasitas jaringan bisa lebih besar. "Otomatis mereka akan mendapatkan pelanggan lebih banyak karena jaringannya bagus," ujarnya.

Dia menambahkan, Indonesia juga belum memaksimalkan jaringan 3G. Salah satu cara untuk mengoptimasinya adalah dengan membangun lebih banyak Base Transceiver Station (BTS) berbasis 3G di berbagai wilayah.

Dari 60 juta pengguna Internet di Indonesia, 95 persennya mengakses Internet melalui jaringan nirkabel (wireless). Menurut Ketua Masyarakat Telematika, Setyanto P Santosa, ini juga menjadi salah satu pemicu lambannya koneksi Internet. Setyanto mengatakan idealnya jumlah pengguna wireless hanya 60 persen, sedangkan sisanya mengakses Internet melalui fix line atau kabel.[RINI K]


TEMPOInteraktif

Blog Archive